Jakarta, SenayanTalks – Indonesia semakin agresif menarik investasi global untuk mengembangkan sektor hulu minyak dan gas bumi (migas). Dalam ajang Abu Dhabi International Petroleum Exhibition and Conference (ADIPEC) 2026, pemerintah melalui Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) menjajaki kerja sama dengan sejumlah perusahaan energi dunia, termasuk Eni dan INPEX.
Langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat eksplorasi dan produksi migas nasional sekaligus memperkuat ketahanan energi di tengah meningkatnya kebutuhan energi domestik.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan Indonesia memiliki potensi sumber daya minyak dan gas bumi yang masih besar dan terbuka untuk dikembangkan. Potensi tersebut menjadi peluang investasi jangka panjang bagi perusahaan energi global.
Namun, menurutnya, pengembangan potensi migas nasional membutuhkan dukungan investasi, teknologi, keahlian teknis, serta kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri internasional.
“Untuk dapat memanfaatkan potensi ini, sumber daya alam saja tidaklah cukup. Diperlukan investasi, teknologi canggih, keahlian teknis, serta kolaborasi yang kuat antara pemerintah, pelaku industri, dan mitra internasional,” ujar Djoko dalam keterangan resmi, Rabu (5/11/2026).
Melalui Indonesia Pavilion di ADIPEC 2026, SKK Migas memperkenalkan potensi wilayah kerja migas, peluang eksplorasi, serta kesiapan industri nasional kepada investor dan pelaku energi global.
Proyek LNG Masela Mulai Dibangun
Penjajakan kerja sama dengan perusahaan energi global berlangsung di tengah momentum pengembangan sejumlah proyek migas berskala besar di Indonesia.
Salah satunya adalah penemuan gas jumbo oleh perusahaan energi asal Italia, Eni, melalui sumur Geliga-1 di Blok Ganal, Kalimantan Timur, pada April 2026.
Penemuan tersebut diperkirakan memiliki sumber daya in-place sekitar 5 triliun kaki kubik (Tcf) gas dan 300 juta barel kondensat. Temuan ini menjadi salah satu potensi penting dalam pengembangan industri gas bumi nasional.
Selain Eni, proyek LNG Abadi yang dikembangkan INPEX di Blok Masela, Maluku, juga memasuki tahap pembangunan fisik sejak Juli 2026.
Proyek tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi sebesar 9,5 juta ton LNG per tahun serta memasok gas untuk kebutuhan domestik sebesar 150 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD).
Di sela-sela ADIPEC 2026, SKK Migas menggelar pertemuan bisnis tingkat tinggi dengan Eni dan INPEX. Pertemuan juga dilakukan dengan perusahaan rekayasa global asal Jepang, JGC Holdings Corporation.
Sebelumnya, SKK Migas telah melakukan pertemuan dengan sejumlah mitra strategis lainnya, termasuk Samsung dan perusahaan energi internasional lainnya.
Kerja Sama Strategis
Upaya menarik investasi tidak hanya dilakukan melalui pertemuan bisnis, tetapi juga diwujudkan melalui penandatanganan empat kerja sama strategis antara perusahaan nasional dan mitra internasional.
Kerja sama tersebut mencakup bidang jasa pengeboran, perkapalan, survei dan pemetaan, serta teknologi chemical reservoir stimulation.
Partisipasi Indonesia dalam ADIPEC 2026 turut melibatkan 11 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dan 13 Perusahaan Dalam Negeri (PDN).
Keterlibatan perusahaan nasional tersebut diharapkan dapat membuka peluang kolaborasi bisnis sekaligus meningkatkan kapabilitas industri penunjang hulu migas Indonesia.
Pada hari ketiga penyelenggaraan ADIPEC, Rabu (4/11/2026), Indonesia Pavilion juga menghadirkan pemaparan dari Divisi Prospektivitas dan Divisi Eksplorasi SKK Migas mengenai peluang investasi dan eksplorasi migas di Indonesia.
Sementara itu, PT Medco E&P Indonesia, anak usaha MedcoEnergi, memaparkan perjalanan ekspansi perusahaan dalam mengembangkan wilayah kerja migas di Indonesia hingga merambah Asia Tenggara dan Timur Tengah. Di Oman, MedcoEnergi mengoperasikan Karim Small Fields.

Kebutuhan Domestik Jadi Prioritas
Di tengah upaya memperluas kerja sama energi internasional, Indonesia juga menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan gas dalam negeri tetap menjadi prioritas utama.
Hal tersebut disampaikan Djoko saat menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk “Global LNG Market Trends and Outlook” pada Selasa (3/11/2026).
Diskusi tersebut menghadirkan Sekretaris Jenderal Gas Exporting Countries Forum (GECF) Dr. Philip Mshelbila dan dimoderatori Editor Energi Financial Times Malcolm Moore.
Dalam forum tersebut, Djoko menjelaskan Indonesia perlu menjaga keseimbangan antara komitmen ekspor gas dan kebutuhan energi domestik. Salah satu instrumen yang dapat digunakan adalah fleksibilitas kontrak untuk mengakomodasi perubahan permintaan pasar.
“Kami menegaskan kepada pembeli gas internasional bahwa prioritas utama Indonesia adalah memenuhi kebutuhan domestik. Setelah kebutuhan domestik terpenuhi, baru kami dapat melakukan ekspor,” kata Djoko.
Menurutnya, ketika permintaan gas dalam negeri meningkat, pemerintah akan melakukan pembahasan bersama konsumen gas internasional untuk mencari solusi yang menguntungkan semua pihak.
Partisipasi Indonesia di ADIPEC 2026 menjadi bagian dari strategi pemerintah memperluas akses investasi dan kemitraan global di sektor hulu migas.
Melalui kolaborasi dengan perusahaan energi internasional, Indonesia berharap potensi sumber daya migas dapat dikembangkan lebih optimal, produksi nasional meningkat, dan ketahanan energi domestik semakin kuat.
Baca juga :



