Lewat panggung “Malam Kelima Belas”, tradisi, keluarga, dan luka tiga generasi membawa penonton kembali pada ingatan tentang Mei 1998.
Kisah bermula saat Papa Ming berdiri di hadapan penonton dan membuka cerita “Malam Kelima Belas”. Syam Ancoe Amar hadir sebagai Papa Ming, memperkenalkan dirinya sebagai penjual obat yang juga bisa meramal. Suasana terasa ringan. Penonton tertawa, sebelum perlahan dibawa pada cerita yang lebih gelap.
Papa Ming bukan hanya seorang penjual obat ia juga seorang suami, ayah, dan anak bagi ibunya di rumah. Di hadapan penonton, ia membacakan sajak untuk putrinya sekaligus untuk sebuah negeri yang perlahan ia hadirkan kembali melalui ingatan.
Cerita membawa penonton menuju Mei 1998, sebuah masa ketika Indonesia dilanda kerusuhan dan kekerasan yang meninggalkan luka bagi banyak orang, ketika ketakutan bahkan masuk ke ruang-ruang keluarga.
Papa Ming terdiam. Lampu perlahan meredup. Kemudian, beberapa sosok berkaus putih muncul membawa lampion. Mereka bergerak perlahan dalam cahaya panggung sebelum cerita beralih ke sebuah rumah. Kehadiran mereka terasa seperti bagian dari perayaan, meski menyimpan sesuatu yang belum terungkap.
Di sebuah dapur, tiga perempuan berkumpul. Me Lan sibuk menyiapkan Lontong Cap Go Meh, sementara Popo dan Yeni berada di dekatnya. Yeni diperankan langsung oleh Angelina Enny, sekaligus penulis naskah “Malam Kelima Belas”.
Di dalam rumah, kehidupan seolah tetap berjalan. Ada makanan yang harus disiapkan, ada meja makan yang harus ditata, dan ada seseorang yang mereka tunggu untuk pulang.
Sebelum perdebatan di meja makan itu, Popo berdiri di dekat jendela. Ia memandang ke luar sambil menyanyikan lagu “The Moon Represents My Heart” yang dipopulerkan Teresa Teng. Setelah itu, ia duduk dan meminta Me Lan menyalakan radio untuk mendengarkan berita tentang keadaan di luar rumah.
Setelah itu, ia duduk dan meminta Me Lan menyalakan radio untuk mendengarkan berita tentang keadaan di luar rumah. Suara radio membawa kabar tentang Indonesia yang tengah dilanda krisis dan demonstrasi mahasiswa.
Ketika Popo meminta Yeni menutup jendela, Yeni justru menyanyikan “Ambilkan Bulan, Bu” ciptaan A.T. Mahmud dan membacakan sajak “Bunga dan Tembok” karya Wiji Thukul.
Jendela yang tetap terbuka terasa seperti bentuk perlawanan Yeni terhadap sesuatu yang ingin dibatasi.
Malam itu, cahaya bulan terasa cukup terang. Cerita berlangsung pada malam ke-15 bulan ketujuh dalam penanggalan Tionghoa. Di tengah suasana rumah yang tampak tenang, perbedaan pandangan antara Popo, Me Lan, dan Yeni perlahan muncul di meja makan tentang tradisi, keluarga, perubahan zaman, dan ingatan tentang 1998
Sejarah tak sekadar angka
Bagi generasi yang tidak mengalami langsung Mei 1998, peristiwa itu mungkin hanya dikenal sebagai bagian dari sejarah. Namun, pementasan “Malam Kelima Belas” menghadirkannya melalui ketakutan, keluarga, dan ingatan tiga perempuan dari tiga generasi.
Rara dan Bagas yang menonton pementasan tersebut mengaku terkejut dengan akhir cerita yang tidak mereka duga. Keduanya merasa sedih setelah mengetahui kenyataan di balik tiga perempuan yang selama pertunjukan berada di dapur.
Sementara itu, bagi Erna, yang sudah mengetahui peristiwa tersebut, pementasan justru membuka sudut pandang lain tentang stereotip terhadap masyarakat Tionghoa.
Erna masih mengingat ucapan Popo, “Kalau Tionghoa kaya raya, mana mungkin kita kegelapan listrik padam. Kalau kaya raya pasti kita punya genset, tidak perlu kegelapan karena listrik padam.”
Sejarah pun tidak hanya hadir sebagai tragedi, tetapi juga melalui prasangka dan pengalaman yang membekas dalam kehidupan sebuah keluarga.
Kerusuhan pada 13-15 Mei 1998 terjadi di tengah akumulasi krisis politik, ekonomi, dan sosial yang memuncak saat itu. Dalam laporan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), kerusuhan tersebut mencakup sejumlah kejahatan, di antaranya penjarahan, pembakaran fasilitas publik dan properti warga, penculikan aktivis, serta kekerasan seksual terhadap perempuan, terutama yang berasal dari Etnis Tionghoa.
Namun, pementasan “Malam Kelima Belas” tidak membawa penonton untuk menghafal kembali rangkaian peristiwa tersebut. Pementasan justru memperlihatkan bagaimana ketakutan dan prasangka dari sebuah masa dapat masuk ke ruang keluarga dan meninggalkan jejak hingga generasi berikutnya.
Luka Berpindah Generasi
Di meja makan itu, suara Popo terasa paling dominan. Ia membawa cara pandang yang terbentuk dari tradisi yang harus dijaga, pengalaman yang membekas, dan kekhawatiran terhadap perubahan.
Pandangan itu beberapa kali berhadapan dengan Yeni. Alih-alih menerima begitu saja, Yeni memilih melawan dengan caranya sendiri. Ia beberapa kali merapalkan sajak sebagai jawaban atas pernyataan Popo. Lewat sajak-sajak itu, Yeni menyampaikan pertanyaannya sekaligus menyuarakan kritik terhadap ketidakadilan dan kebijakan pemerintah.
Di tengah keduanya, Me Lan mengambil posisi sebagai penengah. Ia memahami sikap Popo sekaligus memberi ruang bagi pertanyaan-pertanyaan Yeni. Ketika perdebatan mulai memanas, ia berusaha meredakannya dan menjaga agar keduanya tetap saling mendengar.
Bagi Erna yang menonton pementasan tersebut, ketiga karakter tersebut memperlihatkan perbedaan cara pandang antargenerasi. Generasi pertama tampak belum benar-benar berdamai dengan masa lalu, generasi kedua lebih mampu menerima perubahan zaman, sementara generasi ketiga tumbuh lebih kritis dan terbuka terhadap perubahan.

Lontong di tengah ingatan
Me Lan, salah satu karakter dalam pertunjukan “Malam Kelima Belas” yang diperankan oleh Putri Ayudya, melihat hidangan yang tersaji bukan sekadar makanan. Ada hubungan yang lebih luas antara manusia, makanan, dan alam.
“Hidangan ini membuat kita ingat kalau kita adalah bagian dari alam,” ujar Me Lan saat pementasan.
Sita Nursanti, yang memerankan karakter Popo, melihat makna yang lebih besar dari hidangan tersebut. Baginya, Lontong Cap Go Meh menjadi gambaran tentang keberagaman Indonesia yang dapat hadir dalam satu kesatuan.
“Lontong Cap Go Meh itu menurutku menjadi simbolisasi bahwa inilah Indonesia sebenarnya. Di sana ada macam-macam, ada banyak sekali, tetapi menjadi satu kesatuan makanan,” kata Sita.
Menurut Sita, kisah semacam ini penting untuk terus dipentaskan. Bukan hanya untuk mengingat masa lalu, tetapi juga untuk mengingat pentingnya kebersamaan.
“Kita masih bersama untuk merayakan keberagaman dan mengingat leluhur tanpa melupakan tradisi,” kata Sita.
“Malam Kelima Belas” dipentaskan di Galeri Indonesia Kaya pada 30 Agustus 2026 sekaligus menjadi bagian dari perayaan 10 tahun perjalanan Teater Kedai, yang lahir dari kelas akting Salihara pada 2015. Pementasan ini juga bertepatan dengan perayaan Hungry Ghost Festival.
Bagi generasi yang tidak mengalami 1998, “Malam Kelima Belas” menghadirkan sejarah bukan melalui deretan angka, melainkan lewat kisah sebuah keluarga.
Bukan untuk mengulang luka, melainkan agar luka itu tidak hilang dari ingatan dan sejarah tetap dipelajari.
Penulis : Ari Kusumawati



