Sumba Barat Daya, SenayanTalks – Harapan masyarakat Desa Mata Kapore, Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, untuk memiliki jembatan layak akhirnya terwujud. Melalui kolaborasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Vertical Rescue Indonesia, para donatur yang digalang oleh Rachmansyah Cong, serta dukungan berbagai pihak, jembatan gantung Hasan Hasanuddin resmi diresmikan pada Minggu (31/8/2025).
Peresmian jembatan yang menghubungkan Desa Mata Kapore, Milla Ate, dan Denduka ini dihadiri langsung Bupati Sumba Barat Daya Ratu Ngadu Bonu Wulla dan Wakil Bupati Dominikus Alphawan Rangga Kaka. Ratu Wulla menyebut jembatan baru ini akan membawa dampak besar bagi perekonomian dan akses layanan dasar warga.
“Hadirnya jembatan gantung ini sangat membantu, mengingat kondisi masyarakat di daerah ini yang masih tertinggal. Dengan adanya jembatan ini, diharapkan bisa membangun perekonomian dan mempermudah masyarakat untuk menjual hasil bumi dan transportasi,” ujarnya.

Buka akses
Desa Mata Kapore memiliki 378 KK dengan jumlah penduduk 1.881 jiwa. Selama bertahun-tahun, warga hanya mengandalkan jembatan bambu darurat yang kerap hanyut saat banjir. Sungai selebar 30–40 meter itu menjadi hambatan utama untuk menjual hasil kebun ke pasar mingguan, mengakses layanan kesehatan, hingga menuju sekolah.
Keterbatasan akses transportasi ini turut berdampak pada tingginya angka stunting dan rendahnya layanan kesehatan di wilayah tersebut.
Mariana Noda Ngara, putri asli Sumba Barat Daya sekaligus penggerak perubahan di daerahnya, menjadi sosok yang memperjuangkan pembangunan jembatan. Ia pernah kehilangan ayahnya karena sulitnya akses ke fasilitas kesehatan.
“Jembatan ini bukan hanya soal akses jalan, tetapi tentang menyelamatkan nyawa dan membuka peluang hidup yang lebih baik bagi masyarakat,” ungkap Mariana.
Keinginan Mariana diwujudkan setelah ia tampil dalam program Mimpi Jadi Nyata DAAI TV, yang mempertemukannya dengan Rachmansyah Cong, Direktur Gaya Makmur Tractor. Rachmansyah kemudian menggalang donasi untuk pembangunan jembatan.
Vertical Rescue Indonesia bertindak sebagai koordinator teknis. Komandan Vertical Rescue Tedi Ixdiana mengatakan jembatan ini adalah bukti nyata kerja sama banyak pihak.
“Kami percaya, infrastruktur kemanusiaan harus sampai ke daerah yang paling sulit dijangkau. Jembatan Mata Kapore ini adalah bukti nyata bahwa kerja bersama bisa mengubah keterisolasian menjadi keterhubungan,” ujarnya.
Jembatan ini dibangun dengan konstruksi yang diperkirakan bisa bertahan minimal 15 tahun, bahkan hingga 20 tahun dengan perawatan yang baik.

Simbol gotong royong
Kepala Desa Mata Kapore Oktavianus Umbu Halato Tana menyebut jembatan ini akan menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang.
“Dengan adanya akses yang lebih mudah, warga bisa lebih cepat ke sekolah, ke pasar, dan terutama ke fasilitas kesehatan,” ujarnya.
DAAI TV juga berperan penting dalam mewujudkan proyek ini. Paulus Florianus, penanggung jawab program DAAI TV, menegaskan media bisa berperan bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menggerakkan masyarakat untuk peduli.
Sementara itu, perwakilan BRIN Prof Alie Humaidi menekankan bahwa pembangunan berbasis riset harus memberi dampak nyata.
“Saya sangat bahagia hasil penelitian BRIN bisa diwujudkan menjadi jembatan yang membawa manfaat luas bagi masyarakat,” katanya.
Selain meningkatkan mobilitas warga, jembatan Hasan Hasanuddin diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, mengurangi angka stunting, serta memperluas akses pendidikan dan kesehatan. Jembatan ini juga diyakini dapat membuka potensi pasar di Waetombo dan Waewula, serta memperkuat solidaritas masyarakat Indonesia Timur.
Dengan semangat gotong royong, jembatan Hasan Hasanuddin kini menjadi simbol kepedulian dan persatuan yang nyata bagi masyarakat Sumba Barat Daya.

Baca juga :



