Flores Timur, SenayanTalks — Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong pembangunan ekonomi berbasis potensi lokal melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM).
Kegiatan terbaru difokuskan pada pemberdayaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Adobala di Kecamatan Kelubagolit, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan lokus utama pada produk tenun ikat tradisional yang menjadi kebanggaan masyarakat setempat.
Program ini mencakup pelatihan manajerial, legalitas usaha, strategi pemasaran digital, dan pendampingan perajin tenun — sebagian besar adalah perempuan. Melalui kegiatan ini, BUMDes diharapkan mampu berperan sebagai agregator ekonomi desa agar produk tenun ikat dapat menembus pasar nasional bahkan internasional.
Ketua tim program, Dr. Sonny Rustiadi, Ph.D., dari Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB, menegaskan pentingnya kolaborasi antara masyarakat dan sektor industri untuk membangun ekonomi yang tangguh.
“Kolaborasi komunitas dan industri penting untuk menciptakan proses penciptaan nilai yang berkelanjutan. Ketika masyarakat lokal memahami potensi mereka dan industri hadir memperkuatnya, ekonomi desa akan menjadi lebih mandiri,” ujar Sonny.

Perkuat manajemen dan pemasaran
Penjabat Kepala Desa Adobala, Hieronimus Hawan Teka, menyambut baik inisiatif ITB dan berharap program ini dapat membantu BUMDes menghadapi tantangan dalam hal manajemen dan promosi produk.
“Kami berharap program ini bisa menjawab tantangan BUMDes, terutama agar produk tenun lebih dikenal dan memiliki nilai jual tinggi,” katanya.
Program ini juga melibatkan Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) Sonata Desa Adobala melalui Asis Francis, yang berperan aktif mengoordinasikan keterlibatan warga selama kegiatan berlangsung.
Dari sisi desain produk, Dr. Slamet Riyadi, pakar desain dari Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, menyebut kolaborasi antara BUMDes dan pelaku industri seperti Pala Nusantara melalui Shima Design House sebagai langkah penting memperluas dampak sosial-ekonomi tenun lokal.
“Kami berharap kolaborasi ini bisa membuka peluang lebih luas bagi pengrajin lokal dan memperkenalkan budaya Nusantara kepada audiens muda,” jelas Slamet.
Dalam diskusi daring antara Pala Nusantara dan BUMDes Adobala, kedua pihak berkomitmen melanjutkan kerja sama di bidang pengembangan desain produk, perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), serta inovasi model bisnis tenun lokal.
Transformasi tenun Adobala
Anggota tim PkM ITB, Zartikazahra Nurulfiqri, MBA, menjelaskan bahwa kegiatan eksplorasi desain tenun dan penerapannya dalam produk fesyen modern membangkitkan antusiasme peserta.
“Para peserta sangat antusias mengeksplorasi aplikasi kain tenun ke produk fesyen yang lebih modern dan diminati pasar muda,” ungkap Zartikazahra.
Sementara itu, Zulfikar Rifan Maulana, MBA, menambahkan bahwa pendekatan serupa dapat diterapkan pada berbagai komoditas lokal lainnya.
“Kegiatan ini dimulai dari tenun, namun harapannya bisa diterapkan juga untuk komoditas lain agar BUMDes berperan sebagai penggerak ekonomi desa,” ujarnya.
Melalui sinergi antara masyarakat, akademisi, dan pelaku industri, ITB berharap model pemberdayaan berbasis digitalisasi dan desain produk lokal di Adobala dapat menjadi contoh praktik pembangunan ekonomi desa berkelanjutan di berbagai wilayah Indonesia.
Program ini tidak hanya memperkuat BUMDes sebagai lembaga ekonomi desa, tetapi juga mengangkat identitas budaya lokal melalui inovasi, teknologi, dan kolaborasi lintas sektor.

Baca juga :

