Jakarta, SenayanTalks — Perkembangan akal imitasi (artificial intelligence/AI) telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi sekaligus menantang keberlanjutan industri media. Di tengah perubahan itu, Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) menilai penguatan etika, kemampuan berpikir kritis, dan kepercayaan publik perlu menjadi perhatian utama insan komunikasi.
Persoalan tersebut mengemuka saat diskusi bertajuk “Ketika AI Mengubah Komunikasi: Apa yang Harus Kita Kuatkan?” yang diselenggarakan ISKI dalam peringatan hari ulang tahun ke-43 ISKI di Universitas Tarumanagara (UNTAR), Jakarta, Senin, 12 Oktober 2026. Narasumber diskusi sepakat bahwa kehadiran AI berdampak terhadap pendidikan komunikasi, praktik profesional, dan bisnis media.
Ketua Umum ISKI periode 2026–2030, Atwar Bajari, mengatakan tantangan terbesar organisasi profesi bukan sekadar mempertahankan eksistensi, melainkan memastikan ilmu komunikasi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Pada ulang tahun ke-43 ini, saya mengajukan sebuah tesis: ISKI harus mengubah besarnya komunitas menjadi besarnya kontribusi,” ujar Atwar.
Menurut Atwar, perkembangan teknologi menuntut perubahan dalam pendidikan komunikasi. Kemampuan memproduksi pesan saja tidak lagi memadai. Lulusan ilmu komunikasi juga perlu memiliki kemampuan menalar, melakukan riset, memahami manusia, dan mempertimbangkan aspek etika sebelum mengambil keputusan.
Atwar menilai kemampuan memahami persoalan dan membangun kepercayaan akan semakin menentukan nilai seorang profesional komunikasi. Penguasaan perangkat teknologi, tanpa disertai kemampuan membaca konteks dan tanggung jawab, tidak cukup untuk menghadapi perubahan tersebut.
“Zaman terus berganti. Tanggung jawab kita terhadap manusia harus semakin besar. ISKI perlu memperkuat kompetensi anggotanya sekaligus membangun kolaborasi dengan akademisi, praktisi, industri, dan pemangku kepentingan lainnya,” tegas Atwar.
AI ubah cara pesan diproduksi
Akademisi UIN Sunan Kalijaga, Rama Kertamukti, mengungkapkan bahwa terjadi perubahan komunikasi melalui konsep AI-Mediated Communication. Konsep ini menjelaskan bagaimana teknologi kecerdasan buatan semakin berperan dalam proses pembentukan, penyampaian, dan penerimaan pesan.
Penggunaan AI menawarkan efisiensi dalam pekerjaan komunikasi. Namun, teknologi ini juga memunculkan persoalan mengenai keaslian pesan, bias, privasi, kepengarangan, dan pihak yang bertanggung jawab atas informasi yang dihasilkan.
Persoalan tersebut menjadi penting ketika pesan berbasis AI digunakan untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat. Kecepatan produksi tidak dengan sendirinya menjamin kebenaran informasi ataupun ketepatan konteks.
Oleh karena itu, lanjut Rama, penggunaan AI tetap membutuhkan penilaian dan pengawasan manusia. Kemampuan berpikir kritis, pertimbangan etis, dan tanggung jawab terhadap dampak pesan menjadi bagian yang tidak dapat diabaikan.
Pembahasan tersebut memperlihatkan bahwa tantangan ilmu komunikasi pada era AI bukan semata-mata mengikuti perkembangan teknologi, melainkan memastikan teknologi digunakan secara bertanggung jawab.

Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wahyu Dhyatmika mengungkapkan bahwa AI telah membawa perubahan terhadap distribusi informasi yang berpotensi mempengaruhi bisnis perusahaan pers.
Menurut Wahyu, saat ini terjadi pergeseran dari search economy menuju answer economy. Dalam pola pertama, pengguna mencari informasi melalui mesin pencari dan mengunjungi situs sumber. Sementara itu, dalam pola kedua, pengguna semakin berpeluang mendapatkan jawaban langsung dari layanan berbasis AI tanpa membuka situs berita.
Perubahan ini menjadi tantangan bagi media yang selama ini mengandalkan kunjungan pembaca sebagai salah satu sumber pendapatan. Jika pengguna memperoleh informasi melalui jawaban AI, hubungan langsung antara penerbit dan audiens berpotensi ikut berubah.
Dampaknya tidak hanya menyangkut jumlah kunjungan ke situs berita, tetapi juga kemampuan media mempertahankan model bisnis yang menopang produksi jurnalistik.
Situasi tersebut mendorong perusahaan media untuk memikirkan kembali strategi distribusi dan pendapatan tanpa mengorbankan kualitas pemberitaan. Media tetap perlu memastikan karya jurnalistiknya dapat ditemukan, dipercaya, dan memberikan nilai bagi masyarakat.
Wahyu juga menyoroti peluang penggunaan small language models (SLM), yakni model bahasa berukuran lebih kecil yang dikembangkan untuk kebutuhan tertentu. Teknologi ini berpotensi dimanfaatkan untuk menjawab kebutuhan informasi spesifik dan konteks lokal.
Namun, pemanfaatan AI tidak menghilangkan kebutuhan terhadap verifikasi fakta dan akuntabilitas editorial. Keberlanjutan industri media tetap berkaitan dengan kemampuannya menjaga kebenaran informasi, membangun kepercayaan, dan mengembangkan model pendanaan yang mendukung independensi jurnalistik.
Dorong komunikasi bertanggung jawab
Rektor Universitas Tarumanagara, Amad Sudiro, menekankan pentingnya komunikasi yang jelas, jujur, dan bertanggung jawab di tengah perubahan sosial dan teknologi. Menurutnya, komunikasi berperan dalam membangun kepercayaan, menjembatani perbedaan, dan memperkuat kehidupan bersama.
UNTAR menjadi tuan rumah peringatan HUT ke-43 ISKI yang dihadiri pengurus pusat, pengurus wilayah dari sejumlah daerah, serta Ketua Dewan Guru Besar ISKI, Dadang Rahmat Hidayat. Dalam kegiatan tersebut, ISKI juga meluncurkan situs web resmi sebagai sarana memperkuat komunikasi organisasi dengan anggota dan masyarakat.
Peringatan itu turut diisi penayangan video ucapan Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid. Pesan tersebut menjadi bagian dari pengingat mengenai pentingnya peran komunikasi dalam menghadapi perkembangan teknologi dan dinamika ruang informasi.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng dan penyerahan potongan tumpeng kepada Ketua ISKI DKI Jakarta, Anita Wulandari Prasojo, Ketua Dewan Guru Besar ISKI, Dadang Rahmat Hidayat, serta tokoh ISKI, Atie Rahmiatie.
ISKI berdiri pada 12 Oktober 1983. Memasuki usia ke-43, organisasi ini menegaskan komitmen untuk mengembangkan ilmu komunikasi dan memperkuat kontribusi anggotanya bagi masyarakat.
Tantangannya kini bukan hanya beradaptasi dengan teknologi kecerdasan buatan, melainkan juga memastikan perubahan tersebut tidak mengikis etika, kredibilitas informasi, dan tanggung jawab komunikasi terhadap manusia.

Baca juga :



