Jakarta, SenayanTalks — Komisi XII DPR RI menilai target lifting minyak bumi sebesar 610 ribu barel per hari (bph) dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 masih realistis untuk dicapai.
Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya mengatakan pemerintah perlu menggenjot produksi dari lapangan migas yang sudah beroperasi sekaligus mempercepat pengembangan sumur-sumur baru untuk mengejar target tersebut.
Namun, upaya meningkatkan lifting minyak nasional menghadapi tantangan berupa penurunan produksi alamiah atau natural decline, terutama dari lapangan-lapangan migas yang telah memasuki fase maturitas.
“Target 610 ribu barel per hari ini target yang realistis dan memang kita harus agak meningkat dibanding sebelumnya. Kita tahu bahwa prestasi tahun 2025 kemarin, kita untuk pertama kali rebound dan kemudian melampaui target APBN,” ujar Bambang, Jumat (14/8/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Bambang setelah mengikuti Sidang Tahunan MPR RI, Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI, serta Rapat Paripurna DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Target lifting minyak dan gas bumi tersebut sebelumnya disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam pidato penyampaian RAPBN 2027.
Menurut Bambang, capaian lifting migas pada periode sebelumnya menjadi salah satu alasan DPR optimistis target 610 ribu bph dapat dicapai. Kendati demikian, pemerintah tetap perlu mengantisipasi penurunan produksi dari lapangan-lapangan tua.
Natural Decline Jadi Tantangan
Bambang menyoroti natural decline sebagai salah satu tantangan utama dalam mengejar target lifting minyak 2027. Natural decline merupakan penurunan produksi migas secara alamiah seiring dengan bertambahnya usia sumur dan lapangan.
Ia mencontohkan kondisi di Blok Cepu yang menghadapi natural decline cukup tinggi. Karena itu, optimalisasi produksi dari lapangan yang masih beroperasi menjadi penting agar penurunan produksi tidak terlalu dalam.
“Melihat dari capaian yang ada, walaupun kita melihat ada beberapa kendala-kendala lapangan, adanya natural decline yang cukup tinggi pada Cepu, tetapi kita juga melihat bagaimana upaya optimalisasinya itu dari semua pihak. Sehingga dengan demikian kita melihat target 610 ini menurut saya realistis dan achievable,” katanya.
Untuk mengantisipasi natural decline, Bambang mendorong pemerintah dan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengoptimalkan produksi dari sumur existing.
Pada saat yang sama, pengembangan lapangan dan sumur baru perlu dipercepat untuk menambah produksi nasional. Strategi tersebut dinilai penting untuk menutup penurunan produksi dari lapangan-lapangan yang sudah tua.
Dorong EOR dan Aktifkan Idle Wells
Optimalisasi lapangan migas dapat dilakukan melalui pemanfaatan teknologi, termasuk Enhanced Oil Recovery (EOR) atau teknologi peningkatan perolehan minyak.
Selain EOR, pemerintah juga didorong mengaktifkan kembali idle wells, yakni sumur-sumur yang tidak lagi berproduksi atau produksinya telah berhenti.
Dengan kombinasi strategi tersebut, produksi dari lapangan existing diharapkan dapat dipertahankan, sementara tambahan produksi diperoleh dari pengembangan lapangan dan sumur baru.
Bambang menilai pendekatan tersebut menjadi penting karena peningkatan lifting minyak tidak cukup hanya mengandalkan penemuan cadangan baru. Pemerintah juga perlu memastikan potensi produksi dari aset migas yang sudah ada dapat dimaksimalkan.
Lifting Gas Realistis
Optimisme Bambang tidak hanya berlaku untuk lifting minyak. Ia juga menilai target lifting gas bumi nasional masih berpeluang dicapai.
Sejumlah sumur gas baru mulai berproduksi dan diharapkan memberikan tambahan pasokan untuk mengimbangi penurunan produksi pada sejumlah lapangan existing.
“Untuk lifting gas juga demikian. Walaupun beberapa sumur kita ada mengalami natural decline, tetapi kita sekarang ini mulai memproduksi beberapa sumur-sumur gas baru. Saya cukup optimis bahwa progres lapangannya cukup bagus, jadi baik untuk lifting crude maupun lifting gas menurut saya semuanya realistis dan achievable,” tutur politikus Partai Golkar tersebut.
Dengan demikian, pencapaian target lifting migas 2027 akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah menjaga produksi lapangan existing sekaligus mempercepat kontribusi dari sumur-sumur baru. Optimalisasi teknologi dan percepatan pengembangan lapangan menjadi kunci untuk menjaga produksi migas nasional di tengah natural decline.
Baca juga :



