Jakarta, SenayanTalks – Pembayaran tol tanpa sentuh melalui aplikasi Travoy milik Jasa Marga, masih menghadapi tantangan. Sistem kerja sensor dan kecepatan transaksi menjadi sorotan pengguna jalan tol. Meski sudah menggunakan teknologi radio frequency identification (RFID) namun penerapannya di lapangan menunjukkan perlu upaya penyempurnaan terkait keandalan infrastruktur pendukung dan sinkronisasi data.
Afwan (32), pegawai swasta yang kerap menggunakan jalan tol, mengaku mengalami kejadian yang kurang menyenangkan saat melakukan pembayaran tol tanpa sentuh dengan aplikasi Travoy yang terpasang teknologi RFID. Proses pembayaran masih lama durasinya dibandingkan dengan membayar menggunakan kartu uang elektronik.
“Kemampuan membacanya masih sama durasinya dengan nge-tap kartu. Bahkan beberapa kali pernah lebih lama karena sensornya membaca lebih lama, akhirnya harus memundurkan posisi mobil, dan itu tentunya memakan waktu,” jelas Afwan saat menceritakan pengalamannya kepada SenayanTalks.
Afwan mengaku memasang teknologi RFID di Jasa Marga TMII dan mengintegrasikan dengan aplikasi Travoy. Namun saat digunakan, alatnya tidak bekerja dengan baik. Bahkan ia harus memundurkan jauh mobilnya dari gerbang tol karena alatnya kesulitan membaca sensor yang dipasang.
“Itu menandakan teknologi RFID masih belum bagus membacanya,” tegas Afwan.
Fitur pembayaran tol tanpa sentuh dalam aplikasi Travoy disebut Travoy Go yang sebelumnya dikenal dengan nama Let it Flo. Meski berganti nama, layanan yang ditawarkan tetap sama, yakni memfasilitasi pengguna jalan tol untuk beralih dari kartu uang elektronik menjadi pembayaran tanpa sentuh dan tanpa berhenti sehingga pembayaran tol menjadi lebih cepat, tanpa antrean panjang.
Travoy Go merupakan bentuk pengembangan aplikasi Travoy yang dilakukan Jasa Marga. Pada Februari 2026, Jasa Marga telah memperbarui aplikasi Travoy ke versi Android 4.9.2 dan iOS dengan berbagai inovasi.
Travoy kini dilengkapi Travoy Pay untuk transaksi multibiller termasuk top up saldo kartu uang elektronik, fitur Map yang menampilkan informasi kondisi jalan tol, pemeliharaan, dan rekayasa lalu lintas, serta Router Finder untuk membantu memilih rute terbaik.
“Jasa Marga akan terus mengembangkan fitur-fitur pada aplikasi Travoy agar semakin adaptif menjawab kebutuhan pengguna jalan serta memberikan pengalaman perjalanan yang lebih berkesan dan menyenangkan,” ungkap Direktur Utama Jasa Marga Rivan A. Purwantono.
Menurut Rivan, pengembangan Travoy merupakan bagian dari upaya memperkuat keterhubungan antara perusahaan dengan pengguna jalan tol. Secara berkala, Jasa Marga melakukan pembaruan fitur dan layanan agar masyarakat menjadi lebih mudah dan nyaman saat menggunakan jalan tol.

Solusi macet gerbang tol
Hadirnya fitur Travoy Go selaras dengan program pemerintah yang ingin menerapkan sistem multi line free flow (MLFF) yaitu sistem pembayaran tanpa sentuh dan tanpa henti. Saat ini, sistem MLFF tengah diujicobakan secara bertahap setelah sempat mengalami stagnasi. Pada akhir tahun 2025 lalu, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) merekomendasikan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) untuk melanjutkan uji coba MLFF.
Pengamat transportasi dari Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan (PKTJ) Tegal, Anton Budiharjo, yakin penerapan MLFF dapat mengatasi permasalahan yang saat ini terjadi di jalan tol seperti antrean panjang di gerbang tol yang dipicu pengendara mobil kehabisan saldo kartu uang elektronik maupun lamanya waktu membaca kartu uang elektronik.
“Pada sistem konvensional yang berbasis kartu seperti saat ini menggunakan e-toll, kita harus berhenti tap in untuk melakukan transaksi. Sehingga setiap kendaraan memerlukan waktu layanan kurang lebih 4-5 detik dan akan meningkat drastis jika terjadi saldo kurang,“ kata Anton.
Problem saldo e-money yang tidak mencukupi ini seringkali memicu intervensi petugas jalan tol untuk membantu top up. Akibatnya variabilitas waktu layanan ini menjadi penyebab utama terbentuknya antrean panjang.
“Teknologi MLFF mengubah mekanisme tap in ini dengan menerapkan sistem pembayaran tanpa sentuh dan tanpa berhenti. Jadi kendaraan dapat melaju bebas (free flow) tanpa ada hambatan seperti pada metode pembayaran tap in dengan menggunakan e-toll,” tambahnya.
Selain itu, transaksi MLFF juga dilakukan secara otomatis melalui teknologi seperti Global Navigation Satellite System (GNSS), Radio Frequency Identification (RFID), ataupun Automatic Number Plate Recognition (ANPR) yang terhubung ke sistem back end. Dengan demikian tidak ada lagi proses tap kartu nantinya ketika MLFF diberlakukan.
“Jadi benar-benar menghilangkan antrean di pelataran tol dan meningkatkan kelancaran arus lalu lintas, khususnya pada masa arus mudik maupun arus balik Lebaran yang volumenya sangat tinggi,” jelas Anton.
Dampaknya, waktu layanan per kendaraan mendekati nol karena tidak ada lagi barrier dan tidak ada proses tap in. Secara keseluruhan, MLFF dapat menghilangkan sumber masalah tersebut dengan mengubah sistem transaksi menjadi lebih lancar.
Perbanyak gerbang tol tanpa sentuh
Jasa Marga mengakui selama periode angkutan mudik dan balik Lebaran pada periode 11-31 Maret 2026 terdapat 21 ribu kendaraan mengalami kekurangan saldo e-toll dan melakukan isi ulang saldo e-toll di gerbang tol. Kondisi tersebut terjadi di gerbang tol Kalikangkung, Jalan Tol Batang-Semarang.
“Dengan saldo e-toll kurang yang berdampak pada tingginya aktivitas top up di gerbang tol, maka akan mengakibatkan waktu penundaan yang cukup signifikan dan mengakibatkan antrean di gerbang tol,” ujar Direktur Utama Jasa Marga Rivan A. Purwantono.
Hal itu membuat Jasa Marga berencana memperbanyak gerbang tol yang dapat melayani transaksi tanpa sentuh melalui aplikasi Travoy. Saat ini, terdapat 97 gerbang tol tanpa sentuh yang sudah beroperasi di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
“Tahun 2026, kami menargetkan menambah 700 gerbang tol tanpa henti dengan memanfaatkan teknologi RFID yang terintegrasi dengan aplikasi Travoy,” jelas Rivan.
Rivan mengungkapkan gerbang tol tanpa sentuh memiliki ciri khusus yaitu berlogo Travoy Go. Bagi pengendara mobil yang sudah memasang teknologi RFID, sensor di gerbang tol akan bekerja dan mobil bisa melewati tanpa harus berhenti untuk membayar tarif tol.
“Mobil cukup lewat dengan kecepatan 20 km per jam maka gerbang tol akan otomatis terbuka, dengan menggunakan Travoy Go di dalam aplikasi Travoy,” ujar Rivan.
Meski Jasa Marga optimistis penerapan pembayaran tol tanpa sentuh dapat mengurangi antrean di gerbang tol namun keandalan teknologi RFID masih harus diuji terutama sensor dan lama waktu pembayaran dengan terbukanya gerbang tol. Untuk mengatasinya, pengembangan aplikasi Travoy ke depan harus difokuskan pada peningkatan kinerja aplikasi, infrastruktur pendukung, dan edukasi terhadap pengguna jalan tol.
Baca juga :



