Search
Close this search box.

Mobil Gowes Pangandaran Masih Diminati Wisatawan

Wisatawan menikmati mobil gowes saat wisata malam berkeliling di beberapa titik kota Pangandaran.

Pangandaran, SenayanTalks — Perkembangan wisata malam di Kabupaten Pangandaran membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha lokal, termasuk penyedia jasa mobil gowes. Namun, meningkatnya aktivitas wisata malam juga memunculkan persaingan dalam penggunaan ruang publik dan perebutan akses terhadap wisatawan.

Kondisi itu menjadi fokus penelitian Program Kreativitas Mahasiswa-Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) yang dilakukan pada Juni hingga Agustus 2026 di kawasan wisata Pangandaran. Penelitian tersebut mengkaji kontestasi ruang dan strategi resiliensi usaha informal mobil gowes dalam struktur night-time economy.

Penelitian berjudul “Kontestasi Ruang dan Model Resiliensi Usaha Informal dalam Struktur Night-Time Economy: Studi Kasus Mobil Gowes di Kawasan Wisata Pangandaran” ini dilakukan oleh tim peneliti yang terdiri atas Ikrar Nusa Bhakti, Vania Callista, Muhammad Faiz Alfarizi, Lindy Manuella, dan Zefanya Angela.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari PKM-RSH yang diselenggarakan dengan dukungan Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia.

Penelitian melibatkan sejumlah pemangku kepentingan, antara lain Dinas Pariwisata dan Budaya, pelaku usaha ATV dan mobil gowes, wisatawan, serta Paguyuban P2RWP.

Tim peneliti menemukan bahwa kontestasi ruang di kawasan wisata malam Pangandaran tidak semata-mata berupa perebutan lokasi usaha. Persaingan juga berkaitan dengan keterlihatan usaha di hadapan wisatawan, akses terhadap arus pengunjung, ruang operasional, peluang memperoleh konsumen, hingga kepastian lokasi usaha.

Kontestasi berlangsung dalam dua arah. Secara horizontal, persaingan terjadi di antara pelaku usaha informal, khususnya mobil gowes dan ATV. Secara vertikal, pelaku usaha berhadapan dengan kebijakan penataan kawasan yang dilakukan pemerintah.

Perbedaan modal, karakteristik usaha, sumber daya, dan akses terhadap lokasi strategis membuat posisi tawar masing-masing pelaku usaha tidak sepenuhnya seimbang.

Di sisi lain, pemerintah memiliki kepentingan untuk menata kawasan agar aktivitas usaha lebih teratur, mudah diakses wisatawan, serta tidak mengganggu kenyamanan dan estetika kawasan wisata.

Perwakilan Dinas Pariwisata dan Budaya mengatakan penataan diperlukan agar keberadaan sentra usaha lebih mudah diketahui wisatawan.

“Kita ingin menempatkan mereka, pertama biar wisatawan tahu sentra mereka itu di mana. Yang kedua juga biar rapi. Wisatawan nyaman, usahanya juga nyaman, keindahannya juga terjaga.”

Bagi pelaku usaha mobil gowes, penataan kawasan juga menyimpan kekhawatiran. Relokasi atau pembatasan lokasi dinilai dapat mengurangi akses mereka terhadap pelanggan yang sudah terbentuk.

“Yang dibutuhkan supaya lapak-lapak ini tetap bertahan di sini, jangan dipindahin, jangan direlokasi. Langganan-langganan kan susah nyari-nyarinya,” ujar Suparyono, pelaku usaha mobil gowes.

Mobil Gowes Masih Dipilih Wisatawan

Meski menghadapi persaingan ruang, hasil penelitian menunjukkan mobil gowes masih memiliki posisi tawar yang cukup kuat dalam ekosistem wisata malam Pangandaran.

Dari 67 responden wisatawan yang menjadi bagian penelitian, sebanyak 54 responden merupakan pengguna gabungan yang pernah menyewa mobil gowes dan ATV.

Dalam pengukuran nilai konsumen, dimensi Consumer Choice Behavior mencatat rata-rata tertinggi, yakni 16,43. Sementara itu, dimensi Functional Value memiliki rata-rata 15,97.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa mobil gowes masih memiliki daya pilih dan manfaat yang relevan bagi wisatawan.

Daya tarik mobil gowes antara lain berasal dari nilai hiburan, pengalaman komunal, daya tarik visual, unsur kebaruan, kemudahan ditemukan, serta citranya sebagai usaha lokal yang mendukung perekonomian masyarakat.

Namun, penelitian juga menunjukkan terdapat sejumlah faktor yang dapat memengaruhi keberlanjutan usaha. Salah satunya adalah kondisi situasional yang berkaitan dengan ruang dan kenyamanan operasional.

Dimensi Conditional Value menjadi aspek dengan nilai rata-rata paling rendah, yakni 12,03. Sementara itu, penilaian terhadap kondisi dan kelayakan armada berada pada rata-rata 3,86.

Adaptasi Usaha Mobil Gowes

Berdasarkan temuan tersebut, tim peneliti merumuskan model resiliensi usaha mobil gowes melalui enam bentuk adaptasi, yaitu adaptasi teknis, visual, pasar, ruang, sosial-ekonomi, dan kelembagaan.

Adaptasi teknis berkaitan dengan perawatan dan peremajaan armada. Langkah ini diperlukan untuk menjaga kondisi kendaraan sekaligus meningkatkan kenyamanan wisatawan.

Adaptasi visual dilakukan dengan memperkuat tampilan mobil gowes agar memiliki daya tarik yang mampu bersaing dengan aktivitas wisata lainnya.

Pada aspek pasar, pelaku usaha perlu memperkuat promosi dan melakukan diferensiasi produk. Strategi tersebut dinilai penting untuk mempertahankan minat wisatawan di tengah pilihan aktivitas wisata malam yang semakin beragam.

Sementara itu, adaptasi ruang berkaitan dengan kepastian lokasi usaha dan akses terhadap ruang yang memiliki arus wisatawan. Bagi pelaku mobil gowes, lokasi menjadi bagian penting dari keberlangsungan usaha karena berkaitan langsung dengan peluang memperoleh konsumen.

Adaptasi sosial-ekonomi diarahkan pada penguatan identitas mobil gowes sebagai bagian dari ekonomi kreatif dan ekonomi masyarakat lokal. Adapun adaptasi kelembagaan diwujudkan melalui peran paguyuban dalam koordinasi dan komunikasi dengan pemerintah.

Penelitian yang dilakukan Ikrar Nusa Bhakti, Vania Callista, Muhammad Faiz Alfarizi, Lindy Manuella, dan Zefanya Angela tersebut menggunakan metode mixed methods dengan pendekatan studi kasus dan desain exploratory sequential.

Penelitian diawali dengan pengumpulan dan analisis data kualitatif yang kemudian diperkuat dengan data kuantitatif. Tim melakukan observasi kawasan wisata, wawancara dengan pelaku usaha dan pemangku kepentingan, serta menyebarkan kuesioner kepada wisatawan.

Data tersebut digunakan untuk melihat bentuk persaingan ruang, karakteristik usaha, persepsi wisatawan, dan strategi pelaku mobil gowes dalam mempertahankan keberlangsungan usaha.

“Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman mengenai cara pelaku usaha informal lokal membangun resiliensi di tengah perkembangan night-time economy,” kata Galang Ikhwan Aji Sabda, dosen komunikasi PSDKU Universitas Padjajaran Pangandaran, yang menjadi pendamping penelitian PKM-RSH.

Temuan tersebut, lanjut Galang, dapat pula menjadi dasar bagi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam merumuskan pengelolaan wisata malam yang lebih adaptif, inklusif, dan berkelanjutan, dengan tetap mempertahankan ruang ekonomi bagi masyarakat lokal.

Baca juga :

Artikel Terkait

Berita Sebelumnya