Search
Close this search box.

Literasi Ekonomi Syariah Perlu Dikemas Ringan dengan Visual Menarik

Praktisi komunikasi sekaligus pegiat literasi ekonomi syariah, Erwin Dariyanto, ajak jurnalis menggelorakan ekonomi syariah dalam Training of Trainer (ToT) Ekonomi Syariah yang diselenggarakan Bank Indonesia (BI) bekerja sama dengan Forum Jurnalis Wakaf dan Zakat Indonesia (Forjukafi), pada 14–15 November, di Hotel Sari Pacific, Jakarta.

Jakarta, SenayanTalks — Upaya penguatan literasi ekonomi syariah di era digital menghadapi tantangan besar, mulai dari rendahnya minat baca hingga perubahan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi informasi. Karena itu, diperlukan strategi komunikasi yang lebih kreatif, adaptif, dan mudah dipahami publik.

Hal tersebut disampaikan praktisi komunikasi sekaligus pegiat literasi ekonomi syariah, Erwin Dariyanto, dalam Training of Trainer (ToT) Ekonomi Syariah yang diselenggarakan Bank Indonesia (BI) bekerja sama dengan Forum Jurnalis Wakaf dan Zakat Indonesia (Forjukafi). Pelatihan berlangsung dua hari, Jumat–Sabtu (14–15 November), di Hotel Sari Pacific Jakarta.

Menurut Erwin, media massa tetap menjadi medium penting untuk kampanye ekonomi syariah. Namun, terdapat dua tantangan utama rendahnya minat baca masyarakat dan perubahan cara masyarakat mengakses informasi.

Untuk mengatasi rendahnya minat baca, jurnalis dan instansi harus membuat konten yang ringan, menarik, dan inspiratif.

“Masyarakat suka berita ringan dan mudah dipahami. Mereka cenderung menghindari artikel yang bahasanya terlalu tinggi,” ujar Erwin, yang juga Managing Editor detik.com.

Erwin menekankan pentingnya kolaborasi antara Bank Indonesia, kementerian/lembaga terkait ekonomi syariah, jurnalis, dan praktisi komunikasi. Banyak istilah ekonomi syariah yang masih sulit dipahami masyarakat awam sehingga perlu penyederhanaan bahasa.

“BI bersama kementerian dan lembaga terkait harus duduk bersama dengan jurnalis, praktisi, dan akademisi untuk merumuskan kampanye ekonomi syariah yang mudah dipahami,” kata Erwin, yang juga Ketua Departemen di Forjukafi.

Untuk menarik perhatian pembaca, Erwin menyarankan penambahan unsur visual dalam pemberitaan ekonomi syariah, seperti infografis, tabel, foto, dan video. Sebab, konten visual diyakini mampu meningkatkan minat baca masyarakat.

“Orang yang awalnya tidak tertarik bisa jadi membaca karena fotonya menarik atau infografisnya bagus,” ujarnya.

Erwin menyebut, penyebaran informasi harus memanfaatkan semua kanal seperti YouTube, Instagram, TikTok, X (Twitter), hingga Facebook. Hal ini diperlukan untuk menghadapi perubahan perilaku konsumsi informasi, kampanye literasi ekonomi syariah perlu hadir di platform digital populer.

Di akhir sesi, Erwin mengajak para jurnalis serta praktisi humas kementerian/lembaga untuk terus mengembangkan kampanye literasi ekonomi syariah secara kolaboratif dan inovatif.

“Jangan ragu menerapkan prinsip ATM — amati, tiru, dan modifikasi,” tutupnya.

Baca juga :

Artikel Terkait

Berita Sebelumnya