Era digital menghadirkan paradoks dalam komunikasi. Di satu sisi, teknologi artificial intelligence (AI) membuat manusia memperoleh informasi lebih cepat dan mudah. Namun di sisi lain, semakin banyak informasi yang tersedia justru menghadirkan pertanyaan baru: apakah informasi tersebut dapat dipercaya?
Persoalan kepercayaan menjadi semakin penting ketika AI digunakan dalam bidang wellness tourism atau pariwisata berbasis kesehatan dan kebugaran. Berbeda dengan rekomendasi wisata biasa, informasi wellness tourism berkaitan dengan keputusan yang menyentuh aspek kesehatan, kenyamanan, bahkan keselamatan individu.
Saat seseorang menggunakan AI untuk mencari rekomendasi destinasi kesehatan, spa, retreat, terapi alami, atau perjalanan berbasis kebugaran, pengguna tidak hanya membutuhkan informasi yang menarik, tetapi juga informasi yang kredibel.
Hasil kajian terhadap penelitian AI dalam pariwisata menunjukkan bahwa sebagian besar penelitian selama ini lebih banyak berfokus pada kemampuan teknologi dalam menghasilkan rekomendasi, personalisasi layanan, dan peningkatan pengalaman pengguna. Sementara itu, aspek kepercayaan terhadap informasi yang dihasilkan AI masih menjadi ruang penelitian yang relatif terbatas.
Temuan analisis VOSviewer dalam kajian AI dan wellness tourism memperlihatkan bahwa kata kunci seperti artificial intelligence, personalization, smart tourism, dan customer experience memiliki posisi yang sangat dominan. Namun, keyword trust masih berada pada posisi periferal atau relatif kecil dibandingkan tema lainnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan kepercayaan pengguna terhadap rekomendasi AI masih membutuhkan perhatian lebih besar.
Dalam perspektif ilmu komunikasi, kepercayaan merupakan elemen fundamental dalam hubungan antara komunikator dan komunikan. Sebuah pesan tidak hanya dinilai berdasarkan isi informasinya, tetapi juga berdasarkan kredibilitas sumber yang menyampaikan pesan tersebut.
Masalahnya, ketika komunikator berupa sistem AI, muncul pertanyaan baru: siapa sebenarnya sumber informasi tersebut?
Apakah pengguna mempercayai AI karena kemampuan teknologinya? Apakah karena rekomendasi tersebut terlihat personal? Atau karena informasi tersebut sesuai dengan pengalaman pengguna sebelumnya?
Pertanyaan ini menunjukkan bahwa komunikasi digital mengalami perubahan besar. Jika dahulu kredibilitas komunikator berasal dari identitas manusia, institusi, atau organisasi, maka era AI menghadirkan bentuk kredibilitas baru yang berasal dari kemampuan algoritma.
Namun, kemampuan menghasilkan informasi tidak selalu berarti kemampuan menghasilkan informasi yang benar. AI dapat menghasilkan rekomendasi berdasarkan pola data, tetapi tetap memiliki kemungkinan menghasilkan informasi yang tidak akurat, bias, atau tidak sesuai konteks lokal.
Dalam konteks Indonesia, tantangan ini menjadi semakin kompleks. Indonesia memiliki ribuan destinasi wellness tourism dengan karakter budaya dan lingkungan yang berbeda-beda. Informasi mengenai pengobatan tradisional, praktik kesehatan lokal, maupun pengalaman spiritual membutuhkan sensitivitas budaya yang tidak selalu dapat dipahami hanya melalui algoritma.
Oleh karena itu, pengembangan AI dalam komunikasi pariwisata tidak boleh hanya berorientasi pada kecanggihan teknologi. Aspek etika komunikasi, transparansi algoritma, kualitas informasi, dan keterlibatan komunitas lokal harus menjadi perhatian utama.
AI seharusnya tidak menggantikan manusia dalam membangun komunikasi wisata, tetapi menjadi alat yang memperkuat kemampuan manusia dalam menyampaikan cerita destinasi.
Pada akhirnya, masa depan wellness tourism tidak hanya ditentukan oleh seberapa pintar teknologi memberikan rekomendasi, tetapi juga seberapa besar masyarakat percaya bahwa rekomendasi tersebut memiliki nilai, akurasi, dan tanggung jawab.
Karena dalam dunia komunikasi, informasi yang cepat belum tentu menjadi informasi yang dipercaya. Dan tanpa kepercayaan, teknologi paling canggih sekalipun tidak akan mampu membangun hubungan komunikasi yang bermakna.
*) Galang Ikhwan Aji Sabda, M.I.Kom., Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran
Catatan : Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi senayantalks.com

