Jakarta, SenayanTalks — Program L’Oréal–UNESCO For Women in Science (FWIS) kembali digelar di Indonesia sebagai bentuk komitmen nyata dalam mendukung kontribusi perempuan peneliti bagi kemajuan bangsa. Didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, program ini telah memasuki tahun ke-22 dan konsisten memberikan penghargaan serta pendanaan riset bagi perempuan ilmuwan Tanah Air.
Sejak pertama hadir di Indonesia, 79 perempuan peneliti telah mendapatkan dukungan riset dari FWIS. Tahun ini, empat ilmuwan perempuan muda terpilih sebagai penerima penghargaan FWIS 2025, masing-masing memperoleh pendanaan riset sebesar Rp400 juta dan kesempatan berjejaring dengan komunitas ilmuwan global.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Prof. Stella Christie, menegaskan pentingnya partisipasi perempuan dalam bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).
“Bukti ilmiah menunjukkan perempuan memiliki kemampuan yang sama dengan laki-laki dalam sains dan matematika. Namun, kesenjangan masih ada, baik dalam kesempatan kerja, gaji, maupun representasi di bidang STEM. Ini bukan hanya isu kesetaraan, tapi juga ekonomi. Negara rugi jika tidak memanfaatkan potensi terbaiknya,” ujarnya.
Menurut laporan UNESCO 2025, sebanyak 43,5% peneliti di Indonesia adalah perempuan, angka yang menunjukkan kemajuan signifikan namun masih membutuhkan dukungan berkelanjutan.
FWIS 2025: Kolaborasi, Inovasi, dan Kebermanfaatan
Tahun 2025 mencatat peningkatan partisipasi lebih dari dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Ratusan proposal riset masuk dari berbagai universitas dan lembaga riset di seluruh Indonesia, dengan 70% peserta adalah peneliti muda di bawah usia 40 tahun.
Prof. dr. Herawati Sudoyo, MD., Ph.D., Ketua Dewan Juri FWIS 2025, mengungkapkan bahwa tahun ini jumlah pendaftar hampir 150 orang, terbesar dalam lima tahun terakhir.
“FWIS bukan hanya penghargaan, tetapi wadah bagi kolaborasi lintas disiplin. Tanpa kolaborasi, penelitian tidak akan menghasilkan dampak yang luas,” ujarnya.
Empat peneliti terpilih menghadirkan riset yang berfokus pada solusi konkret dan berkelanjutan bagi tantangan nyata di Indonesia:
Dr. Maria Apriliani Gani – Sekolah Farmasi, Institut Teknologi Bandung
Mengembangkan model seluler untuk terapi osteoporosis berbasis tanaman obat lokal, mendukung saintifikasi jamu dan riset non-animal testing.

Dr.rer.nat. Lutviasari Nuraini – Pusat Riset Metalurgi BRIN
Mengembangkan material implan biodegradable berbasis magnesium yang dapat luruh alami setelah proses penyembuhan tulang selesai.

Anak Agung Dewi Megawati, Ph.D. – Universitas Warmadewa
Mengembangkan terapi mRNA antivirus spektrum luas untuk menanggulangi penyakit menular dari nyamuk seperti dengue.

Helen Julian, Ph.D. – Institut Teknologi Bandung
Mengembangkan teknologi pengolahan limbah kelapa sawit menjadi sumber daya bernilai tinggi berbasis sistem Membrane Photobioreactor–Nanofiltration (MPBR–NF).

Dukungan L’Oréal untuk Masa Depan Sains yang Inklusif
Benjamin Rachow, President Director L’Oréal Indonesia, menyampaikan bahwa FWIS adalah bagian dari komitmen global L’Oréal dalam menciptakan dampak positif melalui sains.
“Kami percaya dunia membutuhkan sains, dan sains membutuhkan perempuan. FWIS membuka akses, pendanaan, dan jaringan bagi para ilmuwan perempuan untuk bersinar dan membawa manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Melanie Masriel, Chief of Corporate Affairs, Engagement, and Sustainability L’Oréal Indonesia, menambahkan bahwa kolaborasi antarpeneliti perempuan telah menjadi budaya di komunitas FWIS.
“Para alumni aktif berkolaborasi lintas sektor, membangun ruang diskusi, dan saling mendukung penelitian yang aplikatif dan berdampak,” ujarnya.
Duta Besar Prancis untuk Indonesia, H.E. Fabien Penone, juga menyampaikan apresiasi kepada L’Oréal dan UNESCO atas komitmen mereka dalam mendukung kesetaraan gender di dunia sains.
Program FWIS bukan sekadar penghargaan, tetapi platform pemberdayaan dan mentoring yang telah menciptakan efek berlipat bagi dunia penelitian perempuan Indonesia. Hingga kini, para alumni FWIS telah menjadi mentor bagi lebih dari 1.400 peneliti muda, memperkuat regenerasi ilmuwan perempuan di berbagai bidang.
“FWIS akan terus menjadi ruang bagi perempuan peneliti untuk tumbuh, berjejaring, dan menginspirasi generasi berikutnya,” tutup Melanie.
Baca juga :



