Search
Close this search box.

Tesso Nilo: Jeritan Hutan yang Terbungkam oleh Sawit dan Penebangan Liar

Ilustrasi satwa di Taman Nasional Tesso Nilo

Taman Nasional Tesso Nilo, sebuah permata hijau di jantung Provinsi Riau, Indonesia.

Dulunya dikenal sebagai salah satu ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah yang paling kaya keanekaragaman hayati di dunia.

Rumah bagi Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae), Gajah Sumatera (Elephas Maximus Sumatrensis), Orangutan Sumatera (Pongo abelii) dan ribuan spesies flora dan fauna lainnya.

Tesso Nilo adalah benteng terakhir bagi kelangsungan hidup banyak makhluk langka.

Namun, dalam beberapa dekade terakhir, “surga” ini telah berubah menjadi medan pertempuran yang menyedihkan, di mana hutan-hutan digantikan oleh lautan monokultur kelapa sawit dan lahan-lahan yang gersang.

Penebangan Liar dan Ekspansi Sawit

Kondisi Tesso Nilo saat ini adalah gambaran nyata dari kehancuran lingkungan akibat keserakahan manusia.

Penebangan hutan besar-besaran, baik secara legal maupun ilegal, telah menjadi momok utama.

Kayu-kayu berharga seperti Meranti dan Ramin ditebang tanpa ampun, meninggalkan bekas luka menganga di bentang alam.

Pohon-pohon yang menjadi penopang ekosistem kini hanya tinggal batang-batang tanpa kehidupan, seperti yang terlihat pada gambar.

Tidak hanya penebangan, alih fungsi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit juga menjadi penyebab utama kehancuran ini.

Tingginya permintaan global akan Minyak Sawit telah mendorong ekspansi perkebunan secara masif, bahkan hingga merambah kawasan taman nasional.

Konflik lahan antara masyarakat adat, petani, dan perusahaan seringkali terjadi, memperparah kondisi yang sudah runyam.

Jutaan hektare hutan yang dulunya rimbun kini telah disulap menjadi deretan pohon sawit yang tak berujung, menghilangkan habitat alami bagi satwa liar dan merusak keseimbangan ekosistem.

Dampak yang Menghancurkan : Satwa Liar di Ujung Tanduk

Dampak paling tragis dari kondisi ini adalah nasib satwa liar. Harimau Sumatera, Gajah Sumatera, dan Orangutan Sumatera yang dulunya berkeliaran bebas kini terdesak dan terancam punah.

Hilangnya habitat membuat mereka kehilangan sumber makanan dan tempat berlindung.

Akibatnya, konflik antara manusia dan satwa liar seringkali tak terhindarkan.

Gajah-Gajah yang kelaparan terpaksa memasuki perkebunan atau permukiman warga untuk mencari makan, seringkali berujung pada kematian mereka atau bahkan konflik yang mengancam nyawa manusia.

Di tahun 2025 ini saja yang terpantau ada sepuluh individu Gajah terbunuh, mati sia-sia, belum lagi Harimau, Orangutanbdan species lainnya.

Orangutan yang kehilangan rumahnya menjadi rentan terhadap perburuan dan perdagangan ilegal.

Ekosistem hutan yang rusak juga menyebabkan perubahan iklim mikro dan makro.

Hutan yang gundul tidak lagi mampu menahan air, mengakibatkan kekeringan parah di musim kemarau dan banjir bandang di musim hujan, seperti yang digambarkan dalam ilustrasi.

Tanah menjadi gersang dan retak-retak, kehilangan kesuburannya dan sulit untuk pulih kembali.

Masa Depan yang Suram

Melihat kondisi Tesso Nilo saat ini, masa depan tampak suram. Namun, perjuangan untuk menyelamatkan “paru-paru” dunia ini belum sepenuhnya padam.

Berbagai organisasi konservasi, pemerintah, dan masyarakat lokal terus berupaya untuk merehabilitasi hutan, mencegah penebangan liar, dan menekan ekspansi sawit.

Penegakan hukum yang lebih tegas, pejabat jangan obral tanda tangan untuk ijin, edukasi masyarakat, dan pengembangan mata pencaharian alternatif bagi penduduk lokal adalah beberapa langkah krusial yang harus terus digalakkan.

Tesso Nilo adalah peringatan bagi kita semua. Kehancuran hutan di sana adalah cerminan dari bagaimana keserakahan manusia dapat merusak alam secara tidak dapat diperbaiki.

Species Homo Sapiens yaitu Manusia adalah predator paling kejam dan serakah.

Sudah saatnya kita menyadari bahwa kelestarian lingkungan adalah tanggung jawab bersama, demi masa depan bumi dan semua makhluk hidup di dalamnya.

Tanpa tindakan nyata, jeritan hutan Tesso Nilo akan selamanya terbungkam.

*) Singky Soewadji, Pemerhati Satwa Liar dan Koordinator Aliansi Pecinta Satwa Liar Indonesia (APECSI)

Catatan : Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi senayantalks.com

Artikel Terkait

Berita Sebelumnya