Fakfak, SenayanTalks — Tim 3 Ekspedisi Patriot Universitas Padjadjaran (Unpad) melakukan pemeriksaan kesehatan dan pemberian obat cacing terhadap 38 ekor sapi milik peternak di Distrik Bomberay, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Kegiatan tersebut berlangsung selama empat hari, 1-4 September 2026, dengan menyambangi kandang ternak di lima kampung.
Pemeriksaan dilakukan terhadap sapi milik sembilan peternak di Kampung Bumi Muroh Indah, Mekar Sari, Onim Jaya, Pinang Agung, dan Wono Rejo. Tim bergerak dari satu kampung ke kampung lain menggunakan sepeda motor dengan membawa peralatan pemeriksaan dan obat-obatan.
Tim didampingi Dr. drh. Rini Widyastuti, M.Si., dokter hewan sekaligus dosen Fakultas Peternakan dan Program Studi Kedokteran Hewan Unpad, serta dua petugas Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Harno dan Ismanto.
Setiap sapi diperiksa secara individual. Pemeriksaan meliputi Body Condition Score (BCS), kondisi mukosa, ada atau tidaknya edema, tekstur bulu, serta konsistensi feses.
Parameter tersebut digunakan sebagai indikator awal untuk melihat kondisi kesehatan ternak dan kemungkinan infestasi cacing. Petugas lapangan turut membantu menangani sapi agar pemeriksaan berlangsung aman dan ternak tidak mengalami stres berlebihan.
Selain pemeriksaan fisik, seluruh 38 sapi mendapat obat cacing Ivomec melalui suntikan. Tim juga mengambil sampel feses dari setiap ternak untuk pemeriksaan Fecal Egg Count (FEC) di laboratorium.
Sampel feses diperoleh melalui dua cara, yakni langsung dari rektum dan dari feses segar yang ditemukan di lantai atau tanah kandang. Sampel kemudian diawetkan dan dikirim ke laboratorium untuk dianalisis.
Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan rata-rata Body Condition Score sapi sebesar 2,74 dari skala 1-5. Berat badan rata-rata ternak yang diperiksa mencapai 91,7 kilogram.
Sebagian besar sapi memiliki kondisi mukosa dan konsistensi feses yang normal. Namun, tim juga menemukan sejumlah ternak dengan mukosa pucat dan tekstur bulu kasar.
Dua kondisi tersebut disebut sebagai indikator yang lazim dikaitkan dengan kecacingan pada ruminansia. Temuan lapangan itu masih memerlukan konfirmasi melalui pemeriksaan telur cacing di laboratorium.
Rini mengatakan penilaian BCS, kondisi mukosa, dan tekstur bulu secara bersamaan dapat menjadi indikator awal untuk mendeteksi kemungkinan infestasi parasit gastrointestinal pada ternak.
Menurut dia, kondisi tubuh sapi yang berbeda-beda antarkampung juga dipengaruhi pola pemeliharaan, ketersediaan pakan, serta akses peternak terhadap layanan kesehatan hewan di kawasan transmigrasi tersebut.
Hasil Laboratorium Jadi Dasar Penanganan Ternak
Pemeriksaan feses yang dilakukan Tim 3 Ekspedisi Patriot Unpad belum selesai. Sampel masih dianalisis di laboratorium.
Hasil analisis tersebut diharapkan dapat menjadi dasar untuk menentukan jenis dan dosis obat cacing yang tepat. Data pemeriksaan juga akan digunakan sebagai bahan evaluasi program kesehatan ternak berkelanjutan bagi peternak di Distrik Bomberay.
Program deworming dan pemeriksaan kesehatan sapi tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Tim 3 Ekspedisi Patriot Unpad di kawasan transmigrasi Bomberay-Tomage.
Sebelumnya, tim juga menggelar pematerian mengenai animal welfare bagi peserta didik SMK Negeri 2 Fakfak. Kegiatan kesehatan ternak menjadi salah satu upaya tim dalam mendukung pengelolaan peternakan di kawasan tersebut.
Baca juga :



