Search
Close this search box.

AWC 2026 Catat Penurunan Populasi Bangau Bluwok di Pulau Rambut

Burung Indonesia kembali menggelar kegiatan tahunan Asian Waterbird Census (AWC) pada Sabtu, 7 Februari, di Suaka Margasatwa Pulau Rambut, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Foto: Burung Indonesia).

Jakarta, SenayanTalks — Burung Indonesia menyelenggarakan kegiatan tahunan Asian Waterbird Census (AWC) di Suaka Margasatwa Pulau Rambut, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, pada Sabtu, 7 Februari. Pulau Rambut merupakan salah satu kawasan penting bagi burung air dan migran di Teluk Jakarta yang telah ditetapkan sebagai suaka margasatwa sejak 1999 dan terdaftar sebagai Situs Ramsar.

Sebanyak 20 peserta mengikuti penghitungan burung air yang dilakukan dari pukul 10.00 hingga 12.00 WIB. Mereka dibagi ke tiga titik pengamatan, yaitu dermaga selatan, bird hide di timur, dan menara pengamatan di tengah pulau. Setelah sesi lapangan, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi hasil sementara.

Salah satu spesies yang menjadi fokus adalah bangau bluwok (Mycteria cinerea), burung ikonik Pulau Rambut yang berstatus Genting (Endangered) menurut IUCN. Populasinya terus menurun dan saat ini diperkirakan sekitar 1.800 individu. Sejumlah peserta, termasuk Merry Hemelda, mengaku melihat penurunan signifikan dibandingkan satu dekade lalu.

Selain bangau bluwok, pengamat juga mencatat keberadaan pecuk-padi hitam (Phalacrocorax sulcirostris) serta burung migran seperti trinil pantai (Actitis hypoleucos) dan dara-laut kumis (Chlidonias hybrida). Secara keseluruhan, teridentifikasi 14 jenis burung air, di antaranya kowak-malam abu, kuntul kecil, kuntul besar, cangak abu, dan cangak merah.

Biodiversity and Conservation Officer Burung Indonesia, Achmad Ridha Junaid, menegaskan pentingnya pendataan burung sebagai bioindikator kesehatan lingkungan. “Kerusakan habitat pesisir sering kali berawal dari aktivitas di darat seperti penggundulan hutan yang memicu sedimentasi ke wilayah muara,” kata Ridha, dikutip Selasa, (10/2/2026).

Ridha menyampaikan bahwa AWC menggabungkan pengumpulan data ilmiah dan edukasi publik untuk mendukung pelestarian burung air. Data sensus ini menjadi acuan penting dalam pengelolaan kawasan konservasi, penetapan Situs Ramsar, serta dukungan bagi kerja sama lintas negara dalam jalur migrasi burung air.

Yaumud Mahmud dari Wetlands International Indonesia menambahkan bahwa pelaksanaan AWC di Indonesia melibatkan berbagai lembaga, termasuk Kementerian Kehutanan, YLBA, Burung Indonesia, Burungnesia, dan Yayasan EKSAI.

Melalui pemantauan jangka panjang terhadap populasi dan sebaran burung air, AWC berperan dalam menyediakan dasar ilmiah bagi upaya perlindungan lahan basah secara lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.

Baca juga:

Tesso Nilo: Jeritan Hutan yang Terbungkam oleh Sawit dan Penebangan Liar

Jejak Pulang Genap 12 Tahun, Tantangan Orangutan Kian Mendesak

Artikel Terkait

Berita Sebelumnya