Jakarta, SenayanTalks — Kilang Pertamina Internasional (KPI) terus mempercepat strategi pertumbuhan ganda untuk menjawab tantangan kebutuhan energi nasional yang meningkat pesat. Pemerintah memprediksi konsumsi energi Indonesia akan tumbuh rata-rata 4,7% per tahun hingga 2050, sehingga industri migas dituntut memperluas kapasitas dan menghasilkan produk yang makin ramah lingkungan.
Di tengah lonjakan kebutuhan tersebut, KPI menempatkan Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan sebagai program strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
“Proyek RDMP Balikpapan merupakan strategi perusahaan untuk memaksimalkan bisnis eksisting perusahaan dalam menghasilkan produk berbasis fosil. RDMP hadir untuk menjawab tantangan meningkatnya kebutuhan energi di masa depan yang lebih ramah lingkungan,” kata Pjs. Corporate Secretary KPI, Milla Suciyani, Senin (8/12).
RDMP Balikpapan yang dikelola oleh PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB), anak usaha KPI, menjadi salah satu proyek modernisasi kilang terbesar di Indonesia. Proyek ini meningkatkan kapasitas pengolahan minyak mentah dari 260.000 barel menjadi 360.000 barel per hari, menjadikan kilang ini sebagai fasilitas pengolahan minyak berkapasitas terbesar di Tanah Air.
“Bersama Kilang Cilacap, KPI akan memiliki dua kilang dengan kapasitas di atas 300 ribu barel per hari. Ini tonggak penting untuk menjawab kebutuhan BBM nasional yang terus meningkat,” ujar Milla.

Tak hanya menambah kapasitas, RDMP Balikpapan juga dirancang untuk memproduksi BBM berkualitas tinggi setara standar Euro V, sejalan dengan tren global penggunaan energi rendah karbon.
Milla menjelaskan bahwa kilang ini akan menghasilkan gasoline, gasoil, LPG, dan avtur dalam jumlah lebih besar melalui teknologi mutakhir yang ramah lingkungan.
“Selain meningkatkan kapasitas pengolahannya, proyek ini akan meningkatkan produksi BBM yang menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat,” jelasnya.
Salah satu teknologi utama dalam RDMP Balikpapan adalah Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC), unit yang mengubah residu minyak mentah menjadi produk bernilai tinggi seperti gasoline, propylene, dan LPG. Teknologi ini menjadikan proses pengolahan lebih efisien sekaligus mendukung target pengurangan emisi.
“Unit hasil proyek RDMP Balikpapan tidak hanya efisien secara teknis, tetapi juga ramah lingkungan dan adaptif terhadap masa depan,” tutur Milla.
Dengan nilai investasi mencapai USD 7,4 miliar atau sekitar Rp126 triliun, RDMP Balikpapan dinilai berperan strategis dalam mendukung visi Indonesia Emas 2045. Selain memperkuat infrastruktur energi, proyek ini menjadi motor penggerak ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan industri pendukung.
Pada puncak masa konstruksi, RDMP Balikpapan menyerap lebih dari 24 ribu tenaga kerja dan mendorong aktivitas ekonomi lokal terutama sektor UMKM yang memasok kebutuhan logistik, konsumsi, transportasi, dan akomodasi bagi pekerja.
KPI juga menargetkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) hingga 35%, membuka peluang bagi industri manufaktur baja, logistik, konstruksi, dan jasa teknik untuk terlibat lebih jauh dalam pembangunan proyek energi nasional.
“RDMP Balikpapan juga mendorong pertumbuhan industri pendukung dan menjadi pusat pengembangan teknologi serta sumber daya manusia di sektor energi,” urai Milla.
Melalui modernisasi kilang skala besar ini, Milla menegaskan bahwa KPI ingin menunjukkan kesiapan Indonesia menghadapi dinamika energi global yang semakin menuntut efisiensi dan keberlanjutan.
“Melalui RDMP Balikpapan, KPI menegaskan komitmennya dalam mewujudkan infrastruktur energi yang modern, efisien, dan berkelanjutan, sebuah fondasi penting menuju visi Indonesia Emas 2045,” tutupnya.
Baca juga :



