Probolinggo, SenayanTalks — Implementasi Program Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 7 di Kota Probolinggo, Provinsi Jawa Timur, terus diupayakan berjalan maksimal dengan memastikan lulusannya bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Guna mendukung itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Probolinggo juga tidak hanya fokus pada pendidikan anak-anak, namun juga melakukan pemberdayaan keluarga sebagai strategi terpadu dalam mempercepat pengentasan kemiskinan.
Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Probolinggo, Madihah, menyatakan bahwa SRT 7 mengedepankan pemberdayaan masyarakat secara menyeluruh melalui sinergi lintas perangkat daerah, instansi vertikal, serta dukungan pemerintah pusat.
“Program ini tidak hanya berfokus pada pendidikan anak, tetapi juga menyasar pemberdayaan keluarga melalui kolaborasi lintas sektor,” ujar Madihah dalam kunjungan jurnalistik Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) di SRT 7 Kota Probolinggo, Kamis (16/4/2026).
Ia menjelaskan, upaya yang dilakukan antara lain memastikan lulusan SRT 7 dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Pemerintah Kota (Pemkot) Probolinggo menjalin kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi, termasuk Universitas Negeri Surabaya (Unesa), untuk membuka akses beasiswa bagi siswa.
Selain itu, Pemkot Probolinggo juga memberikan pelatihan keterampilan kepada orang tua siswa, seperti usaha laundry dan pengolahan makanan, disertai dukungan peralatan. Hingga saat ini, sekitar 60 dari 100 orang tua telah mengikuti pelatihan tersebut.
Langkah tersebut ditujukan untuk mendorong kemandirian ekonomi keluarga sehingga anak dapat fokus menempuh pendidikan.
“Pendekatan kami dari hulu ke hilir. Tidak hanya anak yang dibina, tetapi orang tua juga diberdayakan. Harapannya, pengentasan kemiskinan dapat berlangsung secara holistik dan berkelanjutan,” kata Madihah.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Probolinggo, Lucia Aries Yuliyanti, menambahkan bahwa SRT 7 dirancang sebagai sekolah berbasis digital guna mendukung transformasi pendidikan yang adaptif.
“Sekolah Rakyat ini sejak awal didesain sebagai sekolah digital. Karena itu, kami memastikan infrastruktur dan konektivitas menjadi prioritas,” ujarnya.
Kepala SRT 7 Kota Probolinggo, Susilowati, menyebutkan bahwa seluruh siswa telah difasilitasi perangkat pendukung, termasuk laptop, serta sistem pembelajaran berbasis digital. Pendekatan ini juga diarahkan untuk mengembangkan kewirausahaan siswa melalui produksi berbagai produk, seperti kopi rempah dan kopi wine.
“Kami memetakan minat dan potensi siswa sejak dini. Saat lulus, mereka memiliki pilihan yang jelas, baik melanjutkan pendidikan, bekerja, maupun berwirausaha,” kata Susilowati.

Pembelajaran digital tersebut turut memperkuat kemampuan bahasa asing siswa sehingga meningkatkan daya saing lulusan di tingkat global.
Direktur Ekosistem Media Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media (KPM) Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), Farida Dewi Maharani, menilai pengenalan teknologi sejak jenjang pendidikan menengah menjadi fondasi penting dalam pengembangan sumber daya manusia.
“Pengenalan teknologi sejak dini merupakan langkah awal yang baik untuk mencetak talenta digital Indonesia. Potensi itu sudah terlihat dari aktivitas belajar mereka,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh pemanfaatan teknologi, tetapi juga oleh komitmen pendidik dan sistem pembinaan yang terstruktur. Aktivitas siswa yang terjadwal sepanjang hari dinilai mampu mengarahkan penggunaan teknologi ke kegiatan yang lebih produktif.
“Ketika anak memiliki aktivitas yang terarah dan pendampingan yang kuat, penggunaan teknologi dapat lebih terkendali dan bermanfaat,” kata Farida.
Farida menuturkan, Kemkomdigi menggelar kunjungan jurnalistik ke Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 7 di Kota Probolinggo, Jawa Timur dengan mengajak sejumlah awak media nasional guna memperkuat publikasi sekaligus melihat langsung implementasi program prioritas Presiden RI Prabowo Subianto di sektor pendidikan.
Kegiatan yang berlangsung pada 15–17 April 2026 itu, selain meninjau secara langsung proses belajar mengajar dan kesiapan fasilitas, awak media diajak untuk melihat langsung dampak program itu terhadap peserta didik dari keluarga miskin ekstrem hingga daerah pelaksanaannya.
Baca juga :



