Jakarta, SenayanTalks — Upaya menjaga produksi minyak dan gas bumi (migas) dari lapangan tua semakin menjadi tantangan bagi banyak negara. Namun, sebagian negara telah menunjukkan bahwa produksi dari lapangan mature tetap bisa dipertahankan melalui reformasi fiskal yang tepat.
Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, menilai Brasil dan Malaysia layak menjadi rujukan bagi Indonesia dalam merumuskan langkah strategis mengatasi penurunan produksi migas nasional.
Komaidi menjelaskan bahwa Brasil berhasil mempertahankan bahkan meningkatkan produksi migasnya berkat serangkaian insentif fiskal yang komprehensif. Negara itu menurunkan royalti hingga lima persen untuk lapangan tua, mempercepat depresiasi aset, memberikan insentif untuk proyek Enhanced Oil Recovery (EOR), serta membuka peluang mekanisme rebid bagi lapangan yang telah lama beroperasi.
“Kebijakan tersebut terbukti efektif. Brasil berhasil masuk jajaran lima besar produsen migas dunia pada 2023 dengan pertumbuhan produksi rata-rata 3,8 persen per tahun selama satu dekade terakhir,” ujar Komaidi.
Sementara itu, Malaysia menempuh pendekatan berbeda dengan mengembangkan sistem kontrak migas yang lebih beragam sejak 2008. Pemerintah setempat memperkenalkan berbagai skema Production Sharing Contract (PSC) yang disesuaikan dengan karakter masing-masing lapangan, terutama lapangan tua yang memerlukan perlakuan fiskal lebih fleksibel.
Kontrak seperti Risk Service Contracts (RSC), PSC Late Life Assets (LLA), dan PSC Small Field Assets (SFA) dirancang untuk memberikan kepastian pengembalian investasi bagi kontraktor.

“Hasilnya, produksi minyak Malaysia tetap stabil di atas 500 ribu barel per hari sejak tahun 2000, sebuah capaian yang tidak mudah bagi negara dengan dominasi lapangan mature,” kata Komaidi.
Menurutnya, pengalaman Brasil dan Malaysia menunjukkan bahwa keberhasilan mempertahankan produksi tidak lepas dari keberanian pemerintah memberikan insentif fiskal yang memadai. Ia menegaskan bahwa bagi Indonesia, kebijakan serupa bukan lagi sekadar opsi tambahan, melainkan kebutuhan mendesak jika ingin mencegah penurunan produksi yang lebih tajam.
“Insentif fiskal menjadi kunci untuk meningkatkan atau mempertahankan produksi migas dari lapangan mature field yang keekonomiannya terus menurun,” tegasnya.
Komaidi menambahkan bahwa tanpa insentif, banyak lapangan tua berisiko tidak lagi memenuhi batas keekonomian minimal. Kondisi itu dapat mendorong kontraktor menghentikan operasinya dan mengakibatkan potensi produksi hilang.
Ia menilai Indonesia perlu belajar dari negara-negara yang sudah terbukti berhasil menjaga keberlanjutan produksi migas mereka melalui instrumen fiskal yang adaptif dan berpihak pada investasi jangka panjang.
Baca juga :



