Search
Close this search box.

65 Cekungan Belum Dieksplorasi, SKK Migas Ajak Investor Global Masuk

Abu Dhabi, SenayanTalks – Indonesia menawarkan potensi investasi besar di sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) kepada investor global dalam ajang Abu Dhabi International Petroleum Exhibition and Conference (ADIPEC) 2026. Salah satu daya tarik yang ditawarkan adalah 65 cekungan sedimen yang belum dieksplorasi dari total 128 cekungan yang dimiliki Indonesia.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) Djoko Siswanto mengatakan, potensi tersebut membuka ruang bagi investor internasional untuk terlibat dalam kegiatan eksplorasi dan pengembangan migas di Indonesia.

“Indonesia membuka peluang yang lebar bagi investasi global. Kami menyambut hangat mitra-mitra internasional yang berminat untuk terlibat dalam pengembangan industri hulu migas Indonesia,” ujar Djoko dalam pembukaan Indonesia Pavilion di ADIPEC 2026, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Senin (2/11/2026).

Menurut Djoko, dukungan investasi, teknologi, dan kemitraan internasional diperlukan untuk mengoptimalkan potensi sumber daya migas, menemukan cadangan baru, serta menjaga keberlanjutan produksi dan ketahanan energi nasional.

Dalam ajang yang berlangsung pada 2-5 November 2026 di ADNEC Centre Abu Dhabi tersebut, Indonesia mengusung tema “Indonesia: A Strategic Horizon for Your Global Energy Investment”. Pemerintah berharap partisipasi ini dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi hulu migas di kawasan.

Temuan Gas Raksasa Jadi Daya Tarik Investasi

Salah satu modal yang ditawarkan Indonesia kepada investor adalah sejumlah penemuan sumber daya migas dalam beberapa tahun terakhir. Terbaru, terdapat temuan sumur gas Geliga-1 di Blok Ganal oleh Eni pada April 2026.

Temuan tersebut diperkirakan memiliki sumber daya in-place sekitar 5 triliun kaki kubik (Tcf) gas dan 300 juta barel kondensat.

Penemuan Geliga-1 melanjutkan sejumlah temuan signifikan sebelumnya, antara lain Geng North-1 dan Konta-1 oleh Eni di Cekungan Kutai, Kalimantan Timur, serta Layaran-1 dan Tangkulo-1 oleh Mubadala Energy di Wilayah Kerja South Andaman.

Rangkaian temuan tersebut memperkuat prospek pengembangan sumber daya migas Indonesia. SKK Migas mencatat contingent resources hingga September 2026 mencapai 1.497,4 juta barel setara minyak (MMBOE), atau sekitar 230% dari target tahunan. Angka tersebut diperkirakan meningkat hingga 250% pada akhir 2026.

Sementara itu, reserve replacement ratio (RRR) Indonesia diproyeksikan mencapai 221,4% pada akhir tahun ini. Rasio tersebut menggambarkan kemampuan penambahan cadangan dibandingkan dengan volume produksi migas.

Jika terealisasi, capaian tersebut menunjukkan penambahan cadangan yang lebih besar dibandingkan volume cadangan yang diproduksikan sepanjang periode pengukuran.

Investasi Hulu Migas Ditargetkan Tembus US$17,87 Miliar

Di sisi investasi, SKK Migas mencatat realisasi investasi hulu migas Indonesia pada 2025 mencapai US$14,9 miliar. Nilai tersebut diproyeksikan meningkat menjadi US$17,87 miliar pada 2026.

Djoko menyebut proyeksi tersebut merupakan yang tertinggi dalam satu dekade terakhir.

“Tren investasi hulu migas Indonesia menunjukkan momentum yang positif. Pada 2025, investasi mencapai US$14,9 miliar dan diproyeksikan meningkat menjadi US$17,87 miliar pada 2026,” kata Djoko.

Melalui partisipasi di ADIPEC, pemerintah berharap dapat memperluas peluang kemitraan dan menarik investasi baru untuk mendukung target tersebut.

Untuk meningkatkan minat investor, Indonesia menawarkan sejumlah skema partisipasi. Peluang tersebut mencakup pengembangan wilayah kerja yang sudah beroperasi, optimalisasi aset, serta kerja sama melalui mekanisme farm-in dan farm-out.

Pemerintah juga menawarkan fleksibilitas skema kontrak bagi hasil atau Production Sharing Contract (PSC), yakni gross split dan cost recovery. Kedua skema tersebut diatur dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 13 Tahun 2024.

Djoko mengatakan pemerintah berkomitmen meningkatkan daya tarik investasi melalui penyederhanaan perizinan, percepatan pengambilan keputusan, serta fleksibilitas fiskal untuk mendukung kerja sama internasional.

Empat Kerja Sama Strategis Diteken

Selain menawarkan potensi investasi, Indonesia juga memanfaatkan ADIPEC 2026 untuk memperluas kemitraan bisnis dengan perusahaan internasional.

Pada hari pertama penyelenggaraan, sejumlah perusahaan Indonesia menandatangani empat kesepakatan kerja sama strategis dengan mitra asing.

Pertama, nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara PT Pertamina Drilling Services Indonesia dan Halliburton Worldwide Ltd.

Kedua, kontrak Time Charter Offshore Support Vessel antara PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari (ELPI) Samudra Offshore dan Atlantic Maritime Group FZE.

Ketiga, kerja sama pembentukan perusahaan baru di bidang surveying dan mapping antara PT Hidrokinetik Indo Pacific dan Tara Industries LLC. Perusahaan tersebut direncanakan berbasis di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, untuk melayani industri migas dan subsea cable di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA).

Keempat, kerja sama promosi dan penerapan teknologi STARSEMAR Chemical Reservoir Stimulation antara PT Luas Birus Utama dan Tara Industries LLC.

Kesepakatan tersebut diharapkan memperluas keterlibatan perusahaan nasional dalam rantai bisnis industri energi internasional.

Partisipasi Indonesia di ADIPEC 2026 turut melibatkan 11 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dan 13 Perusahaan Dalam Negeri (PDN).

Kehadiran perusahaan-perusahaan tersebut dimaksudkan untuk memperkenalkan peluang investasi sekaligus kemampuan industri penunjang hulu migas nasional kepada komunitas energi internasional.

Pembukaan Indonesia Pavilion juga dihadiri Duta Besar Republik Indonesia untuk Uni Emirat Arab Judha Nugraha, Wakil Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Stella Christie, Anggawira yang mewakili Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Kepala BPMA Mawardi Nur, serta Direktur Utama PT Pertamina Hulu Energi Sunaryanto yang mewakili PT Pertamina (Persero).

Melalui ADIPEC 2026, Indonesia berupaya memperluas komunikasi dengan investor global, menawarkan peluang eksplorasi, serta mendorong kemitraan bisnis yang dapat ditindaklanjuti.

Pemerintah berharap peningkatan investasi dan aktivitas eksplorasi dapat memperkuat penemuan cadangan baru, menjaga produksi migas, dan mendukung ketahanan energi nasional dalam jangka panjang.

Baca juga :

Artikel Terkait

Berita Sebelumnya