Search
Close this search box.

Pasok Emas ke Antam, Merdeka Copper Gold Andalkan Produksi Tambang Pani

PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) berkomitmen menyuplai gabungan produksi emas dari Proyek Pani dan Proyek Tujuh Bukit (BSI) kepada Antam. (FOTO: MDKA)

Jakarta, SenayanTalks – Emiten pertambangan logam Grup Merdeka, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), resmi menjalin kerja sama strategis dengan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) untuk penjualan emas hasil produksi perseroan. Langkah ini dilakukan seiring dengan dimulainya produksi perdana di Tambang Emas Pani, Gorontalo, pada Februari 2026.

Head of Corporate Communication PT Merdeka Copper Gold Tbk, Tom Malik, mengungkapkan bahwa kesepakatan penjualan (offtake) tersebut telah ditandatangani pada akhir Maret lalu. Dalam kontrak ini, MDKA berkomitmen menyuplai gabungan produksi emas dari Proyek Pani dan Proyek Tujuh Bukit (BSI) kepada Antam.

“Kontrak dengan Antam itu totalnya 3 ton emas per tahun, tapi kita punya opsi untuk menambah hingga menjadi 6 ton. Penjualan pertama sudah dilakukan akhir Maret kemarin,” ujar Tom Malik saat memberikan penjelasan kepada media.

Volume 3 ton emas tersebut setara dengan hampir 100.000 ounces (oz). Jumlah ini mencakup sekitar separuh dari target total produksi emas MDKA tahun ini yang dipatok di angka 200.000 hingga 220.000 oz.

Produksi Pani Dorong Kenaikan Target

Tom menjelaskan bahwa lonjakan target produksi tahun ini didorong oleh kontribusi Pani Gold Project. Meski belum beroperasi penuh selama satu tahun kalender (non-full year production), Proyek Pani diproyeksikan menyumbang sekitar 100.000 hingga 115.000 oz emas pada tahun pertamanya.

“Dengan mulainya Pani, produksi tahun ini melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan realisasi tahun lalu yang berada di kisaran 110.000 oz,” kata Tom.

MDKA juga mempercepat pengembangan fase Carbon-in-Leach (CIL) di Proyek Pani. Kapasitas pengolahan yang semula direncanakan bertahap, kini langsung dimaksimalkan menjadi 12 juta ton per tahun mulai Januari ini. Dengan akselerasi tersebut, MDKA menargetkan produksi optimal Pani bisa menyentuh angka 500.000 oz per tahun di masa mendatang.

Fokus Efisiensi di Tengah Kenaikan Harga

Terkait teknis kerja sama, Tom menyebutkan bahwa sebelumnya MDKA hanya menggunakan jasa pemurnian di PT Logam Mulia (Antam) untuk kemudian menjual hasilnya secara mandiri, termasuk ekspor. Namun, mulai tahun ini, hasil produksi tersebut langsung diserap oleh Antam dalam bentuk domestik.

Meski harga emas dunia sedang melambung, Tom menegaskan perusahaan tetap fokus pada strategi efisiensi biaya operasional (cost control). Hal ini penting untuk menjaga margin keuntungan dari tekanan kenaikan harga bahan bakar dan royalti.

“Sebagai perusahaan tambang, kita adalah price taker. Karena harga tidak bisa kita kontrol, maka fokus utama adalah bagaimana menekan biaya seefisien mungkin agar margin tetap aman,” tuturnya.

Tantangan Tambang Bawah Tanah

Selain Proyek Pani, Tom juga memberikan pembaruan terkait pengembangan tambang bawah tanah (underground) di Proyek Tujuh Bukit, Banyuwangi. Saat ini, MDKA telah membangun terowongan eksplorasi sejauh 2 kilometer.

Namun, ia mengakui adanya tantangan teknis yang cukup kompleks, terutama rembesan air laut mengingat lokasi tambang yang berada di pesisir.

“Underground itu kompleks. Salah satu tantangannya adalah posisi kita di tepi laut, sehingga rembesan air laut cukup tinggi dan itu butuh solusi teknis yang tepat,” pungkas Tom.

Untuk mendukung operasional yang ramah lingkungan, Tom memastikan seluruh kebutuhan listrik di Proyek Pani maupun Banyuwangi dipasok oleh PLN dengan menggunakan Certificate Renewable Energy (REC).

Baca juga :

Artikel Terkait

Berita Sebelumnya