Jakarta, SenayanTalks — PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel mencatat kinerja positif hingga Kuartal III 2025 sekaligus memperkuat komitmennya terhadap praktik pertambangan berkelanjutan. Perusahaan yang beroperasi di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara ini terus menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Salah satu langkah penting Harita Nickel adalah menjadi perusahaan pertama di Indonesia yang menjalani audit penuh Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA) — standar global paling ketat di sektor pertambangan. Audit ini mencakup lebih dari 30.000 pekerja dan kontraktor, menjadikannya audit IRMA dengan cakupan tenaga kerja terbesar di dunia.
“Kombinasi antara penerapan standar keberlanjutan global dan kinerja finansial yang solid mencerminkan konsistensi kami dalam menumbuhkan nilai ekonomi sekaligus menjaga keseimbangan sosial dan lingkungan,” ujar Lukito Gozali, Head of Investor Relations Harita Nickel.
Dalam upaya mendukung transisi energi bersih, Harita Nickel tengah mempercepat pemasangan panel surya berkapasitas 40 MWp di Pulau Obi. Hingga Oktober 2025, progres konstruksi mencapai 38%, dengan instalasi di area tempat tinggal karyawan dan fasilitas produksi. Proyek ini diharapkan mampu mengurangi emisi karbon sekaligus meningkatkan efisiensi energi di kawasan industri nikel.
Harita Nickel juga mengoperasikan fasilitas pengelolaan sampah terpadu (TPST) di permukiman baru Desa Kawasi. Fasilitas ini mampu mengolah 1,8 ton sampah per hari menjadi kompos dan bahan daur ulang. Selain itu, perusahaan membangun zona ekonomi baru dengan lebih dari 20 kios masyarakat yang membuka peluang usaha dan memperkuat kemandirian ekonomi warga.
Kinerja keuangan tetap solid
Dari sisi operasional, Harita Nickel membukukan pendapatan sebesar Rp22,40 triliun hingga Kuartal III 2025. Pencapaian ini didukung efisiensi produksi dan optimalisasi dua fasilitas utama perusahaan, yaitu High Pressure Acid Leach (HPAL) dan Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF), yang beroperasi stabil di Pulau Obi.
Perusahaan juga melanjutkan pembangunan fasilitas RKEF ke-3 (KPS) dengan kapasitas hingga 185.000 ton kandungan nikel dalam feronikel per tahun. Progres pembangunan fase kedua telah mencapai 91%, sementara fase ketiga 44%. Smelter baru ini akan memperkuat hilirisasi industri nikel nasional dan daya saing global perusahaan.
“Dengan keseimbangan antara kinerja finansial, tata kelola yang kuat, serta kepedulian sosial dan lingkungan, Harita Nickel menegaskan perannya sebagai perusahaan tambang berkelanjutan yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan masa depan industri nikel Indonesia,” tutup Lukito.

Baca juga :



