Jakarta, SenayanTalks — PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) tengah menyiapkan aksi korporasi berupa rights issue atau Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) III. Dalam aksi tersebut, perseroan berencana menerbitkan maksimal 124,35 miliar saham baru dengan melibatkan saham PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) senilai Rp5,66 triliun sebagai setoran modal.
Rencana rights issue tersebut menjadi bagian dari upaya restrukturisasi dan penyehatan kondisi keuangan Garuda Indonesia. Aksi korporasi itu disampaikan perseroan melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (30/9/2026) malam.
Dalam skema yang disiapkan, PT Danantara Asset Management (DAM) selaku pemegang saham utama Garuda akan menebus haknya dengan menyetorkan saham GMFI senilai Rp5.664.912.000.000. Setoran tersebut dilakukan dalam bentuk selain uang atau inbreng.
Sebagai imbalannya, Garuda akan menerbitkan saham baru kepada DAM sesuai nilai saham GMFI yang disetorkan dan harga pelaksanaan final rights issue. Sementara itu, pemegang HMETD lainnya dapat melaksanakan haknya dengan setoran tunai.
Garuda menyebut jumlah maksimal saham baru sebanyak 124,35 miliar saham masih berupa perkiraan. Rencana tersebut juga masih membutuhkan persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 6 November 2026 serta pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Kinerja Garuda Indonesia Semester I 2026
Rencana rights issue tersebut datang ketika kinerja operasional Garuda Indonesia mulai menunjukkan perbaikan. Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan melalui keterbukaan informasi BEI, pendapatan perseroan sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai US$1,8 miliar.
Pendapatan tersebut tumbuh 16% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$1,5 miliar.
Pertumbuhan terbesar berasal dari segmen penerbangan tidak berjadwal yang mencatat pendapatan US$272,8 juta atau tumbuh 32,5% secara tahunan. Dari segmen tersebut, angkutan haji menjadi salah satu pendorong utama dengan kontribusi US$232,2 juta, meningkat 51,6%.
Kinerja tersebut juga ditopang oleh pemulihan jumlah armada. Hingga Juni 2026, Garuda Indonesia mengoperasikan 104 pesawat.
Di tengah peningkatan pendapatan, perseroan masih menghadapi tekanan biaya bahan bakar. Beban avtur pada semester I 2026 melonjak 43,6% menjadi US$677,6 juta.
Tekanan tersebut semakin terasa pada kuartal II 2026. Beban avtur pada periode tersebut meningkat sekitar 90% secara tahunan. Akibatnya, porsi bahan bakar terhadap pendapatan naik menjadi sekitar 37,7% dari sebelumnya 30,5%.
Meski demikian, Garuda masih mampu mempertahankan laba operasional positif. Earnings Before Interest and Tax (EBIT) tercatat US$74 juta, naik 12,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, EBITDA meningkat 5,8% menjadi US$431,6 juta.
Perbaikan kinerja operasional tersebut ikut memangkas rugi bersih perseroan. Garuda membukukan rugi bersih US$113 juta pada semester I 2026, menyusut 23,2% dibandingkan rugi US$147,1 juta pada semester I tahun sebelumnya.
Defisiensi Modal Garuda Makin Menyempit
Dari sisi neraca, kondisi permodalan Garuda juga menunjukkan perbaikan. Defisiensi modal per 30 Juni 2026 tercatat US$52,15 juta.
Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan defisiensi modal sekitar US$1,5 miliar pada semester I tahun sebelumnya.
Adapun kas dan setara kas Garuda Indonesia pada akhir Juni 2026 tercatat US$624,3 juta.
Rencana rights issue melalui inbreng saham GMFI diharapkan semakin memperkuat struktur permodalan perseroan.
Saham GMFI Dialihkan ke Danantara
Saham GMFI yang akan digunakan sebagai objek inbreng saat ini masih dimiliki PT Angkasa Pura Indonesia (API).
Dalam skema transaksi, saham tersebut akan dialihkan terlebih dahulu kepada InJourney. Selanjutnya, saham GMFI akan dialihkan kepada DAM melalui pembagian dividen non-tunai atau dividend in specie.
Setelah proses pengalihan efektif, saham GMFI tersebut akan digunakan sebagai setoran modal dalam rights issue Garuda Indonesia.
Langkah tersebut sekaligus akan menata kembali kepemilikan Garuda atas GMFI dalam ekosistem Garuda Indonesia Group.
Garuda menyatakan transaksi dilakukan berdasarkan prinsip kewajaran atau arm’s length dan mengacu pada POJK Nomor 42 Tahun 2020 tentang Transaksi Afiliasi dan Benturan Kepentingan.
Perseroan juga telah memperoleh laporan penilaian dari Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) terkait saham GMFI serta penilaian kewajaran transaksi.
Menariknya, aset yang akan digunakan dalam aksi korporasi tersebut berasal dari perusahaan yang kinerjanya juga tengah mengalami perbaikan.
Pada semester I 2026, GMFI membukukan pendapatan US$270,29 juta. Angka ini meningkat 51% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
EBITDA GMFI juga tumbuh 39% menjadi US$34,82 juta. Sementara laba yang diatribusikan kepada entitas induk mencapai US$10,81 juta atau sekitar Rp193,55 miliar, meningkat 23,46%.
Direktur Utama GMFI Andi Fahrurrozi mengatakan pertumbuhan kinerja ditopang oleh tingginya pendapatan berbasis Time Material Basis (TMB), baik dari grup Garuda maupun pelanggan non-grup.
Salah satu sumber pendapatan berasal dari proyek reaktivasi pesawat serta pekerjaan mesin untuk perusahaan penyewaan pesawat.
Kondisi neraca GMFI juga membaik. Per 30 Juni 2026, ekuitas perusahaan mencapai US$144,62 juta. Angka tersebut berbalik positif dari defisiensi modal US$248,99 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Analis Prediksi Harga Rights Issue Garuda Rp50
Bahana Sekuritas memperkirakan harga pelaksanaan rights issue Garuda Indonesia berada di level Rp50 per saham.
Analis Bahana Sekuritas Yogi menyebut harga tersebut memberikan diskon sekitar 12,3% dibandingkan harga cum-date Rp57.
Dengan asumsi tersebut, harga teoritis setelah rights issue atau Theoretical Ex-Rights Price (TERP) diperkirakan berada di Rp55,4 per saham, atau sekitar 2,9% di bawah harga cum-date.
Sementara nilai teoritis setiap hak diperkirakan sekitar Rp5,4.
Bahana Sekuritas memperkirakan pemegang saham publik berpotensi menyetor dana tunai hingga sekitar Rp496 miliar apabila seluruh haknya ditebus.
Jika aksi korporasi terserap sepenuhnya, defisiensi ekuitas Garuda diproyeksikan menyempit menjadi sekitar minus US$24 juta. Proyeksi tersebut belum memperhitungkan kinerja perseroan pada semester II 2026.
Garuda Optimistis Kinerja Berlanjut
Garuda Indonesia memperkirakan pelaksanaan PMHMETD III akan memberikan dampak positif terhadap kondisi keuangan perseroan.
Manajemen juga optimistis tren pemulihan kinerja dapat berlanjut hingga akhir 2026. Penguatan penerbangan berjadwal dan disiplin efisiensi biaya menjadi bagian dari strategi perseroan untuk menjaga momentum perbaikan kinerja.
Dengan kondisi operasional yang mulai membaik, Garuda kini menghadapi dua agenda sekaligus: mempertahankan pemulihan bisnis di tengah tingginya harga avtur dan memperkuat struktur permodalan melalui rights issue.
Rencana tersebut masih menunggu persetujuan pemegang saham dan pernyataan efektif dari OJK.
Baca juga :



