Sabtu malam, 22 Agustus 2026, menjadi hari yang punya kenangan khusus di hati warga Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Sekitar pukul 20.00 WITA, ratusan rumah yang berada di kampung Sade, ludes dilalap api.
Total ada 167 bangunan hangus, terdiri dari 75 rumah adat, 69 toko kerajinan, delapan lumbung padi, enam berugak sekepat, serta sejumlah fasilitas lainnya. Ada 120 kepala keluarga menjadi korban kebakaran dengan total jumlah warga mencapai 320 orang.
Bagi warga suku Sasak yang menghuni desa Sade, rumah yang mereka tempati punya makna lebih. Ada kehidupan adat, tradisi, dan warisan leluhur yang dirawat dan dijaga selama 15 generasi. Ketika puluhan rumah adat dilalap api, yang ikut terancam hilang bukan hanya bangunan, melainkan jejak kehidupan yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Berbagai benda yang menyimpan kenangan dan nilai sejarah, termasuk keris dan naskah kuno, ikut musnah dalam kebakaran malam itu.
Desa wisata budaya
Di Indonesia, masih ada banyak masyarakat adat yang mempertahankan cara hidup, pengetahuan, dan tradisinya di tengah perubahan zaman. Desa Adat Sade menjadi salah satunya.
Mengutip Indonesia Travel, Sade merupakan sebuah dusun di wilayah Rembitan yang berkembang menjadi salah satu tujuan wisata di Lombok Tengah. Letaknya berada di jalur Praya-Kuta dan menjadikan desa ini mudah dijangkau oleh wisatawan.
Rumah-rumah di desa ini dibangun dengan pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun. Sebagian besar masih mempertahankan bentuk rumah tradisional Sasak dengan atap dari ilalang serta material seperti kayu, bambu, dan tanah.
Atap yang terbuat dari ilalang pun tidak bersifat permanen. Dalam tradisi masyarakat setempat, atap tersebut diganti setiap sekitar delapan tahun sekali. Lantai rumah secara berkala dilulur menggunakan kotoran kerbau atau sapi agar tidak retak dan berdebu.
Bangunan-bangunan itu bukan sekadar arsitektur masa lalu yang dipertahankan untuk dilihat wisatawan. Di dalamnya, kehidupan terus berlangsung.
Di antara rumah-rumah beratap ilalang, kehidupan tidak pernah benar-benar berhenti. Ada tangan yang menenun, ada kopi yang ditumbuk, ada cenderamata yang ditawarkan kepada wisatawan, dan ada anak-anak yang tumbuh di rumah yang sama dengan tempat orang tua mereka bekerja mencari nafkah.
Karena itu, kehilangan rumah adat berarti lebih dari kehilangan tempat tinggal. Rumah-rumah tersebut adalah bagian dari ruang hidup masyarakat. Warisan leluhur seketika luluh lantak menjadi abu akibat kebakaran.
Harus diakui, pelestarian desa Sade tidak hanya berarti mempertahankan bentuk fisik bangunan tradisional. Ada pengetahuan tentang cara membangun rumah, keterampilan menenun, pola kehidupan masyarakat, tradisi, hingga adat istiadat yang hidup dan diwariskan di dalamnya. Semua itu merupakan bagian dari warisan budaya yang tidak selalu dapat dibangun kembali hanya dengan mengganti kayu, bambu, atau atap yang telah terbakar.
Usai kebakaran, bangunan desa adat Sade mungkin dapat didirikan kembali. Namun, kehilangan benda bersejarah, catatan lama, dan kenangan yang tersimpan di dalamnya tidak selalu dapat dipulihkan. Di situlah kebakaran desa Sade menjadi kehilangan yang melampaui angka.
Angka dapat mencatat 167 bangunan yang terbakar dan ratusan warga yang terdampak. Namun, angka tidak selalu mampu menggambarkan apa yang ikut hilang ketika sebuah rumah yang diwariskan turun-temurun berubah menjadi abu.
Desa Sade telah bertahan selama 15 generasi. Keberadaannya menjadi pengingat bahwa perkembangan pariwisata seharusnya dapat berjalan berdampingan dengan pelestarian budaya lokal.
Namun, kebakaran menunjukkan bahwa mempertahankan warisan tidak cukup hanya dengan menjaga keaslian bentuknya. Warisan juga harus dilindungi dari ancaman yang dapat menghilangkannya dalam satu malam.

Melindungi kembali
Setelah kebakaran, perhatian tentu tertuju pada pemulihan kehidupan warga. Rumah perlu dibangun kembali. Aktivitas ekonomi masyarakat perlu dipulihkan. Warga yang kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupan membutuhkan bantuan.
Namun, pemulihan desa Sade tidak seharusnya berhenti pada pembangunan kembali bangunan yang terbakar. Tragedi ini juga menjadi pengingat tentang pentingnya sistem perlindungan bagi kawasan yang menyimpan warisan budaya.
Upaya pencegahan dan kesiapsiagaan terhadap kebakaran perlu menjadi bagian dari pelestarian. Sistem deteksi dini, alarm kebakaran, ketersediaan titik air, akses bagi petugas pemadam, jalur evakuasi, serta kesiapsiagaan dan simulasi bagi warga menjadi hal yang perlu dipikirkan dalam proses pemulihan.
Tantangannya adalah bagaimana menghadirkan perlindungan tersebut tanpa menghilangkan identitas desa Sade. Pelestarian tidak selalu berarti membiarkan semuanya tetap seperti dahulu tanpa perubahan. Pelestarian juga berarti menyiapkan warisan untuk menghadapi ancaman hari ini.
Desa Sade mungkin akan dibangun kembali. Rumah-rumah adat yang hangus dapat kembali berdiri. Kehidupan masyarakat perlahan dapat kembali berjalan. Namun, kebakaran pada malam itu seharusnya meninggalkan pelajaran yang lebih panjang daripada bara api yang telah padam.
Setelah 15 generasi menjaga Desa Sade, kini tugas kita bukan hanya membangun kembali apa yang hilang. Tugas kita adalah memastikan generasi keenam belas masih memiliki Desa Sade untuk diwariskan.
Penulis : Ari Kusumawati

