Search
Close this search box.

Agincourt Resources Bantah Aktivitas Tambang Picu Banjir Bandang Garoga

Jakarta, SenayanTalks — PT Agincourt Resources (PTAR), pengelola Tambang Emas Martabe, menyampaikan belasungkawa mendalam kepada seluruh korban banjir bandang dan longsor yang menerjang Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan. Perusahaan juga menegaskan bahwa tidak ada hubungan langsung antara operasional tambang Martabe dan bencana yang terjadi di Desa Garoga.

PTAR menyampaikan klarifikasi ini merespons sejumlah pemberitaan yang mengaitkan aktivitas tambang dengan banjir bandang yang menyebabkan puluhan korban jiwa dan kerusakan masif.

Berdasarkan hasil analisis internal PTAR, bencana dipicu oleh Siklon Senyar yang menyebabkan hujan dengan intensitas sangat tinggi di Tapanuli Selatan. Curah hujan tercatat mencapai angka ekstrem hingga 1.000 mm dalam satu bulan, sebuah kondisi yang disebut “maksimum dalam 50 tahun terakhir”.

Hujan ekstrem tersebut mengguyur kawasan hulu sungai, termasuk Hutan Batang Toru—wilayah yang menjadi sumber aliran Sungai Garoga, Aek Pahu, dan Batang Toru.

PTAR menegaskan bahwa pusat banjir terjadi di Sub-DAS Garoga, khususnya di Desa Garoga dan desa-desa sekitarnya seperti Huta Godang, Batu Horing, Sitinjak, dan Aek Ngadol.

Alur Sungai Garoga tidak mampu menampung laju air bercampur material kayu gelondongan yang menyumbat dua jembatan utama, sehingga memicu perubahan aliran yang menerjang permukiman.

Beda daerah aliran sungai

PTAR menegaskan bahwa lokasi tambang berada di Sub-DAS Aek Pahu, yang secara hidrologis terpisah dari DAS Garoga. Pertemuan kedua sungai terjadi jauh di hilir Desa Garoga.

“Karena berada di sistem hidrologi berbeda, aktivitas PTAR di DAS Aek Pahu tidak berhubungan langsung dengan banjir bandang di Garoga,” demikian penjelasan resmi PTAR.

Meski wilayah Sub-DAS Aek Pahu juga mengalami beberapa longsoran, tidak ditemukan fenomena banjir bandang ataupun aliran lumpur dan batang kayu seperti yang terjadi di Sungai Garoga.

Lima belas desa lingkar tambang di sekitar Aek Pahu juga tidak terdampak signifikan dan bahkan berfungsi sebagai pusat pengungsian.

Pengamatan udara menggunakan helikopter mengonfirmasi adanya longsoran besar di tebing-tebing alur Sungai Garoga, termasuk di kawasan hutan lindung. Longsoran inilah yang membawa material lumpur dan gelondongan kayu dalam jumlah besar ke alur sungai.

PTAR menyebut temuan tersebut sebagai indikasi awal yang masih memerlukan kajian komprehensif dari lembaga independen.

Bantu penanganan bencana

Sejak hari pertama bencana, PTAR menjadi bagian dari first responder bersama Pemda, TNI-Polri, dan relawan lain. Perusahaan mengerahkan tim untuk pencarian dan penyelamatan (SAR), pembukaan akses darat, pendirian posko pengungsian, serta penyediaan tenda, dapur umum, dan klinik masyarakat.

Perusahaan juga menegaskan komitmen terhadap kepatuhan lingkungan, termasuk operasional yang seluruhnya berada pada Areal Penggunaan Lain (APL) di luar kawasan hutan lindung Batang Toru.

PTAR mengajak publik mengedepankan penyebaran informasi yang akurat demi menghindari narasi tidak tepat yang dapat mengganggu proses pemulihan.

Perusahaan mendukung sepenuhnya dilakukannya kajian independen dan komprehensif untuk memastikan penyebab bencana secara ilmiah dan menyusun mitigasi risiko di masa depan.

Baca juga :

Artikel Terkait

Berita Sebelumnya