Search
Close this search box.

Ekosistem Hutan Rusak, Orangutan Tapanuli Terancam Punah

Ilustrasi orangutan Tapanuli di tengah ancaman kerusakan habitat hutan. Laporan Mighty Earth dan Satya Bumi menyoroti dampak Siklon Senyar serta tekanan terhadap kelestarian habitat orangutan Tapanuli di kawasan Batang Toru, Sumatera Utara.

Jakarta, SenayanTalks – Orangutan Tapanuli menghadapi ancaman kepunahan setelah kerusakan hutan di Ekosistem Batang Toru, Sumatera Utara, akibat Siklon Senyar pada November 2025. Laporan organisasi lingkungan Mighty Earth dan Satya Bumi memperkirakan bencana tersebut berpotensi menewaskan hingga 58 individu orangutan Tapanuli, sekitar 7 persen dari populasi spesies itu di alam liar.

Dalam laporan berjudul Kode Merah untuk Orangutan Tapanuli, kedua organisasi mendesak pemerintah Indonesia dan komunitas internasional menyusun rencana pemulihan darurat yang terkoordinasi untuk menyelamatkan spesies kera besar tersebut.

Laporan itu diluncurkan dalam konferensi ke-17 Konvensi Keanekaragaman Hayati Perserikatan Bangsa-Bangsa atau COP-CBD 17 di Yerevan, Armenia, pada 22 Oktober 2026. Forum tersebut membahas upaya global untuk mencapai target perlindungan keanekaragaman hayati, termasuk menghentikan kepunahan spesies.

Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) merupakan spesies orangutan yang baru diidentifikasi secara ilmiah sebagai spesies tersendiri pada 2017. Satwa ini hanya ditemukan di kawasan hutan Batang Toru, Sumatera Utara.

Menurut laporan Mighty Earth dan Satya Bumi, populasi orangutan Tapanuli diperkirakan tersisa sekitar 658 individu di alam liar. Jumlah tersebut membuat spesies ini sangat rentan terhadap kehilangan habitat, kematian individu, dan terputusnya hubungan antarpopulasi.

Amanda Hurowitz, pemimpin program kera besar di Mighty Earth, mengatakan orangutan Tapanuli membutuhkan tindakan segera untuk mencegah kepunahannya.

“Bahaya sudah di depan mata, tetapi kepunahan bukanlah hal yang tak terelakkan. Masih ada kesempatan untuk melindungi populasi yang tersisa, memulihkan hutan yang rusak, dan mengamankan masa depan bagi spesies luar biasa ini,” kata Amanda dalam keterangan laporan tersebut.

Laporan tersebut menyebut Siklon Senyar pada November 2025 membawa hujan lebih dari 1.000 milimeter selama empat hari. Bencana itu memicu banjir bandang dan longsor di sejumlah wilayah Sumatera Utara.

Di Ekosistem Batang Toru bagian barat, kerusakan hutan diperkirakan mencapai lebih dari 8.300 hektare atau sekitar 11,7 persen tutupan hutan di wilayah yang dikaji. Kerusakan tersebut berpotensi mengancam habitat orangutan Tapanuli yang tersisa.

Namun, angka 58 individu yang disebut dalam laporan merupakan perkiraan potensi kematian, bukan jumlah kematian orangutan yang telah terkonfirmasi.

Kerusakan habitat akibat bencana memperburuk tekanan yang sebelumnya sudah dihadapi spesies tersebut. Laporan itu menyebut ruang hidup orangutan Tapanuli terfragmentasi di kawasan seluas sekitar 1.420 kilometer persegi di Sumatera Utara.

Sebuah studi pada 2021 yang dirujuk dalam laporan tersebut memperkirakan populasi orangutan Tapanuli telah menurun 97,5 persen sejak 1890. Perkiraan itu menunjukkan besarnya tekanan historis terhadap kelangsungan hidup spesies tersebut.

Pertambangan dan Proyek PLTA Menekan Habitat Orangutan

Selain bencana alam, orangutan Tapanuli menghadapi ancaman dari pertambangan, pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA), ekspansi pertanian, deforestasi, dan perburuan.

Laporan Mighty Earth dan Satya Bumi menyoroti pembangunan PLTA Batang Toru yang dinilai berpotensi semakin memecah habitat orangutan. Fragmentasi hutan dapat memisahkan kelompok-kelompok satwa sehingga membatasi pergerakan dan meningkatkan risiko bagi populasi yang sudah kecil.

Laporan itu juga menyoroti perluasan tambang emas Martabe ke arah utara menuju habitat orangutan Tapanuli. Tambang tersebut disebut dimiliki melalui konglomerat Inggris Jardine Matheson.

Menurut kedua organisasi, hilangnya koridor hutan dapat memperbesar keterisolasian populasi orangutan dan mengurangi peluang mereka bertahan dalam jangka panjang.

Juru Kampanye Satya Bumi, Sadam Afian Richwanudin, meminta pemerintah Indonesia memimpin koordinasi antara pemerintah, organisasi masyarakat sipil, pelaku usaha, dan masyarakat lokal untuk menyusun strategi perlindungan orangutan Tapanuli.

“Pemerintah Indonesia perlu memimpin langkah untuk membawa para pemangku kepentingan duduk bersama merencanakan masa depan bagi yang paling terancam, yaitu Tapanuli. Bagi mereka, tidak ada rumah kedua. Hutan Batang Toru adalah satu-satunya rumah mereka,” ujar Sadam.

Ia juga menekankan pentingnya memastikan masyarakat lokal tidak tersisih dari upaya konservasi. Menurut dia, perlindungan habitat perlu berjalan beriringan dengan dukungan terhadap mata pencaharian masyarakat di sekitar hutan.

Selamatkan Orangutan Tapanuli

Mighty Earth dan Satya Bumi mendesak pemerintah, pelaku usaha, dan organisasi konservasi mengambil enam langkah untuk memulihkan populasi orangutan Tapanuli.

Pertama, melakukan survei terbaru untuk menghitung individu yang masih bertahan, memetakan kerusakan habitat, dan mencari kemungkinan populasi yang belum teridentifikasi.

Kedua, menghentikan kerusakan hutan dan memulihkan koridor habitat yang menghubungkan kelompok orangutan yang terisolasi.

Ketiga, memulihkan kawasan hutan Batang Toru bagian barat yang rusak akibat siklon melalui regenerasi alami dan penanaman kembali.

Keempat, mencegah kematian orangutan akibat perburuan, konflik manusia dan satwa liar, serta dampak pembangunan.

Kelima, menempatkan masyarakat adat dan masyarakat lokal sebagai bagian utama upaya konservasi sekaligus mendukung sumber penghidupan yang berkelanjutan.

Keenam, menyediakan pendanaan jangka panjang dan menyusun rencana pemulihan yang memiliki target populasi, target habitat, serta mekanisme pelaksanaan yang terukur.

Laporan tersebut juga merujuk seruan Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) mengenai moratorium proyek-proyek yang mengancam habitat orangutan Tapanuli hingga rencana pengelolaan konservasi diadopsi.

Profesor Jatna Supriatna, Ketua Institute for Sustainable Earth and Resources Universitas Indonesia, mengatakan upaya konservasi membutuhkan koordinasi yang lebih kuat di antara para pemangku kepentingan.

Menurut Jatna, kerja sama di lapangan telah berjalan melalui sejumlah koalisi, termasuk kelompok kerja Batang Toru. Namun, ia menilai masih diperlukan rencana pemulihan terpadu yang memiliki sasaran populasi, sasaran habitat, dan pendanaan khusus.

Profesor Serge Wich dari Liverpool John Moores University, yang turut membantu mengidentifikasi orangutan Tapanuli sebagai spesies tersendiri, memperingatkan bahwa kegagalan menyelamatkan spesies tersebut akan menjadi kegagalan besar bagi upaya konservasi.

Bagi para pegiat lingkungan, persoalan orangutan Tapanuli bukan sekadar menyelamatkan satu spesies. Perlindungannya juga berkaitan dengan masa depan hutan Batang Toru, keberlanjutan ekosistem Sumatera Utara, dan kemampuan pemerintah menyeimbangkan pembangunan dengan konservasi keanekaragaman hayati.

Baca juga :

Artikel Terkait

Berita Sebelumnya