Tangerang, SenayanTalks – Pagi itu, tidak ada aktivitas yang menonjol di Puskesmas Pasir Jaya, kabupaten Tangerang, Banten. Petugas Puskesmas mulai bersiap-siap menyambut kedatangan pasien. Ada yang berjaga di loket, mengatur area parkir, membantu mengarahkan warga yang datang untuk mengambil nomor antrean, hingga petugas kebersihan yang membersihkan halaman Puskesmas agar siap menyambut warga.
Dengan langkah mantap, Siti Hawa (65 tahun) berjalan menuju loket Puskemas dengan diantar suaminya. Ia datang bukan karena merasakan sakit tetapi ingin memastikan kondisi tubuhnya melalui pemeriksaan kesehatan. Di usianya yang telah memasuki masa lanjut usia, Siti Hawa memilih tak lagi menunggu tubuhnya memberikan sinyal alarm tubuhnya seperti dahulu. Pengalaman menunda keluhan kecil membuatnya sadar bahwa kesehatan perlu diperiksa sebelum masalah datang.
“Saya pernah diantar anak ke rumah sakit. Saat itu, dada terasa sakit, tangan kesemutan, kepala pusing, dan tubuh lebih lemah dari biasanya. Setelah diperiksa, ternyata kolesterolnya tinggi dan tekanan darahnya rendah,” ujar Siti yang akrab dipanggil Siwa.
Sejak saat itu, ia mulai lebih berhati-hati menjaga tubuhnya. Perlahan mengurangi makanan tertentu dan menghindari aktivitas yang terlalu berat. Ia pun mulai memperhatikan tanda-tanda bila tubuhnya sedang tidak baik-baik saja.
“Saya sekarang memilih tak lagi menunggu tubuhnya memberikan sinyal alarm. Saya sadar bahwa periksa kesehatan tak harus sakit terlebih dahulu,” jelas Siwa sambil tersenyum.
Bagi Siwa, periksa kesehatan bukan menjadi pengalaman baru. Sebelumnya ia sering memeriksakan diri ke rumah sakit terdekat menggunakan BPJS. Kali ini, ia ingin memanfaatkan pelayanan kesehatan di Puskesmas.
Registrasinya cukup mudah hanya menunjukan kartu identitas diri dan tujuan ke Puskesmas, kemudian pasien akan mendapatkan nomor antrean, dan prosesnya tanpa biaya. Loket sudah mulai dibuka tepat pukul delapan pagi.
“Program cek kesehatan gratis memang riil gratis. Saya menunggu kurang dari 15 menit sebelum diperiksa. Dokter dan petugas puskesmas melayani dengan baik,” jelas Siwa.
Siwa menjalani pemeriksaan kesehatan mulai dari pengecekan tekanan darah, kemudian petugas menggali keluhan yang dirasakan pasien. Selanjutnya ia menuju bagian farmasi Puskesmas dan kembali menunggu namanya dipanggil oleh petugas. Setelah itu, mendapatkan obat secara gratis dan kemudian ia pulang.

Banyak sungkan periksa
Bagi sebagian orang, pemeriksaan kesehatan masih menjadi sesuatu yang bisa ditunda. Selama tubuh tidak menunjukan keluhan, datang ke fasilitas kesehatan belum dianggap sebagai kebutuhan. Padahal pemerintah telah menyediakan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) agar masyarakat dapat memeriksa kondisi tubuhnya cuma-cuma alias gratis.
Berdasarkan diskusi dengan tenaga kesehatan Puskesmas Pasir Jaya, kabupaten Tangerang, terungkap bahwa masyarakat yang mengikuti CKG berasal dari berbagai kelompok usia dan gender. Dari bayi usia dua hari hingga lansia. Ada yang datang untuk memeriksa kondisi kesehatan sekaligus berkonsultasi mengenai keluhan yang mereka alami.
Pemeriksaan disesuaikan dengan kebutuhan dan kelompok usia. Fokus utama Deteksi Penyakit Tidak Menular (PTM), tekanan darah, gula darah, fungsi ginjal, mata, telinga, gigi, termasuk masalah psikologis.
Progam CKG di Puskesmas Pasir Jaya telah menjangkau dua puluh ribu masyarakat. Berdasarkan data pada dashboard Sehat Indonesiaku Kementerian Kesehatan yang diperbarui 14 Agustus 2026 pukul 20.35 WIB, tercatat 27.800 orang telah mendaftar untuk mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 27.122 orang atau 97,56 persen tercatat hadir. Sementara itu, sekitar 2,44 persen lainnya tercatat sebagai peserta yang memiliki janji temu.
Meski kesempatan pemeriksaan telah tersedia, partisipasi masyarakat masih menjadi tantangan. Banyak yang sungkan dan merasa tidak perlu periksa kesehatan karena kondisinya baik-baiknya saja. Bahkan datang ke puskesmas dianggap merepotkan dan pelayanannya tidak sebaik dengan rumah sakit.
Kepala Puskesmas Pasir Jaya Ratna Asih mengatakan pihaknya menerapkan sistem jemput bola untuk mengajak masyarakat melakukan pemeriksaan kesehatan gratis. Pelaksanaan CKG tidak hanya dilaksanakan di puskesmas, tetapi juga sekolah, posyandu, kantor, pabrik, hingga berbagai tempat kegiatan masyarakat.
“Kami menerapkan jemput bola karena sasaran cukup besar dan setiap kelompok usia memiliki hambatan yang berbeda dalam mengakses layanan kesehatan,” ujar Ratna.
Menurut Ratna, mempertahankan partisipasi masyarakat mengikuti program CKG bukan perkara sederhana. Oleh karena itu, pihaknya tidak hanya menunggu masyarakat datang ke puskesmas, tetapi juga aktif melakukan sosialisasi melalui media sosial Puskesmas Pasir Jaya, berkoordinasi dengan RT/RW dan aktif dalam kegiatan di lingkungan masyarakat.
“Yang tak kalah penting adalah kemudahan akses juga menjadi bagian penting dari keberlangsungan program CKG,” tegas Ratna.
Ratna mengungkapkan jumlah masyarakat yang berpartisipasi dan hadir dalam program CKG di Puskesmas Pasir Jaya cenderung fluktuatif. Grafik perkembangan peserta pada dashboard memperlihatkan jumlah peserta yang berubah dari waktu ke waktu. Pada periode tertentu, jumlah kedatangan bahkan meningkat dibandingkan hari-hari lainnya.
Meski begitu, pendekatan jemput bola dinilai Ratna cukup efektif mengajak masyarakat mengikuti CKG. Perlahan tapi pasti masyarakat mulai sadar dan mengetahui bahwa perlu periksa kesehatan walaupun tidak merasakan sakit.
Ratna mengingatkan bahwa program CKG ingin mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan melalui pemeriksaan kesehatan secara berkala dan mendeteksi dini berbagai faktor risiko penyakit. Dengan mengetahui kondisi kesehatan sejak awal, masyarakat mendapatkan penanganan medis yang tepat, mencegah penyakit berkembang lebih serius dan meningkatkan kualitas hidup. Hal ini sesuai dengan slogan yang digaungkan Kementerian Kesehatan, “Cek Kesehatan Gratis: Cegah Dini, Tuntas Obati”.
Selain itu, program CKG tidak hanya sebatas kegiatan pemeriksaan kesehatan, tetapi juga memperluas cara puskesmas mengenali kondisi kesehatan masyarakat. Pemeriksaan yang dilakukan dapat menemukan berbagai persoalan yang sebelumnya mungkin tidak diketahui, mulai dari masalah gigi dan gizi pada anak, anemia pada remaja, hingga persoalan kesehatan jiwa.
Di sekolah, misalnya, tenaga kesehatan menemukan persoalan kesehatan yang tidak selalu terlihat dari kondisi fisik. Pada anak SD, masalah yang ditemukan antara lain berkaitan dengan kesehatan gigi, gizi, berat badan, hingga penggunaan gawai yang berlebihan. Sementara pada remaja SMP dan SMA, anemia menjadi salah satu persoalan yang cukup menonjol.
“Sekitar 70 siswa/i di SMP Negeri 3 Cikupa dan SMP Nurul Huda terdeteksi mengalami anemia dalam pemeriksaan yang dilakukannya,” kata Bidan Vicca saat ditemui di Puskesmas Pasir Jaya.
Temuan lainnya datang dari layanan kesehatan jiwa. Sejumlah remaja datang bukan karena keluhan fisik, melainkan karena membutuhkan tempat untuk bercerita. Persoalan seperti perundungan, dikucilkan, dan masalah pergaulan menjadi cerita yang dibawa ke ruang konsultasi. Sebagian dapat ditangani melalui konseling, sementara kasus tertentu membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa hasil CKG tidak berhenti ketika pemeriksaan selesai. Pasien yang membutuhkan perhatian lebih lanjut dapat memperoleh edukasi, konseling, atau rujukan.
Hasil pemeriksaan juga dapat diterima paling lambat dua hari setelah pemeriksaan. Bagi masyarakat yang memiliki telepon seluler, informasi dapat disampaikan melalui komunikasi digital. Sementara bagi mereka yang tidak memiliki akses tersebut, data pemeriksaan tetap disimpan oleh puskesmas dan dapat ditanyakan kembali melalui loket administrasi.
Di sinilah CKG memperlihatkan tantangan berikutnya: pemeriksaan hanyalah langkah awal. Setelah masalah ditemukan, masyarakat membutuhkan akses terhadap informasi, konseling, pengobatan, maupun pemeriksaan lanjutan.
Pada saat yang sama, seluruh proses tersebut berlangsung berdampingan dengan pelayanan kesehatan rutin. Puskesmas tetap membuka layanan umum, BPJS, imunisasi, lansia, kesehatan jiwa, serta pelayanan ibu dan anak. Tenaga kesehatan yang bertugas dalam CKG juga harus membentuk tim untuk pelayanan di luar gedung, sementara pelayanan di dalam puskesmas tetap berjalan.
Dengan itu, sangat diharapkan untuk masyarakat juga ikut serta dalam program CKG yang telah bergulir selama 2 tahun. Program ini bukan sebatas untuk melihat kesehatan warga sekitar, tapi mencari solusi tindak lanjut yang dapat dilakukan jika adanya penyakit yang membutuhkan penanganan segera.
Reporter : Ari Kusumawati, Made Indra Sukma Adnyana
Baca juga :

