Search
Close this search box.

Mahasiswa Taiwan Bekali Keterampilan Bahasa Komunitas Pekerja Migran di Indramayu

Indramayu, SenayanTalks — Sebanyak 14 mahasiswa National Dong Hwa University (NDHU), Hualien, Taiwan, menjalani program pengabdian masyarakat di Desa Juntiweden, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Kegiatan berlangsung pada 2-25 Agustus 2026.

Program tersebut merupakan bagian dari MOE Overseas & New Southbound Internship Program, platform pemerintah Taiwan untuk mempererat hubungan dengan negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Migrant CARE Indramayu menjadi tuan rumah yang memfasilitasi kegiatan mahasiswa selama berada di Indramayu. Desa Juntiweden dipilih karena Indramayu merupakan salah satu daerah pengirim pekerja migran terbesar di Indonesia.

Kepala Desa Juntiweden Carsudi menyambut kedatangan para mahasiswa tersebut. Menurut dia, kehadiran mahasiswa Taiwan menjadi kesempatan bagi warga untuk saling bertukar pengetahuan dan pengalaman.

“Saya berharap warga dan komunitas di Desa Juntiweden bisa belajar banyak dari teman-teman Taiwan ini. Semoga para mahasiswa betah dan kerasan tinggal di sini,” kata Carsudi di Balai Desa Juntiweden, Senin, 3 Agustus 2026.

Belajar dari Pekerja Migran Indonesia

Prof. Li-fang Liang, dosen NDHU sekaligus pembimbing kegiatan, mengatakan program tersebut bukan hanya ditujukan untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat. Para mahasiswa juga diharapkan memperoleh pengalaman dengan tinggal dan berinteraksi langsung dengan warga.

“Terlepas dari nanti kami akan melakukan banyak kegiatan di sini, tentu ini menjadi kesempatan yang berharga bagi kami, rombongan dari Taiwan, untuk belajar dari masyarakat Indonesia,” ujar Li-fang.

Li-fang telah puluhan tahun meneliti isu migrasi, termasuk pekerja migran Indonesia yang bekerja di Taiwan. Pengalaman tersebut menjadi salah satu konteks dalam penyusunan program pengabdian mahasiswa NDHU di Indramayu.

Kegiatan mahasiswa secara umum dibagi menjadi dua program utama. Program pertama berupa pemberdayaan masyarakat yang menyasar komunitas pekerja migran, mantan pekerja migran yang tergabung dalam Desa Peduli Buruh Migran (DESBUMI), calon pekerja migran, serta anak-anak pekerja migran yang ditinggalkan.

Salah satu kegiatannya adalah workshop migrasi aman. Materi yang diberikan mencakup hak-hak pekerja migran di Taiwan, perbedaan budaya Indonesia dan Taiwan, serta sosialisasi kesehatan mental.

Workshop tersebut diarahkan agar peserta mampu memberikan edukasi kepada calon pekerja migran Indonesia, terutama mereka yang hendak bekerja di Taiwan. Edukasi itu mencakup cara menghindari bujuk rayu calo, mengenali praktik kerja paksa, serta memahami langkah yang dapat dilakukan ketika menghadapi persoalan selama bekerja di luar negeri.

Program tersebut disusun dengan melihat sejumlah persoalan yang masih dihadapi pekerja migran. Salah satunya adalah kesulitan membedakan antara memperjuangkan hak dan melawan majikan.

Akibatnya, sebagian pekerja migran memilih pasrah ketika menerima upah di bawah standar, diminta mengerjakan pekerjaan di luar tugas utama, atau memilih jalur ilegal karena tidak mengetahui prosedur yang dapat ditempuh ketika menghadapi masalah.

Selain isu migrasi, mahasiswa Taiwan juga memberikan pelatihan mengenai pengelolaan sampah yang dilakukan masyarakat Taiwan. Mereka juga mengikuti rangkaian kegiatan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus.

Ajarkan Bahasa Mandarin

Program kedua menyasar sektor pendidikan. Mahasiswa NDHU menggandeng SDN Juntiweden II untuk melakukan sejumlah kegiatan bersama siswa.

Para siswa diperkenalkan dengan kaligrafi Mandarin, membaca buku berbahasa Mandarin, serta bermain board game. Interaksi tersebut diharapkan dapat membuka wawasan siswa mengenai kesempatan belajar di luar negeri.

Program pendidikan ini disusun berdasarkan kondisi bahwa sebagian siswa di Indramayu mulai kehilangan minat melanjutkan pendidikan tinggi. Mereka lebih memilih bekerja di luar negeri, termasuk di sektor informal, karena mempertimbangkan pendapatan yang dinilai lebih tinggi dibandingkan bekerja di Indonesia dengan keterampilan terbatas atau tanpa gelar sarjana.

Kehadiran mahasiswa Taiwan di Juntiweden dengan demikian tidak hanya menjadi program pertukaran pengalaman antara Indonesia dan Taiwan. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi mengenai migrasi aman, perlindungan pekerja migran, pendidikan, kebudayaan, dan pengelolaan lingkungan.

Bagi mahasiswa NDHU, program ini sekaligus menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung kehidupan masyarakat di salah satu wilayah pengirim pekerja migran Indonesia dan memahami persoalan migrasi dari perspektif masyarakat di daerah asal pekerja migran.

Baca juga :

Artikel Terkait

Berita Sebelumnya