Jakarta, SenayanTalks — PT Pertamina (Persero) menegaskan komitmennya untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) 2060 atau lebih cepat dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB COP30 yang berlangsung di Belém, Brasil. Komitmen ini diwujudkan melalui transformasi bisnis dan penguatan langkah keberlanjutan di seluruh lini usaha Pertamina.
Direktur Transformasi & Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, yang mewakili perusahaan di forum internasional tersebut, menekankan bahwa Pertamina kini memperluas roadmap NZE, tidak hanya mencakup emisi Scope 1 dan Scope 2, tetapi juga Scope 3 yang meliputi pengukuran dan pengendalian emisi di seluruh rantai bisnis energi.
“Kami memperbarui roadmap NZE Pertamina, memastikan seluruh rantai bisnis energi berkontribusi pada pengurangan emisi,” ujar Agung dalam sesi pembukaan COP30.
Agung menjelaskan bahwa Pertamina dan seluruh anak usaha telah mengembangkan strategi NZE yang selaras dengan target iklim nasional. Transformasi ini meliputi pengembangan energi terbarukan dan teknologi bersih seperti pemanfaatan listrik hijau: PLTS, PLTP, PLTBg, PLTSa, hidro, dan angin, pengembangan ekosistem kendaraan listrik (EV), serta pengembangan hidrogen dan amonia hijau.
Strategi lainya di sektor hulu migas berupa efisiensi dan CCS/CCUS seperti pengurangan metana dan flare loss, pengembangan 13 proyek CCS/CCUS oleh PT Pertamina Hulu Energi, potensi penyimpanan karbon 7,3 giga ton, dan target pembentukan klaster CCS/CCUS 60 MTPA.
Agung menyebutkan, CCS/CCUS akan menjadi kunci dekarbonisasi sektor hulu migas dan membuka peluang Indonesia menjadi pemimpin CCS/CCUS di Asia Tenggara.
Di sektor pengolahan, Pertamina memperluas produksi energi rendah karbon seperti HVO, Pertamax Green, dan Sustainable Aviation Fuel (SAF), pemanfaatan bahan baku rendah emisi seperti UCO dan CPO, dan pengembangan amonia biru.
Pada bisnis gas, Pertamina mendorong efisiensi transmisi dan kompresor elektrifikasi, produksi Bio-LNG, hydrogen blending, biomethane, hingga transportasi amonia.
Adapun di sektor pemasaran, dekarbonisasi dilakukan melalui distribusi biodiesel, bioetanol, SAF, pengembangan Green Energy Station, dan berpartisipasi dalam pasar karbon.

Terlibat aksi iklim global
Mengusung pesan COP30, “It’s time to act”, Pertamina menegaskan telah memulai langkah konkret melalui biofuel, energi terbarukan, serta pengembangan bioetanol dengan belajar dari keberhasilan Brasil.
Agung menekankan bahwa seluruh upaya tersebut selaras dengan standar global menjaga kenaikan suhu di bawah 2°C, serta mendukung target NZE Indonesia.
Selain enam lini bisnis utama, Pertamina juga memperkuat kontribusi dekarbonisasi melalui: Pertamina Foundation dan Universitas Pertamina.
Keduanya aktif melakukan riset energi terbarukan, elektrifikasi, efisiensi energi, serta pemodelan pasar karbon.
Pertamina mengalokasikan 10% dari total investasi 2025–2029 untuk mengembangkan bisnis rendah karbon. Dalam lima tahun ke depan, kontribusi pendapatan dari bisnis hijau ditargetkan terus meningkat.
Sebagai pemimpin transisi energi nasional, Pertamina memastikan seluruh operasi sejalan dengan target NZE 2060 dan mendukung capaian Sustainable Development Goals (SDGs) melalui penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Baca juga :



