Singapura, SenayanTalks – Wakil Menteri Perdagangan Republik Indonesia Dyah Roro Esti Widya Putri mendorong pelaku usaha, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), untuk aktif memanfaatkan peluang globalisasi dan terlibat dalam rantai nilai global. Hal ini disampaikan Roro saat menjadi pembicara dalam Milken Institute Asia Summit 2025 bertema “Can Globalization Be Great Again? Doing Business in a Changing World” di Singapura, Kamis (2/10).
Menurut Roro, perdagangan merupakan bagian penting dari globalisasi dan menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi dunia. Meski dinamika geopolitik mengarah ke multipolaritas, Indonesia tetap konsisten membuka diri dan menjalin kerja sama internasional sesuai prinsip politik luar negeri.
“Globalisasi adalah esensi keterhubungan antarnegara. Indonesia terus memperluas akses pasar melalui perjanjian dagang seperti Indonesia–Uni Eropa CEPA, Indonesia–Kanada CEPA, dan Indonesia–Peru CEPA, serta menjajaki pasar nontradisional di Afrika seperti Tunisia dan Mozambik,” ujar Roro.
Roro menegaskan, pemerintah terus menghadirkan berbagai kesempatan agar pelaku usaha dalam negeri dapat berkembang sekaligus terlindungi dari dampak negatif globalisasi. Salah satu fokus utama adalah hilirisasi di sektor industri, perkebunan, dan perikanan, yang mampu menciptakan efek berganda berupa lapangan kerja, transfer pengetahuan, dan teknologi.
Ia juga mendorong pelaku usaha untuk berinovasi dan memenuhi standar internasional dalam perdagangan barang, sehingga iklim usaha di Indonesia semakin kondusif bagi investasi.
Selain itu, pemerintah memperluas perdagangan jasa di berbagai sektor seperti ritel, e-commerce, logistik, keperawatan, perbankan, pariwisata, kuliner, desain, fesyen, dan konstruksi. Diversifikasi ini memastikan ekonomi nasional tidak hanya bergantung pada ekspor barang.
“Kunci keberhasilan menghadapi persaingan global adalah menjaga produktivitas. Indonesia harus memaksimalkan perjanjian perdagangan bebas yang ada dan mendorong keterlibatan sektor swasta agar manfaatnya optimal,” tambahnya.
Penggerak ekonomi global
Wamendag juga menyoroti peran besar UMKM yang menyumbang lebih dari 60% PDB nasional, dengan 64% di antaranya dikelola oleh perempuan. Menurutnya, pemberdayaan UMKM akan menjadi strategi penting untuk memperkuat posisi Indonesia di pasar internasional.
“Globalisasi bukan hanya soal peluang, tetapi juga tentang memperkuat ketahanan, daya saing, dan kepemimpinan Indonesia di panggung global. Tantangan ke depan adalah memberdayakan bisnis lokal agar produk Indonesia semakin dikenal di pasar dunia,” jelasnya.
Indonesia kini telah menandatangani 24 perjanjian perdagangan (PTA, FTA, dan CEPA) dengan 30 negara di enam kawasan. Hingga kini, 68,05% ekspor Indonesia ditujukan ke negara-negara mitra FTA, sementara 73,50% impor berasal dari mitra FTA. Secara kolektif, FTA Indonesia mewakili 34,54% impor global, 26,68% PDB global, dan 47,56% populasi dunia.
Selain itu, Indonesia juga aktif berpartisipasi dalam forum perdagangan internasional seperti Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) untuk memperkuat posisi dan kepentingan nasional dalam tata ekonomi global.
Acara Milken Institute Asia Summit 2025 turut menghadirkan sejumlah pembicara terkemuka seperti Presiden Investasi NAVER Namsun Kim, Presiden Regional FedEx Asia Pasifik Kawal Preet, dan CEO Unilever Internasional Aseem Puri.

Baca juga :



