Jakarta, SenayanTalks – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dinilai berpotensi mengancam kedaulatan data, kebebasan manusia dalam menentukan pilihan, hingga kemampuan berpikir kritis. Peringatan itu disampaikan Konselor Kebudayaan Republik Islam Iran di Indonesia, Yahya Jahangiri, dalam konferensi internasional SICIESST 2026 di Padangsidimpuan, Sumatera Utara.
Dalam pidatonya di International Conference on Islamic Studies, Education, Science, and Social Transformation (SICIESST 2026), Yahya mengatakan penguasaan data dalam skala besar dapat menjadi sumber kekuatan baru yang memengaruhi kehidupan masyarakat dan kedaulatan suatu negara.
Menurut dia, data mengenai ekonomi, gaya hidup, kesehatan, perilaku individu, hingga pilihan sehari-hari manusia kini menjadi sumber daya strategis. Jika terkonsentrasi pada segelintir kekuatan besar, penguasaan data tersebut berpotensi memengaruhi independensi pengambilan keputusan negara.
“Dominasi atas data dapat menjelma menjadi bentuk kolonialisme baru, bukan melalui kekuatan militer atau politik, melainkan lewat kendali informasi dan pemetaan perilaku manusia,” kata Yahya dalam konferensi yang berlangsung pada 31 Oktober hingga 1 November 2026 di Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary, Padangsidimpuan.
Konferensi tersebut mengangkat tema Memajukan Pengetahuan dan Peradaban Manusia di Era AI: Integrasi Nilai-Nilai Islam, Inovasi Inklusif, dan Masa Depan yang Berkelanjutan. Forum ini diikuti pembicara dan peneliti dari sejumlah negara, antara lain negara-negara Afrika, Afganistan, Malaysia, dan Iran.
Algoritma dan Kebebasan Memilih Manusia
Selain persoalan kedaulatan data, Yahya menyoroti pengaruh algoritma terhadap kebebasan manusia dalam menentukan pilihan. Menurut dia, teknologi AI memang menawarkan beragam informasi dan alternatif, tetapi algoritma di baliknya dapat mengarahkan preferensi pengguna berdasarkan pola perilaku yang telah dipetakan.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana manusia masih memiliki kebebasan dalam mengambil keputusan ketika pilihan yang tersedia telah dipengaruhi sistem algoritma.
Yahya menilai persoalan ini tidak cukup dibahas dari sisi kemampuan teknologi. Para filsuf, teolog, dan cendekiawan Muslim perlu mengkaji implikasinya terhadap otonomi kehendak, kebebasan, serta tanggung jawab moral manusia.
Ia juga mengingatkan bahwa kemudahan yang ditawarkan AI tidak seharusnya membuat manusia kehilangan kemampuan berpikir mandiri.
Dalam konteks pendidikan, ketergantungan berlebihan terhadap teknologi kecerdasan buatan berisiko melemahkan daya kritis dan kreativitas. Sistem pendidikan, menurut dia, perlu memastikan peserta didik tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan menguji informasi, mengembangkan gagasan, dan menghasilkan pemikiran orisinal.
AI Tidak Bisa Menggantikan Seluruh Pengetahuan Manusia
Dari perspektif filsafat Islam, Yahya menjelaskan perbedaan antara ilmu hushuli dan ilmu hudhuri. Ilmu hushuli merupakan pengetahuan yang diperoleh melalui konsep, representasi, dan proses berpikir. Sementara ilmu hudhuri merujuk pada pengetahuan yang hadir secara langsung melalui pengalaman dan kesadaran batin.
Menurut dia, AI memiliki kemampuan untuk mengolah data, mengenali pola, menganalisis konsep, dan memproses teks. Namun, kemampuan tersebut tidak serta-merta dapat disamakan dengan keseluruhan kapasitas pengetahuan manusia.
Dengan merujuk pada tradisi filsafat Islam, khususnya pemikiran iluminasi Suhrawardi, Yahya menekankan bahwa pengalaman langsung dan intuisi manusia memiliki dimensi yang tidak dapat direduksi menjadi pemrosesan data oleh mesin.
Karena itu, perkembangan AI perlu diimbangi kajian epistemologis dan etis. Cendekiawan Muslim, kata dia, tidak semestinya hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga terlibat dalam merumuskan dasar pemikiran dan kerangka etika yang mengatur pemanfaatannya.
Iran Soroti Kemajuan Sains dan Peran Perempuan
Dalam kesempatan yang sama, Yahya memaparkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi Iran setelah Revolusi Islam. Ia menyebut kemajuan tersebut mencakup bidang humaniora, teknik, kedokteran, hingga teknologi mutakhir.
Menurut Yahya, perkembangan sains Iran didukung oleh kepercayaan diri nasional, kemandirian ilmiah, serta kerja keras para peneliti. Ia juga menilai capaian tersebut perlu diperkenalkan secara objektif kepada komunitas akademik internasional.
Yahya turut menyoroti keterlibatan perempuan Iran dalam pendidikan tinggi, penelitian, dan aktivitas akademik. Ia mengkritik pemberitaan sejumlah media internasional yang dinilainya belum menggambarkan secara utuh partisipasi perempuan Iran dalam bidang pendidikan dan kehidupan sosial.
Ia juga menyampaikan bahwa Iran memiliki pusat-pusat riset dan produk berbasis pengetahuan yang mengembangkan teknologi kecerdasan buatan. Potensi tersebut, menurut dia, dapat menjadi salah satu landasan untuk memperkuat kerja sama ilmiah antarnegara Islam.
Dunia Islam Perlu Terlibat dalam Tata Kelola AI
Yahya menilai negara-negara Islam perlu mengambil peran lebih besar dalam perkembangan kecerdasan buatan. Keterlibatan tersebut tidak cukup diwujudkan melalui penggunaan teknologi, tetapi juga melalui pengembangan riset, teori, dan kerangka etika yang mempertimbangkan nilai-nilai kemanusiaan.
Ia mengingatkan bahwa masa depan peradaban Islam di era digital tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengakses teknologi canggih. Kemampuan mengkritisi fondasi filosofis teknologi dan merumuskan tata kelola yang adil juga menjadi bagian penting.
Dalam pidatonya, Yahya mengaitkan tantangan tersebut dengan warisan intelektual para pemikir Muslim, seperti Al-Khawarizmi, Suhrawardi, Mulla Sadra, dan Allamah Tabatabai.
Menurut dia, tradisi intelektual Islam memiliki modal pemikiran untuk terlibat dalam perdebatan mengenai masa depan teknologi dan kemanusiaan.
Perkembangan AI, dengan demikian, bukan semata persoalan inovasi teknologi. Penguasaan data, kebebasan manusia, etika, dan kemampuan berpikir mandiri menjadi sejumlah persoalan yang perlu dijawab agar kemajuan teknologi tidak mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.
Baca juga :



