Jakarta, SenayanTalks — Kilang Pertamina Internasional (KPI) memastikan komitmennya dalam memperkuat industri petrokimia nasional melalui peningkatan kapasitas produksi propylene. Produk petrokimia strategis ini akan dihasilkan dari proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, yang menjadi salah satu proyek modernisasi kilang terbesar di Indonesia.
Pjs Corporate Secretary KPI, Milla Suciyani, mengatakan bahwa sebelum RDMP Balikpapan beroperasi, Kilang Balikpapan tidak memproduksi petrokimia. Melalui proyek ini, kilang tersebut akan menghasilkan propylene dan sulfur, dua produk penting dalam rantai industri kimia.
“Melalui RDMP Balikpapan, Kilang Balikpapan akan mampu menghasilkan produk petrokimia berupa propylene dan sulfur. Ini adalah lompatan besar bagi industri petrokimia nasional,” ujar Milla.
KPI menargetkan total produksi petrokimia mencapai 283 ribu ton per tahun, terdiri dari 225 ribu ton propylene dan sisanya berupa sulfur.
Produksi tersebut akan dihasilkan melalui Unit Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC), unit utama dalam proyek RDMP Balikpapan.

Untuk mendukung manajemen inventori, KPI juga membangun delapan tangki berbentuk bola sebagai fasilitas penyimpanan propylene yang berwujud gas.
Milla menjelaskan bahwa propylene merupakan bahan baku utama untuk industri plastik, tekstil, dan berbagai produk kimia lainnya. Kenaikan permintaan dalam negeri membuat produksi propylene di dalam negeri menjadi kebutuhan mendesak.
“Produksi propylene sangat krusial. Ini akan membantu menekan impor dan mendukung ketahanan industri nasional,” jelasnya.
Propylene dari RDMP Balikpapan akan dipasok ke kilang Polytama Propindo di Balongan, Indramayu, Jawa Barat. Polytama—yang berafiliasi dengan KPI—mengoperasikan proyek produksi polypropylene (PP), salah satu jenis plastik termoplastik yang paling banyak digunakan di dunia, termasuk untuk kemasan makanan, alat rumah tangga, komponen otomotif, hingga material konstruksi.
Dengan kemandirian produksi propylene, Indonesia diproyeksikan dapat mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat rantai pasok industri petrokimia.
“Penambahan produksi ini tentu akan membantu mengurangi impor produk petrokimia yang memang masih cukup besar,” tutup Milla.
Baca juga :



