Fakfak, SenayanTalks – Tim Ekspedisi Patriot Universitas Padjadjaran (TEP Unpad) 2026 menyediakan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) untuk empat fasilitas umum di Distrik Bomberay dan Tomage, Kabupaten Fakfak, Papua Barat.
Penyediaan PLTS tersebut dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan listrik masyarakat, terutama di tengah kondisi pasokan listrik yang belum stabil di kawasan transmigrasi Bomberay-Tomage.
Sebelumnya, masyarakat di kawasan tersebut hanya menikmati listrik selama 12 jam, yakni mulai pukul 18.00 hingga 06.00 WIT. Pasokan listrik selama 24 jam baru terealisasi pada 1 Oktober 2026. Namun, operasionalnya masih dalam tahap uji coba dan pemadaman masih terjadi pada waktu tertentu untuk pemeliharaan mesin.
Empat fasilitas yang menjadi penerima bantuan PLTS adalah SMK Negeri 2 Fakfak, Gereja Advent di Kampung Warisa Mulya, Puskesmas Bomberay, dan sumur komunal di Kampung Thessa.
Ketua TEP Unpad 2026, Eksa Pamungkas, mengatakan pemilihan lokasi tersebut didasarkan pada kebutuhan listrik untuk mendukung pelayanan dasar masyarakat.
Menurut dia, ketersediaan energi menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik, mulai dari kesehatan hingga pendidikan. Selain itu, PLTS juga diharapkan menjadi alternatif penyediaan energi bagi wilayah yang belum terjangkau jaringan listrik.
“Di puskesmas, listrik dibutuhkan untuk mendukung operasional pelayanan kesehatan. Sementara di lingkungan SMK, listrik dibutuhkan untuk menunjang stabilitas penggunaan perangkat elektronik dalam kegiatan belajar-mengajar,” ujar Eksa, Selasa (27/10/2026).

Kepala Puskesmas Bomberay, Abdul Aziz Al Zubadi, mengatakan keberadaan PLTS akan membantu menjaga keberlangsungan pelayanan kesehatan ketika pasokan listrik utama mengalami gangguan.
“Meskipun listrik sudah ada 24 jam, tetapi itu masih belum stabil. Makanya kalau ada PLTS kami jadi sangat terbantu, khususnya dalam penyediaan layanan kesehatan masyarakat dan menghemat biaya listrik bulanan atau bahan bakar untuk genset,” kata Abdul Aziz.
Manfaat serupa dirasakan sektor pendidikan. Kepala SMK Negeri 2 Fakfak, Muhammad Nasir, menilai PLTS dapat mendukung kegiatan belajar-mengajar, khususnya penggunaan laboratorium komputer dan perangkat elektronik lainnya.
Menurut Nasir, kebutuhan listrik semakin penting seiring dengan perkembangan pembelajaran digital. Namun, keterbatasan peralatan dan sumber daya masih menjadi tantangan dalam menunjang kegiatan operasional sekolah.
Teknologi PLTS Hybrid
PLTS yang disiapkan TEP Unpad menggunakan sistem hybrid yang dikembangkan melalui kerja sama dengan alumni Universitas Padjadjaran di bawah CV QR Smart Device.
Salah satu Ketua TEP Unpad 2026, Syawaludin Alisyahbana Harahap, menjelaskan sistem tersebut dirancang agar lebih mudah dioperasikan dan dipantau menggunakan telepon pintar.
“Perangkat PLTS Smart Hybrid tipe ini lebih mudah digunakan dan efisien karena dapat tersambung dan diatur melalui smartphone,” ujar Syawaludin, Rabu (28/10/2026).
Adapun kapasitas perangkat yang disediakan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing fasilitas. PLTS berkapasitas 1,2 kilowatt (kW) disiapkan untuk Gereja Advent di Kampung Warisa Mulya dan sumur komunal Kampung Thessa.
Sementara itu, SMK Negeri 2 Fakfak mendapatkan PLTS berkapasitas 6 kW. Adapun perangkat berkapasitas 5 kW untuk Puskesmas Bomberay masih dalam proses pengiriman.
Saat ini, TEP Unpad masih menunggu penyaluran satu paket PLTS terakhir ke Bomberay dan sedang melakukan proses instalasi tiga paket lainnya.
Kemandirian Energi
Program penyediaan PLTS tersebut merupakan bagian dari kegiatan riset dan pengabdian TEP Unpad 2026 melalui Pasoepati Padjadjaran (Pusat Sosial-Ekonomi dan Pengembangan Agro Tekno Industri).
Program ini diarahkan untuk mendorong peningkatan pelayanan publik sekaligus memperkuat kemandirian energi terbarukan di kawasan transmigrasi.
Selain menyediakan perangkat, TEP Unpad juga merencanakan sosialisasi penggunaan dan pemeliharaan PLTS pada November 2026. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan secara hybrid agar dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.
Materi sosialisasi meliputi prinsip kerja PLTS, tata cara pengoperasian, pemantauan kondisi perangkat, hingga pemeliharaan dasar. Langkah ini dinilai penting agar masyarakat dan pengelola fasilitas dapat merawat instalasi secara mandiri setelah program TEP Unpad berakhir.
Inisiatif tersebut juga mendapat respons positif dari pemerintah daerah dan masyarakat setempat. Kepala Dinas Transmigrasi Kabupaten Fakfak, Lud Masrur Kamudi, menyampaikan ketertarikannya untuk mempertimbangkan pemanfaatan PLTS di kantor dinas. Kapolsek Bomberay juga menunjukkan minat untuk mengembangkan pemanfaatan energi surya di lingkungan permukiman warga.
Meski demikian, pengembangan PLTS ke lokasi lain perlu mempertimbangkan kebutuhan daya, pola penggunaan listrik, kapasitas penyimpanan energi, serta perhitungan ekonomi.
Melalui program ini, TEP Unpad berharap pemanfaatan energi surya dapat menjadi salah satu solusi untuk memperkuat akses energi di Bomberay-Tomage, sekaligus mendukung peningkatan kualitas pelayanan publik dan pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

Baca juga :



