Search
Close this search box.

Surplus! Ekspor Non Migas Penopang Neraca Dagang Oktober 2025

Jakarta, SenayanTalks — Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan kinerja positif pada Oktober 2025 dengan surplus USD 2,39 miliar, memperpanjang tren surplus selama 66 bulan tanpa putus sejak Mei 2020. Demikian disampaikan Menteri Perdagangan Budi Santoso di Jakarta, Selasa (2/12/2025).

Surplus tersebut menopang posisi kumulatif Januari–Oktober 2025 menjadi USD 35,88 miliar, meningkat signifikan dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar USD 24,89 miliar.

“Surplus Oktober 2025 berasal dari surplus nonmigas sebesar USD 4,31 miliar dan defisit migas USD 1,92 miliar,” ujar Budi.

Total ekspor Oktober 2025 tercatat USD 24,24 miliar, turun tipis 1,79% secara bulanan (MoM) akibat penurunan ekspor migas dan nonmigas. Namun secara kumulatif, ekspor Januari–Oktober 2025 tetap tumbuh 6,96% menjadi USD 234,04 miliar.

Pertumbuhan ekspor nonmigas bahkan mencapai 8,42% dengan nilai USD 223,12 miliar.

Terdapat tiga komoditas dengan lonjakan ekspor tertinggi:

  • Aluminium dan produknya naik 68,45%
  • Kakao dan olahan naik 53,15%
  • Produk kimia naik 51,78%

Dari sisi negara tujuan, tiga pasar terbesar Indonesia adalah:

  • Tiongkok
  • Amerika Serikat
  • India

Ketiganya menyumbang nilai ekspor gabungan USD 93,33 miliar, atau 41,84% dari total ekspor nonmigas.

Impor Barang Modal Meningkat, Tanda Aktivitas Industri Menguat

Nilai impor pada Oktober 2025 mencapai USD 21,84 miliar, naik 7,42% dibanding September. Secara kumulatif, impor Januari–Oktober 2025 mencapai USD 198,16 miliar, meningkat 2,19% dibanding tahun sebelumnya.

Pertumbuhan impor terutama didorong peningkatan impor barang modal hingga 18,67%, seperti:

  • Central processing unit (CPU)
  • Smartphone
  • Mobil listrik
  • Mesin penyortir dan pencuci
  • Base station

Adapun impor bahan baku dan barang konsumsi justru turun, masing-masing 1,25% dan 2,05%.

Sedangkan komoditas impor nonmigas dengan peningkatan tertinggi antara lain:

  • Garam, belerang, batu, semen (HS 25) naik 65,85%
  • Kakao dan olahannya (HS 18) naik 64,09%
  • Pupuk (HS 31) naik 33,23%

Sementara itu, negara pemasok utama tetap didominasi Tiongkok, Jepang, dan Amerika Serikat, dengan kontribusi gabungan 52,75% dari total impor nonmigas.

Mendag Budi menilai kinerja perdagangan yang tetap kuat di tengah perlambatan ekonomi global menjadi sinyal positif bagi perekonomian Indonesia. Namun ia menegaskan bahwa pemerintah akan terus menjaga momentum pemulihan ekspor dan meningkatkan efisiensi impor.

“Surplus 66 bulan berturut-turut membuktikan resiliensi perdagangan Indonesia. Ke depan, strategi peningkatan ekspor bernilai tambah dan perluasan pasar nontradisional akan menjadi fokus utama,” ujarnya.

Baca juga :

Artikel Terkait

Berita Sebelumnya