Jakarta, SenayanTalks – Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin meminta pemerintah mengevaluasi secara menyeluruh pelaksanaan Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) dalam Program Sarjana Penggerak Pembangun Indonesia (SPPI) setelah tiga peserta dilaporkan meninggal dunia saat mengikuti pelatihan tersebut.
Menurut TB Hasanuddin, pelatihan bagi calon pengelola Koperasi Desa Merah Putih dan Koperasi Nelayan Merah Putih seharusnya lebih menitikberatkan pada peningkatan kemampuan manajerial dibandingkan latihan fisik berintensitas tinggi.
“Kalau memang peserta dipersiapkan untuk jabatan manajerial di Koperasi Desa, maka fokus utama sebaiknya diberikan pada pelatihan manajemen koperasi, penguatan kapasitas organisasi, dan pelatihan teknis yang relevan,” kata TB Hasanuddin dalam keterangan tertulisnya.
Purnawirawan Mayjen TNI itu menilai pelatihan militer cukup diberikan pada tingkat dasar dan terbatas. Menurut dia, materi tersebut dapat diarahkan untuk membangun disiplin, kekompakan, dan kebersamaan peserta.
Ia mencontohkan pelatihan dasar berupa baris-berbaris, apel, santiaji, serta senam pagi sebagai sarana membentuk kedisiplinan sekaligus menjaga kebugaran.
TB Hasanuddin juga menyoroti pentingnya pemeriksaan kesehatan yang ketat sebelum peserta mengikuti aktivitas fisik.
“Peserta harus lolos tes kesehatan terlebih dahulu. Pemeriksaan kesehatan harus dilakukan secara benar dan ketat oleh tim dokter. Jika proses skrining kesehatan tidak akurat, latihan dengan beban fisik tertentu dapat menimbulkan risiko yang fatal,” ujarnya.
Berdasarkan informasi yang beredar, tiga peserta SPPI yang meninggal dunia adalah Anisa Muyassaroh asal Balikpapan yang dilaporkan mengalami heat stroke dan henti jantung, Yonanda Muhammad Taufiq asal Baturaja yang disebut meninggal akibat cardiac arrest atau henti jantung, serta Novia Rahmadhani Sihotang dari Jakarta yang meninggal setelah menjalani perawatan akibat gangguan kesehatan yang dikaitkan dengan tuberkulosis (TBC).
TB Hasanuddin mengatakan peristiwa tersebut harus menjadi bahan evaluasi terhadap mekanisme seleksi kesehatan peserta, intensitas latihan, pengawasan medis selama kegiatan, hingga kesesuaian materi pelatihan dengan tugas yang akan dijalankan peserta setelah lulus.
“Keselamatan peserta harus menjadi prioritas utama. Program yang bertujuan membangun kapasitas sumber daya manusia tidak boleh mengorbankan aspek kesehatan dan keamanan peserta,” kata dia.
Program SPPI merupakan program yang menyiapkan sumber daya manusia untuk mendukung pembangunan nasional, termasuk sebagai calon pengelola Koperasi Desa Merah Putih dan Koperasi Nelayan Merah Putih. Kasus meninggalnya tiga peserta selama mengikuti Latsarmil memunculkan sorotan terhadap standar keselamatan dan relevansi materi pelatihan yang diterapkan.
Baca juga :



