Jakarta, SenayanTalks – Gelombang panas ekstrem kini menjadi salah satu ancaman terbesar terhadap pembangunan ekonomi global yang selama ini masih kerap diabaikan. Dampaknya tidak hanya menekan pertumbuhan ekonomi kota, tetapi juga membebani sistem kesehatan serta memperburuk kesenjangan sosial, terutama bagi perempuan yang bekerja di sektor informal.
Temuan tersebut diungkap dalam laporan terbaru Heat Resilience and Performance Accelerator (HERA) berjudul Counting the Cost of Heat: The Case for Urgent Solutions for Cities yang diluncurkan pada London Climate Action Week, Kamis (25/6/2026).
Laporan tersebut menganalisis dampak ekonomi dan sosial gelombang panas di empat kota dengan karakteristik iklim yang berbeda, yakni Ahmedabad (India), Bangkok (Thailand), Monterrey (Meksiko), dan Freetown (Sierra Leone).
Hasil kajian menunjukkan, gelombang panas telah mengurangi produk domestik bruto (PDB) kota sebesar 4 hingga 8 persen setiap tahun di empat kota tersebut. Kondisi itu juga menyebabkan lebih dari 1.000 kematian setiap tahun.
Secara global, perempuan yang bekerja di sektor informal diperkirakan kehilangan pendapatan hingga 57 miliar dollar AS per tahun akibat cuaca panas ekstrem atau setara dengan 4–11 persen dari total pendapatan mereka. Tanpa upaya adaptasi yang memadai, dampak tersebut diproyeksikan meningkat tiga hingga lima kali lipat pada 2050, dipicu perubahan iklim, urbanisasi yang pesat, dan meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia.
Chief Executive Officer HERA, Kathy Baughman McLeod, mengatakan bahwa gelombang panas bukan lagi ancaman iklim di masa depan, melainkan telah menjadi persoalan ekonomi dan kesehatan yang nyata.
“Gelombang panas ekstrem menggerus pertumbuhan ekonomi, kesehatan, dan kesetaraan. Bukti dalam laporan ini sangat jelas. Dampaknya paling besar dirasakan perempuan yang paling rentan terpapar dan memiliki perlindungan paling minim. Namun solusi tersedia, biayanya terjangkau, dan terbukti efektif,” ujar McLeod.
Perempuan Sektor Informal Paling Terdampak
Laporan HERA menyoroti bahwa dampak gelombang panas tidak dirasakan secara merata. Sekitar 740 juta perempuan yang bekerja di sektor informal di seluruh dunia menjadi kelompok dengan tingkat paparan tertinggi sekaligus perlindungan paling rendah.
Beberapa temuan utama dalam laporan tersebut antara lain:
- Perempuan pekerja sektor informal di hampir seluruh kawasan dunia, kecuali Amerika Serikat dan Eropa, kehilangan pendapatan sekitar 57 miliar dollar AS setiap tahun akibat gelombang panas.
- Banyak di antara mereka hanya memperoleh penghasilan sekitar 3 dollar AS per hari.
- Gelombang panas menyumbang proporsi kematian perempuan yang lebih tinggi dibanding laki-laki, bahkan mencapai 20 persen, dipengaruhi faktor biologis maupun kondisi sosial-ekonomi.
- Penurunan pendapatan perempuan berdampak langsung terhadap pengeluaran keluarga karena perempuan mengalokasikan hingga 90 persen pendapatannya untuk kebutuhan rumah tangga, pendidikan anak, gizi, dan layanan kesehatan.
Di Bangkok, misalnya, gelombang panas menyebabkan pengeluaran perempuan untuk kebutuhan anak berkurang hingga 500 dollar AS per tahun.
Selain itu, kehilangan produktivitas akibat suhu ekstrem membuat PDB Bangkok turun rata-rata 4 persen setiap tahun, bahkan dapat mencapai 8 persen pada tahun dengan suhu yang jauh lebih panas dari rata-rata. Nilai kerugian tersebut setara dengan total anggaran pemerintah kota Bangkok.
Sementara itu, di Freetown, gelombang panas meningkatkan rasio utang rumah tangga terhadap pendapatan sebesar 3 persen setiap tahun, sehingga mengurangi kemampuan masyarakat untuk berinvestasi pada pendidikan maupun usaha.
Di Monterrey, jumlah kelahiran prematur yang dipicu suhu panas diperkirakan meningkat lebih dari tiga kali lipat dalam 25 tahun mendatang.
Laporan juga mencatat produktivitas perempuan menurun antara 3 persen di Monterrey hingga 11 persen di Bangkok. Karena pendapatan perempuan pada umumnya sudah lebih rendah dibanding laki-laki, penurunan produktivitas tersebut memberikan dampak ekonomi yang lebih besar terhadap keluarga.
Suhu Malam Hari Ikut Memperparah Risiko
HERA juga menyoroti meningkatnya suhu pada malam hari sebagai ancaman yang selama ini kurang mendapat perhatian.
Suhu malam yang tetap tinggi membuat tubuh tidak memiliki kesempatan untuk memulihkan diri setelah terpapar panas sepanjang hari. Bersama gelombang panas yang berlangsung berhari-hari, kondisi tersebut berkontribusi terhadap 85 persen kematian terkait panas.
Risiko paling besar dialami masyarakat berpenghasilan rendah yang tinggal di rumah dengan material penyerap panas seperti seng dan logam, terutama di kawasan padat penduduk seperti Freetown.
Solusi Adaptasi Dinilai Lebih Murah Dibanding Kerugiannya
Meski dampaknya semakin besar, laporan HERA menyebut berbagai langkah adaptasi relatif murah dan mampu memberikan manfaat ekonomi yang jauh lebih besar.
Sejumlah langkah yang direkomendasikan meliputi penyusunan Heat Response Plan, pembangunan ruang terbuka hijau, pemasangan atap reflektif (cool roofs), perlindungan tenaga kerja, hingga asuransi kehilangan pendapatan akibat gelombang panas.
Menurut laporan tersebut, kombinasi berbagai kebijakan tersebut berpotensi menurunkan angka kematian akibat gelombang panas lebih dari 36 persen pada 2050.
Heat Response Plan bahkan menghasilkan manfaat ekonomi antara 12 hingga 90 kali lebih besar dibanding biaya implementasinya.
Sementara itu, penggunaan atap reflektif mampu menurunkan suhu dalam ruangan antara 2 hingga 7 derajat Celsius, sehingga memberikan perlindungan lebih baik bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Adapun skema asuransi kehilangan pendapatan bagi pekerja sektor informal diperkirakan mampu mengurangi kehilangan penghasilan perempuan hingga lebih dari 40 persen pada 2050.
McLeod menilai kebijakan adaptasi harus dirancang secara inklusif agar menjangkau kelompok paling rentan.
“Kita tidak bisa lagi merancang respons terhadap gelombang panas seolah semua orang mengalami dampak yang sama. Ketika solusi dirancang bersama perempuan pekerja sektor informal, bukan hanya untuk mereka, manfaatnya jauh lebih besar dalam menyelamatkan nyawa dan melindungi pendapatan,” katanya.
HERA Luncurkan Alat Analisis Dampak Gelombang Panas
Bersamaan dengan peluncuran laporan tersebut, HERA juga memperkenalkan perangkat analisis global yang memungkinkan pemerintah, peneliti, dan lembaga pembangunan mengukur dampak gelombang panas terhadap kesehatan dan ekonomi di 11.408 kota di 190 negara.
Platform tersebut memungkinkan pengguna membandingkan berbagai strategi adaptasi, menghitung biaya dan manfaatnya, serta memproyeksikan dampak gelombang panas hingga tahun 2050.
Dalam laporannya, HERA menegaskan terdapat empat langkah mendesak yang perlu dilakukan pemerintah dan pemangku kepentingan, yakni memperkuat pembiayaan adaptasi, membangun kolaborasi lintas sektor, meningkatkan riset mengenai dampak gelombang panas terhadap perempuan, serta memperluas literasi masyarakat mengenai risiko cuaca panas ekstrem.
Baca juga :



