Search
Close this search box.

IPA Goes to Campus, Industri Migas Butuh Talenta Baru

Indonesian Petroleum Association dorong mahasiswa berperan aktif dalam pengembangan sektor hulu migas dan transisi energi nasional menjelang IPA Convex 2026. (FOTO: IPA)

Yogyakarta, SenayanTalks — Indonesian Petroleum Association (IPA) memperkuat kolaborasi dengan dunia akademik melalui program IPA Goes to Campus yang digelar di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta.

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian menuju IPA Convention and Exhibition (IPA Convex) 2026 dan menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam menjawab tantangan transisi energi sekaligus mendukung optimalisasi sektor hulu minyak dan gas untuk ketahanan energi Indonesia.

IPA Convex 2026 dijadwalkan berlangsung pada 20–22 Mei 2026 di ICE BSD City, Tangerang. Ajang tersebut menandai penyelenggaraan ke-50 dengan tema “50 Years of Energy Partnership: Shaping the Next Era for Advancing Growth.”

Dalam rangkaian acara, program Youth@IPAConvex kembali digelar melalui berbagai agenda seperti Student Showcase, Student Visit, dan forum interaksi mahasiswa dengan pelaku industri energi global.

Program ini dirancang untuk memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa mengenai perkembangan industri migas dan energi global, termasuk peluang karier dan inovasi teknologi.

Direktur Eksekutif IPA, Marjolijn Wajong, menyampaikan bahwa kolaborasi antara industri dan kampus merupakan fondasi penting dalam menyiapkan sumber daya manusia energi yang kompeten dan adaptif terhadap dinamika global.

Menurutnya, program ini merupakan komitmen IPA untuk memperkuat sinergi dunia pendidikan dan industri energi, sekaligus membuka ruang interaksi langsung antara mahasiswa dan pelaku industri.

Gas bumi sebagai transisi energi

Dalam sesi diskusi di kampus, Wakil Ketua Komite Gas & LNG IPA, Diwya Satwika Paramartha, menyoroti peran strategis gas bumi sebagai energi transisi. Ia menyebut kebutuhan gas bumi global diproyeksikan terus meningkat dalam dekade mendatang karena memiliki intensitas emisi lebih rendah dibanding batubara dan minyak bumi.

Indonesia, kata dia, masih memiliki potensi gas bumi yang besar, dengan sejumlah temuan lapangan signifikan dalam beberapa tahun terakhir didominasi oleh cadangan gas. Pengembangan sektor ini membutuhkan kolaborasi multidisiplin serta keterlibatan generasi muda.

Sementara itu, Anggota Komite Eksplorasi IPA, Feriyanto, menjelaskan bahwa eksplorasi migas saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Lapangan migas yang dikembangkan berada di kedalaman lebih tinggi, bertekanan besar, dan memerlukan teknologi canggih.

Kondisi tersebut menuntut inovasi berkelanjutan serta kesiapan sumber daya manusia agar pengembangan energi tetap efisien dan kompetitif.

Wakil Dekan Fakultas Teknik UGM Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama, Prof. Ali Awaludin, menyambut positif kolaborasi ini. Ia menilai industri energi saat ini berada dalam fase transformasi besar yang membutuhkan talenta adaptif dan berwawasan global.

Menurutnya, sinergi dengan IPA memberi ruang pembelajaran nyata bagi mahasiswa untuk memahami tantangan industri energi dan isu keberlanjutan secara langsung.

Melalui IPA Goes to Campus, IPA berharap jembatan antara akademisi dan industri semakin kuat, sekaligus mendorong keterlibatan generasi muda dalam pengembangan sektor energi nasional yang berkelanjutan.

Di tengah tantangan transisi energi dan kebutuhan menjaga ketahanan energi nasional, mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga bagian dari solusi masa depan energi Indonesia.

Baca juga :

Artikel Terkait

Berita Sebelumnya