Search
Close this search box.

Saat Kota Terus Bergerak, Seni Memberi Ruang untuk Bernapas

Pertunjukan Kidung Bahaduri yang berlangsung di Galeri Indonesia Kaya, West Mall Grand Indonesia, Jakarta, (15/8). (FOTO: Ari Kusumawati)

KRL membawa orang-orang dengan tujuan yang berbeda pada Sabtu itu. Ada yang hendak menghabiskan akhir pekan untuk berlibur, ada yang tetap menuju tempat kerja dengan kemeja rapi dan laptop terselip di dalam tas. Hari itu memang Sabtu, tetapi kota tidak sepenuhnya mengambil jeda.

Memasuki perjalanan menuju pusat Jakarta, suasana MRT masih cukup lengang. Semakin siang, gerbong mulai dipenuhi lebih banyak penumpang. Di sekitar Bundaran HI, polusi pun tak terhindarkan, arus kendaraan tetap bergerak, meski tidak sepadat hari kerja. Matahari terasa menyengat. Security beberapa kali menyeberang jalan untuk membantu pengunjung masuk ke pusat perbelanjaan.

Grand Indonesia juga tidak pernah benar-benar sepi. Pengunjung datang dan pergi dengan kepentingannya masing-masing. Ada yang bersama keluarga, pasangan, komunitas, atau memilih berjalan sendirian. Sebagian mencari cokelat yang sedang viral, sebagian lain berburu tempat ngopi yang estetik.

Ada pula sekelompok pengunjung yang mengenakan kaus senada sebagai penanda komunitas mereka. Hari itu, mereka tengah menghabiskan akhir pekan dengan berjalan-jalan menyusuri Jakarta. Namun, di tengah keramaian itu, ada pula yang memilih mencari suasana berbeda.

Yang dicari bukan di bioskop. Bukan pula di tempat makan. Mereka masuk ke ruang pertunjukan di Galeri Indonesia Kaya. Ruangannya dingin, tetapi suasananya justru terasa hangat. Ada yang penasaran dengan pertunjukan yang akan ditampilkan.

Ada yang ingin mencoba pengalaman baru setelah sebelumnya beberapa kali datang ke Galeri Indonesia Kaya bersama pasangan, tetapi kali ini sengaja datang sendiri. Ada pula yang melihat pertunjukan sebagai hiburan gratis sekaligus kesempatan memperluas pengetahuan musik.

Seorang pengunjung mengaku datang karena bosan. Pengunjung lainnya ingin merasakan suasana kemerdekaan melalui lagu-lagu yang dibawakan. Mereka juga tidak semuanya datang dengan kepala yang penuh.

Kidung Bahaduri didedikasikan bagi berbagai sosok yang menjadi “pejuang kehidupan” mulai dari pejuang kemanusiaan, lingkungan, pendidikan, transportasi, seni, hingga mereka yang berkontribusi melalui bidang lainnya. Perjuangan tidak selalu hadir dalam bentuk memegang senjata. Di kehidupan sehari-hari, ia bisa muncul dari orang-orang yang menjalankan perannya, menjaga sesuatu tetap berjalan, dan memberi dampak bagi orang lain.

Makna tersebut dibawakan melalui perpaduan musik dan vokal. Dian HP mengisi piano, ditemani para vokalis Chandra Satria (tenor), Sita Nursanti (sopran), Andrea Miranda (sopran), dan Jessica Januar (sopran). Suara dan aransemen mereka membawa tema perjuangan lebih dekat dengan penonton. Lagu yang dimainkan bukan sekadar sebagai cerita masa lalu, tetapi sebagai sesuatu yang masih relevan dengan kehidupan hari ini.

Dari berbincang dengan beberapa penonton, ada yang mengaku sedang baik-baik saja sebelum pertunjukan dimulai. Ada yang datang dengan rasa penasaran, ada yang merasa gugup, dan ada pula yang masih membawa sisa perjalanan dari MRT menuju Grand Indonesia terutama panas terik yang terasa menyengat sepanjang jalan.

Bagi salah satu penonton, ketika lampu auditorium mulai diredupkan, momen itu selalu menghadirkan rasa terkesiap karena menjadi tanda pertunjukan akan segera dimulai. Penonton lain mengaku matanya tiba-tiba terfokus ke panggung, mencoba mencerna lagu-lagu yang terdengar asing, lagu pertama yang dibawakan judulnya Seni yang liriknya diciptakan oleh Guruh Soekarno Putra. Ada yang merasa gembira. Ada pula yang mulai merasakan tubuh dan pikirannya lebih rileks.

Di antara kursi penonton, kamera dan ponsel juga ikut disiapkan. Ada yang datang sambil membawa tugas membuat konten. Ada yang ingin mengabadikan pertunjukan. Ada pula yang lebih sibuk mencari sudut terbaik untuk mendapatkan dokumentasi.

Seiring pertunjukan berlangsung, perhatian sebagian penonton perlahan berpindah dari apa yang mereka bawa dari luar ruangan menuju apa yang terjadi di atas panggung. Seorang penonton mengatakan sejak awal ia memang sengaja menyiapkan pikirannya untuk fokus pada pertunjukan. Tujuannya sederhana: menenangkan pikiran yang terasa “semrawut”.

Bagi para penampil pertunjukan Kidung Bahaduri, kedekatan dengan penonton juga menjadi bagian dari pengalaman pertunjukan. Jessica Januar, salah satu vokalis (Sopran), mengatakan dirinya selalu merasa senang ketika tampil di Galeri Indonesia Kaya.

“Suasana pertunjukan terasa berbeda karena jarak antara penampil dan penonton begitu dekat. Kita dekat dengan penonton, jadi rasanya sangat intimate,” ujar Jessica.

Namun, jeda tidak selalu berarti semua persoalan tiba-tiba hilang. Ada penonton yang masih memikirkan deadline. Ada pula yang datang karena tugas membuat konten dan tetap membawa pekerjaan tersebut ke dalam ruang pertunjukan. Hanya saja, pada beberapa momen, perhatian mereka sempat bergeser.

Pengalaman setiap penonton berbeda

Bagi satu orang, seluruh pertunjukan menjadi momen untuk mengamati, menilai, dan mengevaluasi penampilan para pemain. Bagi yang lain, momen paling berkesan justru ketika lagu-lagu daerah dan “Tanah Airku” dimainkan. Alunannya terasa begitu menyentuh hingga menghadirkan rasa haru mengingat memori masa sekolah di mana Lagu-lagu Daerah dan Lagu Wajib Nasional masih sering dinyanyikan.

Ada juga yang menikmati sesi membuat Avatar melalui simulator yaitu salah satu aktivitas bermain digital yang disediakan oleh Galeri Indonesia Kaya umumnya disebut edutainment digital. Ada pula yang tidak merasa memiliki satu momen khusus yang membuatnya berhenti dari rutinitas.

Artinya, ruang pertunjukan tidak menawarkan jeda dengan cara yang sama kepada setiap orang. Setelah pertunjukan selesai, perubahan yang dirasakan pun beragam. Ada yang merasa lebih ringan dan jauh lebih relaks. Ada yang mendapatkan pengetahuan baru.

Ada yang pulang dengan perspektif baru setelah menyadari bahwa dirinya ternyata menikmati pertunjukan bernyanyi, meski sebelumnya lebih terbiasa menonton teater musikal.

Bagi penonton lain, melihat para senior yang masih bersemangat berkesenian justru memunculkan motivasi untuk terus berkarya. Di tengah rutinitas mereka yang tetap padat, para senior tersebut masih menyempatkan diri menjalani hobi dan berkesenian.

Pengalaman itu menjadi menarik karena sebagian responden memang mengaku tidak selalu mudah untuk benar-benar beristirahat dalam beberapa hari terakhir. Ada yang mengatakan hanya kadang-kadang merasa sulit berhenti dari berbagai urusan.

Ada pula yang sedang menjalani pelatihan vokasi dengan tugas yang cukup banyak, lalu masih harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga setelah tiba di rumah. Istirahat, dengan demikian, tidak selalu berarti berhenti bekerja.

Tubuh mungkin sudah berada di rumah, tetapi pikiran masih memikirkan tugas. Akhir pekan mungkin sudah tiba, tetapi rutinitas tetap mengikuti. Bahkan ketika seseorang pergi ke pusat perbelanjaan untuk mencari hiburan, kepalanya belum tentu ikut berlibur.

Di tengah kondisi itu, pesan dari pertunjukan tidak berhenti ketika lagu terakhir selesai. Andrea, salah satu vokalis (Sopran) mengajak penonton melihat kembali makna pahlawan dengan cara yang lebih luas. Menurutnya, pahlawan dapat ditemukan di mana saja, termasuk melalui para pencipta lagu dan orang-orang yang terus menjaga karya serta musik agar tetap hidup.

Pahlawan, dalam pandangan itu, tidak selalu harus hadir sebagai sosok besar yang tercatat dalam sejarah. Mereka juga bisa hadir sebagai orang-orang yang terus berjuang dan melestarikan sesuatu dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan tersebut membuat pertunjukan terasa lebih dari sekadar rangkaian lagu bertema kepahlawanan. Di balik panggung dan musik, ada cerita tentang orang-orang yang terus berkarya, bertahan, dan meneruskan sesuatu kepada generasi berikutnya.

Karena itu, ruang seni bisa menjadi salah satu bentuk jeda yang sederhana. Bukan untuk menghapus persoalan, apalagi melarikan diri selamanya dari rutinitas. Hanya untuk memindahkan perhatian sejenak dari layar ke panggung, dari deadline ke lagu, dari riuhnya pusat kota ke ruang yang lebih hening.

Ketika lampu kembali menyala dan pintu pertunjukan terbuka, kota yang ramai masih ada di luar sana. MRT, KRL tetap berjalan. Jalanan tetap ramai. Pengunjung Grand Indonesia kembali berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Namun, selama beberapa waktu, mereka sudah diberi kesempatan untuk berhenti. Sejenak saja. Mengambil jeda untuk berhenti sejenak di tengah kota yang terus bergerak, mengambil napas, menemukan sesuatu yang baru, lalu kembali melanjutkan perjalanan dengan pikiran yang sedikit berbeda.

Penulis: Ari Kusumawati, Made Indra

Artikel Terkait

Berita Sebelumnya