Search
Close this search box.

Mendag: 90% Pasar Sudah Pulih Pascabanjir Aceh dan Sumatra

“Sarana perdagangan di wilayah terdampak terus menunjukkan tren pemulihan yang positif, khususnya pasar rakyat,” ujar Mendag Budi Santoso dalam konferensi pers percepatan rehabilitasi pascabencana, Rabu (11/2/2026). (FOTO: Kemendag)

Jakarta, SenayanTalks – Menteri Perdagangan Budi Santoso memastikan proses rehabilitasi dan rekonstruksi sektor perdagangan pascabencana di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat terus menunjukkan progres signifikan. Pemerintah menargetkan pemulihan penuh sarana perdagangan demi menjaga stabilitas harga dan pasokan jelang Ramadan 2026.

Dari total 166 pasar rakyat dan 4.952 pedagang yang terdampak bencana, sekitar 90 persen atau 149 pasar telah kembali beroperasi. Sisanya masih dalam tahap percepatan pemulihan, mayoritas berada di Provinsi Aceh.

“Sarana perdagangan di wilayah terdampak terus menunjukkan tren pemulihan yang positif, khususnya pasar rakyat,” ujar Mendag Budi Santoso dalam konferensi pers percepatan rehabilitasi pascabencana, Rabu (11/2/2026).

Pasokan Bahan Pokok Dijaga, Harga Relatif Stabil

Kementerian Perdagangan (Kemendag) berkoordinasi dengan ID FOOD, BULOG, serta pelaku usaha untuk memastikan distribusi barang kebutuhan pokok tetap lancar, terutama di pasar terdampak bencana di Aceh dan Sumatra Utara.

Data Indeks Perkembangan Harga (IPH) Januari–Februari 2026 menunjukkan tren penurunan dibandingkan Desember 2025. Hal ini seiring dengan normalisasi aktivitas logistik di wilayah terdampak.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan arahan Presiden RI agar stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok tetap terjaga, khususnya menjelang Ramadan dan Idulfitri.

“Presiden ingin memastikan harga dan ketersediaan bahan pokok, khususnya di daerah terdampak bencana, benar-benar tersedia dan terjangkau,” ujar Teddy.

95 Persen Toko Swalayan Sudah Normal

Selain pasar rakyat, sektor ritel modern juga menunjukkan pemulihan cepat. Berdasarkan data Aprindo, dari 274 gerai toko swalayan terdampak di Aceh dan Sumatra Utara, sebanyak 259 gerai atau 95 persen telah kembali beroperasi normal.

Seluruh gerai ditargetkan beroperasi penuh paling lambat akhir Februari 2026.

Meski terdampak bencana alam pada akhir November 2025, kinerja ekspor daerah menunjukkan ketahanan.

Aceh mencatat nilai ekspor USD 58,28 juta pada November 2025, tumbuh 20,16 persen (MoM), dan meningkat menjadi USD 59,69 juta pada Desember 2025.

Sedangkan, Sumatra Barat mencatat ekspor USD 2,78 miliar sepanjang 2025, tumbuh 27,64 persen (YoY) dibanding 2024. Begitu pula, Sumatra Utara yang mampu membukukan ekspor USD 12,56 miliar pada 2025, naik 17,84 persen (YoY).

Mendag menyebut penurunan ekspor pada November 2025 terjadi akibat gangguan logistik dan produksi, namun pemulihan berlangsung cepat pada Desember 2025.

“Secara agregat, daya pulih ekspor tetap terjaga dengan baik,” ujarnya.

71 Persen Wilayah Sudah Kembali Normal

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyampaikan bahwa lebih dari dua bulan pascabencana, sekitar 71 persen wilayah terdampak telah kembali normal, sementara sisanya mendekati normal dan masih membutuhkan perhatian.

Pemerintah memperkuat sinergi lintas kementerian dan lembaga melalui Instruksi Presiden Nomor 18 Tahun 2025 tentang percepatan penanganan darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi pascabencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno menegaskan percepatan pemulihan meliputi normalisasi infrastruktur, penyediaan hunian sementara, layanan kesehatan, hingga pemulihan aktivitas ekonomi masyarakat.

Dengan percepatan rehabilitasi sektor perdagangan dan stabilitas harga jelang Ramadan, pemerintah optimistis pemulihan ekonomi di wilayah terdampak bencana akan berlangsung lebih cepat dan merata.

Baca juga :

Artikel Terkait

Berita Sebelumnya