Search
Close this search box.

9,2 GW Proyek PLTA dan PLTM Masuk Tahapan Eksekusi

Tampak Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Mrica dengan kapasitas 180 megawatt (MW) yang berada di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. PLTA yang berdiri sejak tahun 1988 ini menjadi salah satu pembangkit hijau penopang sistem kelistrikan Jawa dan Bali. (FOTO: PLN)

Jakarta, SenayanTalks — PT PLN (Persero) mencatat proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan pembangkit listrik tenaga minihidro (PLTM) dengan total kapasitas 9,2 gigawatt (GW) telah masuk berbagai tahapan eksekusi hingga Juli 2026.

Capaian tersebut setara dengan sekitar 79% dari total 11,7 GW kapasitas PLTA dan PLTM yang ditargetkan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034.

Dari total 9,2 GW proyek yang telah masuk tahap eksekusi, sekitar 410 megawatt (MW) masih berada dalam tahap kajian kelayakan. Kemudian, proyek dengan kapasitas 6,8 GW telah memasuki tahap pengadaan, 1,4 GW dalam tahap konstruksi, dan 570 MW sudah memasuki tahap pengoperasian.

Secara keseluruhan, pengembangan 11,7 GW PLTA dan PLTM dalam RUPTL 2025-2034 akan dilakukan melalui 315 proyek yang dikembangkan PLN bersama independent power producer (IPP).

Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan (EBT) PLN Suroso Isnandar mengatakan percepatan proyek pembangkit berbasis hidro membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.

Menurut dia, hydropower memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan energi sekaligus mendukung proses transisi energi Indonesia.

“PLN tidak sendirian dalam menjalankan amanah ini. Kolaborasi adalah kunci untuk bisa menyukseskan program ini. Pemerintah, PLN, IPP, dan termasuk lembaga lain, termasuk Masyarakat Energi Baru Terbarukan (METI), kita memerlukan sinergi yang kuat, komitmen yang kuat, dan kontribusi yang aktif dari seluruh pemangku kepentingan,” ujar Suroso dalam Indonesia Hydropower Summit 2026 di Kantor Pusat PLN, Jakarta, Rabu (5/8/2026).

PLN Kembangkan 4,3 GW Pumped Storage

Selain PLTA dan PLTM, PLN juga memasukkan pengembangan pumped storage hydropower dalam RUPTL 2025-2034 dengan total kapasitas sekitar 4,3 GW.

Pumped storage merupakan teknologi penyimpanan energi yang memungkinkan listrik disimpan ketika pasokan berlebih dan digunakan kembali saat permintaan listrik meningkat. Teknologi ini dinilai dapat memperkuat fleksibilitas sekaligus keandalan sistem kelistrikan, terutama ketika porsi pembangkit energi baru terbarukan (EBT) terus meningkat.

Suroso mengungkapkan PLN tengah mengembangkan sejumlah proyek pumped storage hydropower. Salah satunya Upper Cisokan Pumped Storage dengan kapasitas 1.040 MW.

Selain itu terdapat Sumatera Utara Pumped Storage berkapasitas 500 MW, Matenggeng Pumped Storage sebesar 943 MW, Grindulu Pumped Storage 1.000 MW, serta Jatiluhur Pumped Storage berkapasitas 760 MW yang dikembangkan oleh IPP.

Pengembangan pumped storage menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas sistem kelistrikan karena karakter pembangkit EBT seperti tenaga surya dan angin bergantung pada kondisi alam.

Kesiapan Proyek Hydropower

Komisaris Independen PLN Ali Masykur Musa mengatakan tantangan pengembangan hydropower di Indonesia kini bukan lagi sebatas menemukan potensi sumber daya air.

Menurut dia, pekerjaan berikutnya adalah memastikan potensi tersebut dapat dikonversi menjadi proyek yang siap dibangun, dibiayai, hingga beroperasi dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“Proyek hydropower memang memiliki masa pengembangan dan konstruksi yang panjang, tapi nilainya sangat luar biasa untuk berkembang. Karena itu percepatan hydropower tidak dapat dilakukan secara parsial, percepatan harus dilaksanakan secara end-to-end dan tahap perencanaan hingga operasi harus terukur,” kata Ali.

Ia menilai kesiapan proyek harus menjadi prioritas agar pengembangan pembangkit hidro tidak terhambat ketika memasuki tahap konstruksi maupun pembiayaan.

“Untuk itu yang perlu kita lakukan pertama adalah memastikan prioritas kesiapan proyek,” ujarnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Ketua Umum Masyarakat Energi Baru Terbarukan Indonesia (METI) Norman Ginting mengatakan pengembangan hydropower membutuhkan proyek yang bankable dan dukungan lintas pemangku kepentingan.

Menurut Norman, kebutuhan listrik Indonesia berpotensi terus meningkat seiring ekspansi pusat data, kendaraan listrik, hilirisasi mineral, hingga industri hijau.

“Di tengah meningkatnya kebutuhan listrik akibat pertumbuhan pusat data, kendaraan listrik, hilirisasi mineral, dan industri hijau, hydropower menjadi fondasi penting untuk menghadirkan sistem kelistrikan yang andal sekaligus rendah emisi,” ujar Norman.

Ia mendorong kolaborasi antara pemerintah, PLN, pengembang swasta, lembaga pembiayaan, dan pemangku kepentingan lainnya tidak berhenti pada forum diskusi.

“METI mendorong agar kolaborasi lintas pemangku kepentingan tidak berhenti pada forum diskusi, melainkan menghasilkan pipeline proyek yang siap didanai, dibangun, dan beroperasi secara komersial,” kata Norman.

Dengan target 11,7 GW PLTA dan PLTM serta tambahan sekitar 4,3 GW pumped storage dalam RUPTL 2025-2034, pengembangan pembangkit berbasis hidro menjadi salah satu instrumen penting PLN untuk memperkuat sistem kelistrikan sekaligus meningkatkan porsi energi terbarukan dalam bauran energi nasional.

Baca juga :

Artikel Terkait

Berita Sebelumnya