Search
Close this search box.

Forum Internasional GNAA, Perkuat Ketahanan Pangan Hadapi Perubahan Iklim

Petani menjadi salah satu kelompok yang terdampak perubahan iklim. (FOTO: Antara)

Bogor, SenayanTalks – IPB University menggelar forum internasional bertajuk Global Network for Advanced Agromaritime (GNAA) 2026 untuk memperkuat kolaborasi petani, nelayan, dan akademisi dalam menghadapi dampak perubahan iklim terhadap sektor pangan.

Kegiatan yang berlangsung pada 20-22 April 2026 di Kampus IPB University, Bogor, ini diikuti 33 peserta dari tujuh negara, yakni Indonesia, Thailand, Filipina, Malaysia, Brunei Darussalam, Taiwan, dan Kamboja.

Forum tersebut diselenggarakan oleh Bidang Pengembangan Tani dan Nelayan, Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LP2AI) IPB University.

Ketua panitia, Roza Yusfiandayani, mengatakan perubahan iklim kini menjadi tantangan nyata yang dihadapi petani dan nelayan setiap hari.

“Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realita yang dihadapi setiap hari oleh para petani dan nelayan kita,” ujar Roza dalam keterangan tertulis, Rabu (23/4/2026).

Menurut dia, GNAA dirancang untuk mengintegrasikan kearifan lokal dengan inovasi ilmiah guna memperkuat ketahanan pangan di kawasan Asia.

Indonesia sebagai tuan rumah menghadirkan 10 petani dan 10 nelayan dari berbagai daerah, mulai dari Aceh hingga Papua.

Mereka berbagi pengalaman langsung dalam menjaga produktivitas pertanian dan perikanan di tengah perubahan cuaca yang semakin ekstrem.

Forum ini juga menjadi ruang dialog antara pelaku lapangan dan akademisi untuk merumuskan strategi adaptasi berbasis kebutuhan nyata di sektor agromaritim.

Luncurkan White Paper Perubahan Iklim

Puncak kegiatan ditandai dengan penandatanganan inisiasi pembentukan Konsorsium Global Network for Advanced Agromaritime.

Kesepakatan tersebut melibatkan perwakilan universitas dan negara mitra dari Taiwan, Thailand, Malaysia, Filipina, Brunei Darussalam, dan Kamboja, bersama perwakilan petani dan nelayan dari berbagai negara.

Menurut Roza, konsorsium ini diharapkan menjadi wadah kolaborasi jangka panjang untuk memperkuat kapasitas petani dan nelayan dalam menghadapi ketidakpastian iklim.

Selain pembentukan konsorsium, GNAA 2026 juga meluncurkan white paper tentang pertanian dan perikanan dalam menghadapi perubahan iklim.

Dokumen strategis tersebut disusun bersama LaporIklim dan Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia sebagai rekomendasi kebijakan bagi pengembangan sektor agromaritim berkelanjutan.

IPB University berharap inisiatif ini dapat melahirkan solusi adaptif sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi petani dan nelayan di kawasan Asia Tenggara.

Melalui GNAA, IPB ingin membangun jejaring global agromaritim yang tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga motor penggerak kolaborasi lintas negara untuk menjawab tantangan krisis iklim dan menjaga ketahanan pangan dunia.

Baca juga :

Artikel Terkait

Berita Sebelumnya