Jakarta, SenayanTalks — Ada yang berbeda dalam penerbangan perdana Garuda Indonesia rute Bandung-Denpasar pada 14 Agustus 2026. Penumpang tidak hanya disuguhi perjalanan menuju Pulau Dewata, tetapi juga diperkenalkan dengan tampilan baru seragam tematik awak kabin Garuda Indonesia.
Seragam tersebut hadir melalui kolaborasi Garuda Indonesia dengan Sarinah. Tak sekadar menghadirkan pembaruan tampilan, rancangan busana itu membawa narasi tentang kekayaan wastra, kriya, dan budaya Indonesia.
Bagi Garuda Indonesia, seragam awak kabin memiliki posisi lebih dari sekadar pakaian kerja. Sejak pertama kali mengudara pada 1949, maskapai nasional tersebut menjadikan identitas budaya Indonesia sebagai bagian dari pengalaman perjalanan penumpangnya.
Salah satu simbol yang paling mudah dikenali adalah kebaya awak kabin. Dalam rancangan terbaru ini, identitas tersebut diperkaya dengan kain batik, selendang, serta aksesori kriya yang melibatkan perajin lokal.
Dalam pengembangan seragam tematik tersebut, Sarinah kembali menggandeng BINhouse yang dipimpin maestro tekstil O’bin. Bagi O’bin, kolaborasi dengan Garuda Indonesia bukanlah hal baru.
Ia sebelumnya dipercaya merancang motif batik untuk seragam awak kabin Garuda Indonesia pada 2010.
Kali ini, O’bin menghadirkan bawahan berbahan kain batik dengan dominasi rona cokelat. Warna tersebut dipilih untuk mengingatkan pada tanah yang subur, hutan tropis, serta sejarah panjang rempah-rempah Indonesia.
Motif yang digunakan berupa garis-garis mengalir yang terinspirasi dari corak tradisional lereng. Pola tersebut menciptakan kesan gerak yang berkesinambungan, sekaligus menyimbolkan perjalanan yang terus bergerak maju tanpa meninggalkan akar budaya.
Di antara pola tersebut, terdapat aksen berbentuk siluet Garuda yang disisipkan secara halus.
“Dalam seragam ini, saya ingin mengekstrak kekayaan alam kita dan menghadirkan rasa Indonesia melalui bahasa wastra yang setia pada tradisi, namun hidup dan relevan di masa kini,” ujar O’bin.
Menurut dia, motif lereng yang mengalir merupakan simbol perjalanan yang terus bergerak maju. Sementara aksen Garuda menjadi pengingat bahwa ke mana pun penerbangan membawa penumpang, identitas budaya Indonesia tetap menjadi pijakannya.
Selendang Menggambarkan Langit dan Laut Indonesia
Narasi Indonesia juga terlihat pada permainan warna selendang awak kabin.
Rona biru dan toska menggambarkan gradasi langit serta warna laut tropis Indonesia. Saat dikenakan, selendang tersebut dirancang menghasilkan gestur lembut seperti kepakan sayap dan gerakan angin.
Sementara itu, warna merah dan putih mengambil inspirasi dari Sang Saka. Merah merepresentasikan keberanian, sedangkan putih menggambarkan ketulusan.
Kedua warna tersebut sekaligus dimaknai sebagai nilai yang dibawa awak kabin ketika menjalankan tugas, yakni memberikan pelayanan sekaligus memastikan keselamatan penumpang.
Desain selendang juga dibuat dengan mempertimbangkan interaksi antara awak kabin dan penumpang. Gerakannya dikoreografi agar dapat menghadirkan gestur hangat ketika menyambut penumpang dan memberikan sentuhan elegan ketika penumpang meninggalkan pesawat.
Meski mengedepankan aspek estetika, Garuda Indonesia memastikan rancangan tersebut tetap mengikuti standar keselamatan penerbangan. Dengan demikian, unsur budaya dan desain busana tidak mengganggu efektivitas awak kabin dalam menjalankan tugas selama penerbangan.
Perhiasan Libatkan Perajin Lokal Bali
Detail budaya dalam seragam tersebut tidak berhenti pada kain dan warna. Sarinah turut mengkurasi perhiasan kriya yang dibuat oleh enam perajin lokal binaannya dari Gianyar, Bali.
Para perajin tersebut mengerjakan sepasang anting dan bros dengan detail yang mengangkat unsur budaya Bali.
Salah satu elemen yang menonjol adalah motif ukiran Bun-bunan pada bros. Motif tersebut terinspirasi dari sulur tumbuhan yang saling membelit sekaligus hidup berdampingan.
Dalam narasi desain, Bun-bunan dimaknai sebagai simbol harmoni dan pertumbuhan serta bentuk penghormatan terhadap alam.
Material yang digunakan juga dipilih dengan mempertimbangkan aspek keberlanjutan. Perhiasan tersebut menggunakan mother of pearl putih hasil budidaya air tawar dan karang merah yang dipanen dengan memperhatikan ekosistem lingkungan.
Kehadiran turquoise memberikan nuansa ketenangan langit, sedangkan lapis lazuli berwarna biru ultramarine digunakan sebagai simbol kebijaksanaan.
Sarinah Dorong Kriya Lokal ke Pasar Global
Direktur Utama PT Sarinah (Persero), Raisha Syarfuan, mengatakan kolaborasi tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas ruang bagi karya dan keterampilan perajin Indonesia.
Menurut dia, Sarinah tidak hanya menjalankan fungsi kurasi, tetapi juga mendorong peningkatan keterampilan dan kapasitas perajin lokal agar dapat menjangkau pasar serta audiens yang lebih luas.
“Keterlibatan perajin lokal dari Gianyar, Bali serta desainer kenamaan sekelas O’bin dari BINhouse dalam penyegaran seragam awak kabin Garuda Indonesia menjadi salah satu bentuk bagaimana karya dan keterampilan Nusantara dapat hadir di panggung internasional,” kata Raisha.
Ia mengatakan kolaborasi tersebut diharapkan dapat membantu membangun ekosistem yang memberi ruang bagi karya Indonesia untuk berkembang dan dikenal di tingkat global.
Seragam Tematik Hadir di Penerbangan Khusus
Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan, mengatakan penyegaran seragam awak kabin merupakan bagian dari transformasi perusahaan yang tetap mempertahankan identitas sebagai maskapai nasional.
“Seragam bukan sekadar elemen visual, tetapi salah satu representasi paling nyata dari standar layanan dan identitas Garuda Indonesia sebagai maskapai nasional yang hadir langsung di hadapan penumpang,” ujar Glenny.
Ia mengatakan Garuda Indonesia tetap mempertahankan karakter seragam yang telah dikenal publik, sembari menambahkan warna, motif, dan detail kriya Nusantara.
Pada tahap awal, seragam tematik tersebut akan digunakan dalam penerbangan tematik dan kenegaraan.
Bagi Garuda Indonesia, kehadiran seragam baru ini menjadi cara lain untuk membawa cerita tentang Indonesia ke dalam perjalanan udara. Kain, motif, warna, dan karya tangan perajin lokal dipertemukan dalam satu ruang: kabin pesawat yang setiap hari membawa penumpang menuju berbagai penjuru.
Baca juga :



