Search
Close this search box.

Perpustakaan Nyi Ageng Serang, Ruang Berhenti Sejenak di Tengah Jakarta

Jakarta selalu punya cara untuk membuat orang merasa harus terus bergerak. Pagi hari diisi langkah kaki yang tergesa, suara kendaraan yang bersahutan, kereta yang datang dan pergi, serta orang-orang yang berjalan dengan tujuan masing-masing. Di tengah ritme kota yang nyaris tidak mengenal jeda itu, ada sebuah tempat yang menawarkan pengalaman berbeda.

Di lantai 7 dan 8 Gedung Nyi Ageng Serang, Jalan H.R. Rasuna Said Kav. C-22, Karet Kuningan, Setiabudi, berdiri Perpustakaan Nyi Ageng Serang. Tempat ini bukan hanya ruang untuk membaca buku. Ia juga menjadi ruang untuk belajar, bekerja, mencari referensi, berdiskusi, atau sekadar duduk dan menikmati waktu tanpa harus terburu-buru.

Perjalanan menuju tempat itu pun terasa seperti sebuah jeda kecil dari rutinitas Jakarta.

Dari Stasiun Sudirman, perjalanan dapat dilanjutkan menuju kawasan Rasuna Said dengan menggunakan LRT dari kawasan integrasi Dukuh Atas menuju Stasiun Rasuna Said. Dari stasiun, Gedung Nyi Ageng Serang dapat ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 400 meter.

Tidak terlalu jauh, memang. Namun, berjalan kaki di tengah kawasan perkantoran Jakarta memberikan pengalaman tersendiri. Jalan, persimpangan, gedung-gedung tinggi, dan lalu lintas yang sebelumnya begitu akrab dengan keseharian warga kota perlahan mengantarkan langkah menuju sebuah ruang yang suasananya jauh lebih tenang.

Begitu memasuki Perpustakaan Nyi Ageng Serang, perubahan suasana itu terasa. Hiruk-pikuk yang tertinggal di luar seolah berganti dengan suara halaman buku yang dibuka, percakapan pelan, dan aktivitas pengunjung yang sibuk dengan urusannya masing-masing.

Rak-rak buku memenuhi ruang. Di antara meja dan area baca, beberapa pengunjung terlihat membawa laptop dan buku catatan. Ada yang sedang belajar, menyelesaikan pekerjaan, mencari bahan referensi, atau mungkin hanya mencari tempat yang nyaman untuk menghabiskan beberapa jam.

Perpustakaan ini memiliki koleksi buku dan bahan pustaka dalam jumlah besar, sekitar 20.000 hingga 55.000 eksemplar. Namun, jumlah koleksi bukan satu-satunya alasan mengapa tempat ini menarik untuk dikunjungi.

Ada sesuatu yang membuat perpustakaan ini terasa lebih dekat dengan kebutuhan kehidupan urban. Pengunjung dapat memilih tempat duduk di area baca yang dilengkapi colokan listrik. Wi-Fi gratis tersedia bagi mereka yang ingin bekerja atau belajar menggunakan laptop. Ada pula bilik diskusi bagi pengunjung yang membutuhkan ruang yang lebih privat.

Bagi yang ingin mencari buku tertentu, tersedia kios katalog digital. Sementara itu, area serambi dan ruang belajar atau kerja memberikan pilihan lain bagi mereka yang ingin menghabiskan waktu dengan suasana yang berbeda.

Pada titik ini, perpustakaan terasa bukan lagi sekadar tempat untuk datang, mencari buku, membaca, lalu pulang. Ia berubah menjadi ruang publik yang memberi kesempatan kepada orang untuk menentukan sendiri bagaimana ingin menghabiskan waktunya.

Mungkin seseorang datang untuk membaca satu buku, tetapi kemudian bertahan lebih lama karena suasananya nyaman. Orang lain datang membawa laptop untuk menyelesaikan pekerjaan, sementara di meja sebelah seseorang sedang belajar. Ada pula yang mungkin tidak memiliki agenda khusus selain mencari tempat untuk duduk dan mengambil napas dari kesibukan kota.

Menariknya, kesempatan untuk menikmati ruang tersebut tidak berhenti ketika sore berganti malam. Perpustakaan Nyi Ageng Serang buka setiap hari pukul 09.00 hingga 22.00 WIB. Khusus Jumat, layanan check-in ditutup sementara pada pukul 11.30 hingga 13.00 WIB. Perpustakaan tutup pada hari libur nasional dan cuti bersama.

Jam operasional hingga malam membuat tempat ini cukup fleksibel untuk dikunjungi setelah kuliah atau bekerja. Ketika sebagian aktivitas kota mulai mereda, perpustakaan justru masih membuka pintunya bagi mereka yang membutuhkan ruang untuk membaca, belajar, bekerja, atau sekadar mencari suasana baru.

Bahkan, pengalaman di dalamnya tidak hanya berkaitan dengan buku.

Pengunjung dapat memasang headphone dan menikmati koleksi vinyl. Di tengah perkembangan teknologi digital yang membuat musik dapat didengarkan hanya dengan beberapa sentuhan pada layar, pengalaman mendengarkan vinyl melalui headphone menghadirkan sensasi yang berbeda—lebih klasik, lebih personal, dan sedikit nostalgik.

Ada pula area museum yang dapat menjadi bagian dari perjalanan di dalam gedung. Setelah membaca atau menyelesaikan pekerjaan, pengunjung dapat melanjutkan waktu dengan menjelajahi ruang-ruang lain yang tersedia.

Fasilitas penunjangnya juga cukup lengkap, mulai dari food court, ruang menyusui, toilet, area wudhu, hingga mushola. Kehadiran fasilitas tersebut membuat perpustakaan terasa seperti ruang yang dirancang bukan hanya untuk kebutuhan membaca, tetapi juga untuk menemani pengunjung menghabiskan waktu lebih lama dengan nyaman.

Perjalanan dari Stasiun Sudirman menuju Perpustakaan Nyi Ageng Serang mungkin membutuhkan beberapa kali perpindahan dan sedikit langkah kaki. Namun, perjalanan itu seperti mengantarkan kita dari satu suasana ke suasana lain: dari Jakarta yang sibuk menuju ruang yang memberi kesempatan untuk memperlambat langkah.

Di tempat ini, tidak ada tuntutan untuk selalu bergerak cepat. Ada kursi untuk diduduki, buku untuk dibuka, ruang untuk belajar, pekerjaan yang bisa diselesaikan, musik yang dapat dinikmati, dan waktu yang dapat digunakan tanpa tergesa-gesa.

Barangkali, itulah daya tarik sederhana Perpustakaan Nyi Ageng Serang.

Di kota yang terus berjalan, sesekali kita memang membutuhkan tempat untuk berhenti. Tidak harus pergi jauh. Tidak harus mencari tempat yang mewah. Kadang, kita hanya perlu turun di stasiun yang tepat, berjalan sedikit lebih jauh, memasuki sebuah gedung, lalu membuka halaman berikutnya.

Penulis : Ari Kusumawati

Artikel Terkait

Berita Sebelumnya